Restoran waralaba McDonalds di Indonesia, atau yang akrab disebut McD, baru saja merilis menu terbaru di bulan puasa ini. Menu tersebut mungkin akan terdengar sedikit mengejutkan dan bisa dibilang ‘nggak McD banget’, yakni ayam kremes. Yap, betul, seperti ayam kremes yang biasa kita jumpai di warung-warung lalapan atau rumah makan khas Indonesia, plus sambal uleg yang biasa disajikan sebagai pendamping.

McD selama ini dikenal sebagai salah satu restoran waralaba yang memelopori masakan ayam goreng bergaya Amerika di Indonesia. Namun,McD pun selama ini juga dikenal sering berusaha berinovasi dengan menyajikan variasi menu-menu baru yang mengombinasikan sajian ayam atau burger mereka dengan rasa ala negeri lain, seperti teriyaki ala Jepang atau rasa ­barbeque ala Brazil. Restoran-restoran McD di berbagai negara juga dikenal memiliki menu khas yang menyesuaikan cita rasa masyarakat setempat.

McD mempublikasikan ketersediaan menu baru ini lewat akun twitternya, @McDonalds_ID. Lewat cuitannya McD mengajak masyarakat untuk mencoba menu terbarunya itu. Dikatakan dalam cuitannya, “Coba menu terbaru dari McD, Paket Ayam Kremes Spesial Sambal Uleg, kehangatan rasa  di bulan Ramadan.”

Netizen pun cukup responsif terhadap cuitan dari McD ini. Akun @irwan_lung membalas cuitan itu “@McDonalds_ID ada pecel lele ga?”. Lalu akun @moikharisma membalas,”@McDonalds_ID Masih nunggu Mcd bikin opor ayam.” Kemudian akun @BarryLullaby merespon pula, “@McDonalds_ID Apasih ini? (emoji tertawa) Mau makan ini ngapain harus ke McD.” Netizen lain pun membalas cuitan McD dengan meme-meme lucu yang terkesan sarkastik terhadap keberadaan menu baru ini.

Reaksi-reaksi tersebut bukan tidak beralasan. McD selama ini menarik minat masyarakat Indonesia, karena menyajikan menu yang berbeda dengan warung atau rumah makan Indonesia pada umumnya.  Ayam dan menu-menu lain di McD dimasak dengan resep dan bumbu rahasia. Selain itu, kombinasi menu makanan dan minumannya menarik dan berbeda dari makanan yang biasa dimakan masyarakat Indonesia. Kemudian, pelayanan serta kebersihannya lebih baik dari hampir semua warung-warung lalapan yang kita kenal. Maka dari itu, masyarakat Indonesia berani membayar lebih kepada McD, demi mendapatkan pengalaman makan yang berbeda.

Dengan demikian, benar yang dikatakan akun @BarryLullaby. Orang-orang yang datang ke McD tentu tidak ingin makan ayam kremes dan sambal uleg, tapi mereka ingin makan ayam atau makanan lainnya yang berbeda dengan yang biasa mereka makan sehari-hari di warung atau rumah makan khas Indonesia. Cita rasa menu makanan di McD yang cocok dengan cita rasa masyarakat Indonesia, tidak semestinya diartikan dengan harus menyajikan makanan khas Indonesia.

Jika alasannya yakni potensi keuntungan musiman di bulan ramadhan, hal ini pun masih kurang tepat. Entah apa kaitannya antara ayam kremes dengan kehangatan rasa bulan Ramadhan. Sejauh yang diakui khayalak umum, selama ini sajian ayam kremes dan sambal tidak menjadi menu khas di bulan Ramadhan. Walau rumah makan lesehan atau rumah makan lain yang menyajikan ayam kremes seringkali ramai saat buka puasa (sebagaimana banyak rumah makan lain yang tak menyajikan ayam kremes), ayam kremes pun tetap sering dikonsumsi di luar bulan Ramadhan.

Dari segi rasa, ayam kremes ala McD ini pun tidak dirasa memiliki banyak keunggulan dibanding sajian ayam kremes biasa. Sebagaimana dilansir oleh kumparan.com, ayamnya seperti menu ayam biasa, begitu pula nasinya. Jika ada yang berbeda, hanya sambal ulegnya, yang memang mirip dengan yang disajikan di warteg.

Dalam ulasan dari kumparan.com tersebut juga ditampilkan gambar dari menu ayam kremes ala McD. Dari gambar tersebut, memang tak terlihat perbedaan pada ayamnya dibanding menu ayam McD yang lain. Perbedaannya hanya ada pada sambal dan kremes yang disajikan terpisah dalam bungkusan plastik sebagai pendamping.

Foto: Ammanaturrosyidah/kumparan

Kelihatannya McD Indonesia harus memutar otak lagi untuk menemukan cara lain menarik minat masyarakat Indonesia dan meraup keuntungan, khususnya jika ingin mengambil kesempatan di bulan Ramadhan ini. Karena selama ini pun, menu-menu inovasi yang mencoba memadukan rasa khas McD dengan rasa kearifan lokal negara lain itu pun tak pernah bertahan lebih dari satu tahun, bahkan beberapa bulan.

Daripada berupaya membuat inovasi yang tanggung-tanggung seperti selama ini, lebih baik kekhasan yang lama saja dipertahankan dan kualitas pelayanan terus ditingkatkan. Sekali lagi, masyarakat datang ke McD karena menyukai rasa khas McD dan pelayanannya yang baik, bukan karena ingin makanan yang bisa ditemukan di restoran lain atau di warung lalapan.