Kemarin (23/5) telah dilaksanakan konferensi pers oleh keluarga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta sekaligus terpidana kasus penodaan agama yang saat ini sedang mendekam di Rutan Mako Brimob, Depok. Melalui konferensi pers itu, disampaikan alasan Ahok mencabut banding atas kasus yang menjeratnya itu. Ketiga alasan tersebut disampaikan dalam sebuah surat yang ditulis oleh Ahok sendiri di dalam ruang tahanan, dan dibacakan oleh Veronica Tan, istrinya, pada saat konferensi pers.

Ketika membaca surat tersebut, Veronica tak kuasa menahan tangis. Ia sempat terhenti beberapa saat karena tangisnya tak terbendung. Surat yang ditulis oleh Ahok itu, di bagian awalnya berisi ucapan terima kasihnya atas segala bentuk dukungan dari para pendukungnya yang berbentuk karangan bunga, kiriman surat, makanan, buku-buku, hingga aksi solidaritas menyalakan lilin beberapa waktu lalu, setelah putusan hakim dijatuhkan dan ia ditahan.

Kemudian di bagian selanjutnya ia menyampaikan alasan mengapa bandingnya ia cabut. Pertama, karena ia tak ingin aksi-aksi yang dilakukan pendukungnya maupun yang kontra dengannya akan menyebabkan kemacetan di Jakarta dan menimbulkan kerugian ekonomis. Kedua, ia tak ingin aksi-aksi itu ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan lain. Ketiga, ia tak ingin terjadi bentrok antara pihak pendukungnya dan pihak yang kontra dengannya. Lalu ia menutup surat itu dengan kutipan ayat dari Mazmur.

Surat Ahok dan air mata Veronica mendapatkan banyak sorotan di media kemarin, dan diperkirakan akan masih demikian beberapa hari ke depan. Sejumlah pihak, baik kalangan umum sampai para selebriti juga menyampaikan dukungan kepada Ahok dan Veronica di media sosial, termasuk Djarot Saiful Hidayat, Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta yang telah mendampingi Ahok sebagai wakil gubernur dan sebagai pasangannya dalam kontestasi Pilkada DKI lalu.

Entah bagaimana perasaan Ahok yang sesungguhnya, atau apa yang sungguh-sungguh dipikirkannya ketika ia sedang menulis surat itu di dalam ruang tahanan. Meski sikap ini banyak dipuji dan didukung pada akhirnya, tak bisa diketahui dengan pasti, apa yang sedang berkecamuk dalam hati atau pikiran Ahok. Apakah ia hanya akan pasrah menghadapi cobaan berat ini, apakah ia benar-benar sedang bersedih dan khawatir akan imbas dari reaksi publik akan kondisi sos-eko-pol di Jakarta, atau ia sedang memikirkan siasat baru untuk menguatkan kembali posisinya, atau sedang melakukan semuanya secara bersamaan?

Yang jelas, apapun yang melatarbelakangi Ahok dalam menuliskan surat itu, air mata Veronica tidak berbohong. Ini adalah cobaan berat baginya dan keluarganya. Ketika suami, yang selalu ia dukung, ia rawat, dan tetap ia percayai sepenuh hati walau saat segala tantangan dan kesulitan menerpa, seseorang yang dengannya telah membangun keluarga dan merawat anak-anak bersama, harus menerima hukuman yang sedemikian rupa, pasti itu akan menjadi hantaman berat bagi dirinya.

Veronica yang selama ini selalu tampak tenang dan tak banyak berkomentar di hadapan media, ketika suaminya harus menghadapi situasi seperti ini, tentu akan mengalami puncak emosional di saat-saat tertentu dan harus menahannya sesering mungkin. Lalu ketika ia membacakan surat itu, mungkin saat itulah ia tak dapat menahannya lagi. Perasaannya mungkin campur aduk, antara sedih, marah, lelah, haru dan berterima kasih atas segala dukungan yang hingga saat ini masih diterimanya dan suaminya saat ini, sekaligus tak sampai hati kepada suaminya yang malang itu.

Walau sekarang adalah saat-saat di mana netralitas media tidak bisa sepenuhnya kita percayai lagi, apa yang tampak di layar kaca hari ini, yakni ketika Veronica meneteskan air mata, hal itu merupakan salah satu pemandangan yang cukup akan diingat oleh masyarakat Indonesia selama beberapa bulan, bahkan beberapa tahun ke depan. Kita telah melihat seorang istri yang tak lelah memberikan dukungan kepada suaminya, yang justru karena mulut tajamnya itu, Veronica dan anak-anaknya telah turut menjadi korban. Seorang istri yang menahan beban berat, karena kini suaminya, yang betul-betul ia pahami dan ia banggakan, harus mendekam di balik jeruji, seperti seorang penjahat.

Nasib Ahok ke depan memang belum dapat sepenuhnya diprediksi saat ini. Bisa saja ia bebas sebelum dua tahun, bahkan sebelum satu tahun, karena alasan-alasan tertentu. Bisa saja ia tetap harus benar-benar menjalani hukuman penjara selama dua tahun sesuai putusan hakim. Namun, Veronica beserta anak-anaknya, juga ibu mertuanya, orang-orang yang selama ini paling memahami Ahok dan mendukung Ahok tanpa syarat apapun, akan menjalani saat-saat terberat dalam hidup mereka setidaknya selama satu tahun ke depan. Veronica-lah, seorang wanita dan istri yang harus berkorban, demi pelajaran baru yang harus diambil dari pelaksanaan demokrasi, penegakan hukum, dan toleransi di negeri ini.