Kamu pasti pernah melemparkan candaan nakal ke teman kamu. Kalau lupa, coba diingat-ingat dulu. Nah, ada yang tertawa, senyum manis, bahkan ada yang sampai marah sambil nendang tiang telepon. Tiba-tiba suasana jadi kacau. Padahal sebenarnya kita sedang bercanda.

“Hee kutu busuk, buruan bangun”

“Aku tahu kamarku ga sebagus kamarmu, tapi aku ya tetap bersihin kasur tiap malam!”

“??? Hehe… marah. Ampun kak ampun, jangan di smackdown”

“Iya mentang2 aku gendut kamu takut aku smackdown”

Maksud cerita di atas sebenarnya kamu ingin mengajak temanmu untuk berjalan-jalan keluar. Nah, sekarang jam sebelas siang, dan kamu tahu kebiasaannya bangun telat, molor terus dari subuh sampai maghrib. Alhasil untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.

She’s an easily butthurt. Kamu sebaiknya juga tidak perlu memikirkan sampai ke relung hatimu yang paling dalam. Orang yang mempunyai kepribadian easily butthurt sering mengartikan sesuatu hal dengan berlebihan.

Easily butthurt merupakan istilah yang muncul dua tahun belakangan untuk orang-orang yang suka menanggapi dengan serius sebuah candaan (joke). Kamus Oxford sendiri memasukkan butthurt sebagai kata sifat, yang berarti tersinggung atau marah secara berlebihan atau tidak dibenarkan.

Memang joke sendiri tidak selamanya membuat orang tertawa, di luar itu terkadang dapat juga membuat orang merasa terhina. Kamu harus berbesar hati ketika mengetahui teman kamu mempunyai tipikal hidup seperti ini. Hidup di dunia yang fana ini merupakan sebuah kutukan yang sering menjatuhkannya ke dalam lubang penderitaan.

Jika mengamati hubungan sosial kita sekarang, agaknya fenomena easily butthurt ini sering ditemukan di sana-sini. Terutama hal yang dibincangkan itu menyinggung politik atau agama.

Di perguruan tinggi pun, ternyata kita dapat menemukan contohnya. Akhir September tahun lalu, sepucuk surat terbuka dengan bahasa satir dituliskan kepada Wakil Rektor 3. Sangat, sangat, sangat satir sekali. Kamu dapat melihat surat terbuka itu di laman ini.

Beliau yang membaca merasa teriris perih bagai disambar petir di siang bolong. Tanpa timbang sana-sini, dengan tega beliau mengancam mahasiswa tadi untuk angkat kaki dari kampus. Sudah gawat, ya!

Sekadar mengingatkan, easily butthurt akan sangat mudah menjangkit kepada pujangga yang patah hati. Jangan pernah atau sebisa mungkin hindari menyampaikan joke yang justru bermaksud merendahkan atau menyalahkannya.

Kenapa? Karena orang easily butthurt selalu mengutamakan perasaannya ketimbang rasional dalam menghadapi sesuatu. Bapak psikologi Freud pernah mengatakan bahwa orang akan mempertahankan diri secara mental dari pikiran mengganggu yang dapat menimbulkan kecemasan. Orang mengembangkan mekanisme pertahanan diri terhadap kecemasan.

Salah satu mekanisme tadi adalah proyeksi. Kita akan memproyeksikan orang lain sesuai dengan apa yang ada di dalam ubun-ubun kepala kita. Jadi, ketika kamu menyampaikan rasa empati, kamu harus berbesar hati manakala dia justru mengatakan kamu sebagai seorang pendusta yang berpura-pura empati, yang dalam hati sebenarnya sedang nyinyir dan bersyukur atas penderitaannya.

Seberapa kuat kamu menjelaskan bahwa tuduhannya salah, eh percuma. Dia memaksa kita untuk mengakui sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan sama sekali. “Kalian semua suci, aku yang penuh dosa.”