Di penghujung 2016 Oxford Dictionary telah menahbiskan kata post-truth sebagai Word of the Year 2016. Hal itu dilakukan karena penggunaan kata post-truth yang mendadak populer utamanya dalam ranah politik di tahun tersebut, dari adanya Brexit di Kerajaan Inggris hingga pemilihan presiden di Amerika Serikat.
Data Oxford English Corpus, yang mengumpulkan lebih dari 150 juta kata berbahasa Inggris –baik lisan maupun tulisan– setiap bulannya, menunjukkan bahwa pada tahun 2016 penggunaan kata post-truth melonjak hingga 2000% dari tahun sebelumnya. Lalu sebenarnya, apa itu post-truth?

Bahasa Indonesia belum memiliki padanan kata untuk post-truth. Sesuai definisi Oxford Dictionary, post-truth adalah kata sifat yang “merujuk pada keadaan dimana fakta objektif kurang dapat berpengaruh pada pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.”

Gampangnya, seseorang kini dapat merasa benar dengan mudahnya karena dia percaya sesuatu itu benar, tanpa ada kejelasan fakta di dalamnya; I believe therefore i’m right!

Yang membuat unik adalah, setiap kita mengetikkan kata post-truth pada mesin pencarian di Internet akan muncul satu tokoh yang paling banyak dikritik semenjak dirinya menceburkan diri pada lingkaran politik Amerika Serikat. Dialah Donald Trump.

The Economist bahkan menyebut presiden ini sebagai salah satu lord of the lies saking kerapnya Donald Trump menyebarkan berita bohong kepada publik. Naasnya banyak yang mempercayai hal tersebut hingga mengantarkan Trump menjadi Presiden Amerika Serikat. Kemenangannya bak sebuah drama politik tragikomedik bagi Amerika, menyedihkan sekaligus komedik.

Menyedihkan karena Trump dinilai tak pantas dijadikan sebagai pemimpin; menyebut Barack Obama sebagai pendiri ISIS, George Bush sebagai biang kerok atas tragedi 9/11, dan menuduh keluarga Clinton sebagai keluarga para pembunuh, adakah yang lebih buruk dari gaya politik emosional ini? Trump menyulut kebencian dan ketakutan guna memenangkan dirinya. Namun ia sekaligus komedik, bahkan Amerika Serikat yang, katanya, adi-kuasa ini dapat dengan mudahnya tertipu gombalan Trump.

George Orwell, dalam 1984, telah jauh meramalkan gaya berpolitik semacam ini, ketika para penguasa memainkan kebohongan demi kepentingan politiknya sendiri. Cerita Orwell yang mengkritik kekuasaan Uni-Soviet itu kini kembali relevan.

Tapi Trump tidaklah sendirian, salah satu anggota pemerintahan Polandia pun pernah memberitakan bahwa presiden sebelumnya, yang meninggal karena kecelakaan pesawat, mati dibunuh oleh antek Rusia. Politisi Turki juga mengklaim bahwa percobaan pembunuhan yang diarahkan kepada Presiden Recep Tayyib Erdogan adalah perintah CIA.

Beginilah politik post-truth, ketika para politisi mempermainkan kebohongan, disusul dengan pemberitaan media yang berat sebelah dan cepatnya arus media sosial memberitakan berita bohong ini, maka tak heran banyak orang termakan berita hoax  semacam ini.

Muak dengan politik, masih ada saja berita-berita post-truth lainnya. Mereka yang ngotot menganggap bumi itu datar dapat dengan mudahnya beralasan, “Di dalam kitab suci bumi dideskripsikan sebagai hamparan, bukan bulatan” duh! Boleh saja orang-orang berteori mengenai flat-earth, tapi tolong, rasionalisasinya!

Barangkali kebohongan yang telah bertebaran ini adalah sebuah kebenaran, jika kita percaya. Tapi, memangnya kebenaran itu benar adanya? Kebenaran hanyalah sebentuk kekeliruan yang dibenarkan, begitu kata Nietzsche.