Gubernur DKI Jakarta yang sekarang sedang cuti yakni Basuki Tjahja Purnama atau sering dikenal dengan nama Ahok adalah sosok yang fenomenal.  Nama ahok sering muncul di media tatkala dia selalu menjadi sorotan publik Jakarta. Media sering memberitakan Ahok dengan segala sikap, ucapan, maupun kesehariannya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ada beberapa kasus yang mencatat Ahok untuk digoyahkan sebagai sosok yang tegas namun kontroversial. Mulai dari kasus penyalahgunaan pengadaan UPS (Uninterruptible Power Supply),Rumah Sakit Sumber Waras dan yang terakhir kasus dugaan penistaan agama.

Kita mulai dari kasus penyalahan pengadaan UPS. Kasus ini berawal dari pengadaan UPS untuk sekolah-sekolah di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat yang menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja dan Daerah) DKI Jakarta tahun 2014. Ahok  diperiksa kala itu sebagai saksi dalam kasus ini. Sikap Ahok tegas dalam kasus ini bahwa orang yang melakukan korupsi untuk pelaku korupsi harus dimiskinkan. Kasus penyalahgunaan pengadaan UPS menjerat tiga tersangka yakni Dirut PT Offistarindo Adhiprima, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat, dan Kepala Seksi Sarana dan Prasaran Suku Dinas Pendidikan Jakarta Menengah Jakarta Pusat. Negara mengalami kerugian dari kasus ini diperkirakan RP 81 milyar lebih.

Kemudian Ahok kembali menjadi buah bibir warga Jakarta dari kasus Rumah Sakit Sumber Waras. Ahok beberapa kali dipanggil oleh KPK saat penyelidikan kasus RS Sumber Waras. Ahok beranggapan bahwa pembelian RS Sumber Waras tidak ada korupsi. Pembelian RS Sumber Waras yang dianggap ada dugaan korupsi terjadi adanya silang pendapat di antara BPK dan Pemprov DKI Jakarta. BPK dalam auditnya mengatakan tanah Sumber Waras yang berada di Jalan Tomang Utara nilai jualnya Rp 7 juta. Sedangkan Pemprov yang dipimpin oleh Ahok memakai harga tanah Rp 20 juta sesuai dengan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) lahan di Jalan Kyai Tapa. Akhirnya, pembelian lahan untuk RS Sumber Waras KPK menyebutkan bahwa penyidik KPK ‘tidak menemukan’ perbuatan melawan hukum dalam kasus pembelian lahan milik RS Sumber Waras oleh Pemprov DKI Jakarta.

Selanjutnya, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Kasus ini bermula dari pernyataan Ahok mengenai Surat Al-Maidah ayat 51 yang diunggah oleh Buni Yani di salah satu media social yakni Facebook. Unggahan ini menjadi viral bagi masyarakat Indonesia. Beberapa warga Indonesia ‘mengutuk’ Ahok sebagai penista Agama. Padahal, Ahok juga menjelaskan bahwa video tersebut bukan original melainkan sudah diedit. Tetapi, tetap saja umat islam Indonesia menyikapi pro dan kontra. Hal ini yang menjadi embrio gerakan umat islam untuk mengadakan aksi. Aksi yang disebut sebagai aksi bela islam. Kini Ahok pun menjadi tersangka dan sedang dalam proses persidangan. Dampak dari kasus ini pun sangat merugikan Ahok. Ahok sedang dalam masa kampanye untuk Pilkada DKI Jakarta periode 2017-2022.

Ahok sosok yang kontroversial ini memang menyita perhatian publik. Keinginannya untuk maju di Pilakada DKI Jakarta kini semakin menurun peluangnya. Elektabilitasnya pun kian merosot. Beberapa lembaga survey merilis seperti Litbang Kompas, elektabilitas Ahok yang berpasangan dengan Djarot menduduki peringkat kedua dengan 33 persen. Kemudian di atasnya ada Agus-Sylvi 37,1 persen dan dibawah Ahok-Djarot yakni Anies- Sandi 19,5 persen. Walaupun elektabilitas Ahok turun tidak dapat dijadikan acuan karna dalam politik apa saja bisa terjadi. Tetapi, jika memang elektabilitas Ahok terus turun dan menggerus dukungan kepada Ahok ya sudahlah. Artinya keikutsertaan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta akan menjadi sia-sia. Ahok diserang dari berbagai macam kasus-kasus yang menimpanya. Kasus yang sangat berpengaruh pada elektabilitas Ahok yakni dugaan penistaan agama. Upaya-upaya menjatuhkan elektabilitas Ahok memang tinggi. Mulai dari kasus UPS, RS Sumber Waras, dan dugaan penistaan agama. Pada akhirnya kasus penistaan agama yang berdampak besar bagi karir politik Ahok.

Ya sudahlah…

Mungkin kata itu yang tepat bagi Ahok yang sedang mengikuti keikutsertaannya dalam Pilkada DKI Jakarta

Sumber Foto : Istimewa