Diawali dengan kunjungan ke bulan, sekarang kita sedang menunggu berpindah ke Mars. Bukan sekadar isapan jempol, NASA telah merancang strategi untuk mempelajari, berharap ada peluang untuk manusia dapat bertahan hidup.

Penjelajahan Mars adalah sesuatu yang menarik mengingat NASA dan beberapa lembaga antariksa lain seperti SpaceX sudah memberi target waktu. NASA sendiri, rencananya, akan mendaratkan manusia pada 2030 mendatang.

NASA tentu menghitung matang sebab Mars nyatanya dapat menyurutkan hasrat. Dikabarkan bahwa ‘bintang api’ berselimut cuaca dengan tingkat ekstrem, tanah-tanah gersang, dan bahaya radiasi apabila manusia tetap ngotot menancapkan bendera hidupnya di sini.

Terutama jarak yang harus ditempuh manusia terbilang tidak mungkin dijelajah dalam waktu dekat. Perkiraan, dengan menggunakan garis lurus, jarak terdekat Bumi dan Mars 54,6 juta kilometer, dengan rata-rata 225 juta kilometer.

Tidak perlu membayangkan berapa lama waktu yang harus ditempuh seseorang agar mencapai daratan merah tersebut.

Tapi karena minat tinggi, bapak-bapak ilmuwan menemukan secuil kemungkinan kehidupan. Dilansir dari nationalgeographic.co.id (9/7) Thomas Bristow dari NASA meneliti kandungan karbonat-penanda adanya CO2- pada batuan berusia 3,5 miliar tahun. Ini merupakan masa transisi Mars dari basah ke kering.

Bristow memanfaatkan data analisis kimia yang dilakukan wahana antariksa Cueiosity. Batu berasal dari area mars dari Kawah Gale. Di sana, banyak ditemukan fitur tanah yang dipercaya terbentuk karena aliran air.

Analisis tersebut memunculkan pertanyaan, bagaimana mungkin air dapat berada di Mars? Tekanan atmosfir di sana lebih kecil dari atmosfir bumi. Seandainya air itu ada, sulit untuk air dapat mengalir di permukaannya.

Air dapat berada di suatu planet dengan suhu panas. Misalnya bumi dapat menerima suhu panas sebab jaraknya dekat dengan matahari. Keadaan ini yang memungkinkan keberadaan air di bumi.

Upaya penjelajahan planet tersebut, akhirnya meletakkan optimis dan pesimis di antara benang tipis. Apalagi NASA dan beberapa lembaga antariksa lainnya tengah bertaruh dengan nilai investasi tinggi.

Belum ada catatan pasti, sejarah dan literatur yang mendukung cerita kehidupan di luar bumi. Ini merupakan penjelajahan pertama sebagai sejarah baru umat manusia.

Dalam ketidakpastian ini, wajar apabila terselip sebuah spekulasi. Tidak perlu berlebihan seandainya beberapa orang melihat bahwa lembaga antariksa tengah melakukan rekayasa. Perjalanan jauh tersebut tidak ubahnya cerita besar yang mirip dongeng anak kecil. Anda dapat menemukan beberapa laporan yang menyebut kebohongan yang dilakukan lembaga tersebut.

Aneh tapi nyata, sebab memang kita sedang meraba-raba sesuatu yang indah dengan harga mahal. Hal yang berlawanan ketika menceritakan bencana kelaparan di negara Afrika, kaum pinggir kota yang susah mendapatkan akses air bersih dan sanitasi. Keadaan yang benar-benar ada dan terjadi di sekitar kita.

Namun, tidak tepat kedua fenomena tersebut dibandingkan  karena kita juga harus mengakui bahwa penjelajahan ke Mars merupakan bagian dari misi kemanusiaan.

Sedari dahulu manusia mempunyai tabiat gila untuk mencari tahu, menggali lebih dalam setiap makna, dan menciptakan sesuatu untuk keberlangsungan hidupnya.

Tidak apa-apa, sangat manusiawi apabila kita yakin bahwa NASA sebenarnya tidak melakukan apapun yang disebutnya sebagai misi penjelajahan Mars. Anggaplah bahwa mereka tengah mengarang fantasi yang menipu banyak orang.

Lalu, bagaimana membuktikan bahwa mereka pernah melakukannya? Jawaban terbaik tersebut dapat terkuak apabila kita sendiri datang dan melihat pekerjaan mereka. Jika belum memuaskan, masih tersimpan keraguan yang mendalam, lantas perlukah meminta NASA untuk menerbangkan kita ke luar angkasa?

Rasa-rasanya kita sungguh naif. Kita telah melucuti kerja keras dan usaha yang telah mereka bangun. NASA pun tentu berpikir-pikir ulang sebab selalu ada jalan lain untuk membuktikan kebenaran.

Begitulah manusia dengan keyakinannya yang kokoh, tidak terpatahkan. Sekalipun telah terbukti salah, kita tidak mengetahui pasti bahwa dia juga menyadari kesalahannya.

Tidak perlu menerawang cerita tinggi-tinggi. Empat hari lagi, jika Aksi 313 terlakasana di Jakarta, apa yang sebenarnya diinginkan? Ahok tengah dalam persidangan dengan dakwaan yang serius. Toh, pengadilan adalah tempat yang diamanatkan untuk mencari keadilan (bukan menghukum seseorang).

Entahlah. Seorang penista agama harus menyangkal dirinya, mengkaui bahwa dirinya bersalah. Ahok harus mengundurkan diri. Namun tidak mungkin, dia terlalu keras kepala.

Kalaupun itu terjadi, sungguh sayang sekali. Nyatanya warga Jakarta sedang, ah sudahlah. Karena pada saat kita tengah berseteru, NASA dan lainnya sedang mencari langit yang baru untuk kehidupan manusia. Naif! Sebuah fenomena yang sangat jauh untuk dibandingkan.

Atau, apakah kita sekarang sudah berada di Mars?