Lima tahun lalu, orang-orang bersiap kiamat seiring ramalan Suku Maya yang menyebutkan dunia  akan berakhir pada 121212, alias 12 Desember 2012. Lalu dahulu sebelum orang sangat intens mengganti nomor  ponselnya demi layanan paket data termurah, nomor cantik harganya bisa selalngit. Dalam matematika, nomor-nomor itu menunjukkan pola, dan pola adalah keindahan.  Sedangkan semua suka keindahan, maka jadilah pola nomor menjadi perhatian khusus.

Belakangan ini, demonstrasi juga mulai menggunakan nomor cantik. Dalam kurang dari enam bulan terakhir ini saja, beberapa demonstrasi yang dilakukan di Jakarta menggunakannya. Sebutlah 411, 2511, 412, 2512, dan kini 313. Semua demo-demo itu tak lepas dari kostelasi politik di Jakarta.

Semua demo bernomor cantik itu menyuarakan hal yang serupa : Ahok dan penistaan agama yang dilakukannya. Terus begitu mulai dari menuntut Ahok menjadi tersangka hingga yang terbaru hari ini, menuntut Ahok dilengserkan dari jabatannya seiring status hukumnya.

Seperti diberitakan Kompas.com, ada tiga tuntutan yang disampaikan demonstran. Pertama, meminta pemerintah menghentikan upaya kriminalisasi terhadap para ulama. Kedua, meminta Presiden Joko Widodo bertemu dengan perwakilan massa aksi. Lalu ketiga, meminta Presiden Joko Widodo untuk segera memberhentikan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari jabatan Gubernur DKI Jakarta karena menjadi terdakwa kasus dugaan penistaan agama.

Tuntutan kedua dan ketiga dalam demo itu sudah dapat diduga sebelumnya. Itu adalah tuntutan-tuntutan yang sama dengan yang demo-demo sebelumnya. Karena opini publik yang berkembang adalah adanya kedekatan antara Presiden Jokowi dan Ahok. Maka tidak salah jika tuntutan itu diajukan kepada Presiden.

Sedangkan jumlah massa yang berkumpul di setiap demo justru diluar ekspektasi banyak orang. Dari awalnya yang diperkirakan hanya diikuti segelintir orang, puluhan hingga ratusan ribu orang justru memadati Monas setiap demonstrasi berlangsung. Pun demikian dengan demonstrasi 313 kali ini.

Meskipun dalam pernyataannya di Tribunnews Wiranto menyebutkan bahwa jumlah peserta aksi tidak sebanyak yang diperkirakan, namun itu tidak bisa menutupi fakta bahwa Pemerintah Pusat menganggap serius aksi ini. Terlebih Pemilihan Gubernur Jakarta segera memasuki babak baru putaran kedua.

Dari pengalaman-pengalaman demo serupa yang terjadi sebelumnya, jumlah massa yang terkumpul terbukti berhasil memberi dampak pada stabilitas pemerintahan. Maka pemerintah beranggapan perlu melakukan tindakan terhadap demo kali ini.

Tindakan yang diambil pemerintah kali ini sebenarnya sangat serupa dengan yang dilakukan menjelang berlangsungnya demo 212. Pentolan-pentolan massa “diciduk” sebelum demo berlangsung dengan tuduhan makar. Menjelang 212 nama-nama yang diciduk meliputi Rachmawati, Kivlan Zen, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, dan Firza Husain. Sedangkan menjelang demo 313 hanya satu nama yang diciduk aparat, yakni  Muhammad Al Khathath.

Hal inilah yang barangkali meminculkan tuntutan para demostran kepada pemerintah untuk menghentikan kriminalisasi terhadap ulama. Meskipun selain diciduknya Al Khathath, beberapa ulama lain telah memperoleh perlakuan serupa. Isu kriminalisasi terhadap ulama ini sebenarnya sudah mulai mencuat setelah demo 212 berlangsung. Hanya saja, permasalahan Al Khathath tentu masih melekat di ingatan para demonstran siang tadi.

Jika melihat dari pola itu, kesamaan antara 212 dan 313 terletak pada adanya orang yang dijemput aparat sebelum demo berlangsung. Dan mereka berasal dari macam-macam golongan, mulai militer, aktivis, akademisi, hingga ulama. Ideologi yang mereka anut juga bermacam-macam. Namun satu hal yang menyatukan mereka, yakni sama-sama menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Konsolidasi Nasional Mahasiswa dan Pemuda Islam I.