Nietzsche tak main-main tatkala ia menuliskan pendapat, dalam buku Twilight for the Idol, “without music, life would be a mistake.” Hidup akan menjadi kesalahan semata jika tak ada musik. Kutipan inilah yang, barangkali, sering disalin sebagai kutipan paling sahih bagi para hipster yang tak mampu mendefinisikan musik sesuai pendapat mereka sendiri.

Begitu dalamnya kekuatan sebuah musik bagi Nietszche, yang merupakan sohib sekaligus penggemar Richard Wagner saat menapaki awal kedewasaannya, hingga ia menuliskan hal tersebut. Dalam ranah filsafat, Arthur Schopenhauer juga membahas musik dalam pemikirannya. Sosok ini pula yang dijadikan Nietszche sebagai panutan.

Dalam buku Lahirnya Tragedi (The Birth of Tragedy out of the Spirit of Music) misalnya, ia mengutip hampir 3 halaman penuh pendapat Schopenhauer tentang musik. Bagi Schopenhauer, musik berbeda dari bentuk-bentuk seni lain. Ia bukanlah salinan atas fenomena tertentu, lebih tepatnya ia adalah salinan atas kehendak manusia. Dan dengannya musik mengekspresikan konsep metafisika dari benda-benda fisik. Konsep metafisika disini berarti musik bukanlah bebunyian yang hanya bisa didengarkan. Lebih dari itu di dalamnya terdapat ‘nyawa’ atau hal kasat mata yang tidak bisa dijelaskan secara indrawi.

Meskipun ia sangat membenci moral dan finalitas makna yang banyak orang menamainya sebagai kebenaran, tapi Nietzsche sangat mencintai musik. Bahkan sebelum ia menjadi seorang filsuf, ia telah menjadi seorang penyair dan penggubah lagu.

Mengutip apa yang Josh Jones tulis di Openculture, Nietzsche pernah menulis surat pada tahun 1887, tiga tahun sebelum kematiannya, yang salah satu kutipannya tertulis: “Tidak ada seorang filsuf pun yang pernah memiliki bakat  menjadi seorang musisi sepertiku,” meskipun pada akhirnya ia juga mengakui bahwa barangkali dialah “seorang musisi yang benar-benar gagal.” Tetapi ia berharap setidaknya beberapa komposisi musiknya akan dikenal dan didengar sebagai pelengkap dari proyek filsafatnya.

Dan, kabar gembira untuk mendiang Nietzsche yang sudah hijrah ke surga atau neraka (bagi yang mempercayainya) dan para pembacanya ataupun orang-orang yang penasaran dengan dirinya, beberapa gubahan Nietzsche telah bisa didengar di playlist Spotify di atas. Gubahan itu dimainkan oleh musisi Kanada bernama Lauretta Altman, Wolfgang Bottenberg dan dinyanyikan oleh Montreal Orpheus Singers.

Musik yang dimainkan dalam gubahan itu bernafas riang hingga kontemplatif, dari romantis hingga murung dan beberapa diantaranya terasa seperti himne Protestant yang sering Nietzsche dengarkan ketika kanak-kanak karena ia dibesarkan dari keluarga Kristen Lutheran.

Nietzsche menggubah musik sepanjang hidupnya. Musik tersebut ia buat dalam rentang tahun 1854, ketika ia berumur 10 tahun, hingga 1887. Namun, kebanyakan karyanya ia gubah pada rentang umur 13 hingga 22 tahun.

Jika dalam proyek filsafat ia terlihat begitu membanggakan kecemerlangan pemikirannya maka tidak dengan proyek musik yang ia buat. Ia terlihat lebih rendah hati dengan musiknya. Namun, musik-musik yang ia buat tidak mendapat tanggapan yang serius baik oleh teman maupun publik secara luas. Bahkan ketika namanya telah melambung tinggi, dipuja dan dihujat banyak orang, proyek musiknya masih tidak banyak dikenal. Di tahun 1860 ia membuat klub sastra bersama kedua orang temannya, dan pada saat itulah ia mulai jatuh cinta dengan musik Richard Wagner, sahabat dekat yang pada akhirnya menjadi musuhnya.

Gubahan lengkap musik-musik Nietzsche dapat didengar di channel musiknya ini.