Ini adalah hari pertama para netizen melalui harinya tanpa Mojok.co. mengunjungi situs itu hanya akan mempertemukan Anda dengan slogan perpisahannya, “dimulai dengan gembira, diakhiri dengan bangga.” Ya, situs muda-mudi kekinian itu tutup mulai hari ini.

Kabar akan ditutupnya mojok sebenarnya telah berhembus sejak sebulan yang lalu. Terutama disuarakan oleh para dedengkotnya seperti Puthut EA maupun Agus Mulyadi. Tapi masih netizan yang tidak mau mempercayai hal itu. Sebagai situs yang banyak mengelola humor, mereka beranggapan kabar itu tak lain hanyalah dagelan yang lain.

Setelah dua tahun malang melintang di keramaian media alternatif, sekarang para pembacanya harus mempersiapkan ruang hatinya untukmenempatkan Mojok sebagai kenangan. Sejak berdirinya di tahun 2014, mojok sering menjadi pelopor berbagai sudut pandang alternatif dari isu-isu yang berkembang. Terutama bagi para pemuda-pemudi perkotaan yang menjadi pembaca utamanya.

Mojok hadir saat dunia media alternatif tengah membeku dalam kebosanan. Konsep banyolan yang sebenarnya telah ada di beberapa media alternatif sebelumnya, sudah terasa menjemukan dan mulai kemripik (baca : garing). Lalu muncullah mojok yang berhasi meramu medianya dengan kandungan lucu, kritis, satir, informatif, dan gaul dengan kadar yang pas.

Sejak itu pula popularitas Mojok seolah tak terbendung lagi. Mojok sebagai media dan sudut pandangnya yang khas itu segera menjadi salah satu patokan ke-hipster-an seseorang. Membaca situsnya seringkali menjadi rutinitas  setelah mengecek media sosial. Dan Moojok pun menjadi brand yang cukup kuat hingga mampu melahirkan Angkringan Mojok dan Buku Mojok sebagai lini usaha lainnya yang juga menyasar muda-mudi.

Fenomena mojok tak berhenti begitu saja. Ketenarannya juga banyak mengilhami situs-situs lain yang serupa. Mereka sama-sama megolah isu dengan cara yang kritis sekaligus ringan, juga tak lupa memberikan sudut pandang yang unik. Pasca Mojok, portal-portal lain bermunculan untuk memperebutkan porsi ruang opini publik.

Jumlahnya sangat banyak di luaran sana. Dan masing-masing memiliki gaya yang berbeda. Diantara situs-situs itu  media alternatif itu, beberapa diantaranya bahkan digerakkan oleh para dedengkot mojok. Seperti Kumparan.com yang didalamnya terdapat Edward Kennedy, mantan Pemimpin Redaksi Mojok. Juga Arman Dhani, salah satu penulis generasi awal di Mojok yang juga malang melintang menulis di berbagai media alternatif.

Tapi sebagai media, Mojok juga tidak lepas dari “dosa”. Sepanjang umurnya yang dua tahun itu, kontroversi juga menyelimutinya, terutama tentang aliran dana dari kepentingan-kepenntingan tertentu. Salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia misalnya, diisukan pernah membiayai operasional situs itu. Imbal baliknya, Mojok menjadi salah satu media yang mengkampanyekan kretek sebagai warisan budaya nusantara.

Lalu pada 2014 silam, banyak pihak menuding Mojok mendukung salah satu pasangan capres. Ada juga yang menuding ada pendanaan Freeport ke redaksi Mojok. Yang membuat Mojok nyaris tidak pernah bersikap sama kritisnya terhadap permasalahan tambang di Papua. Juga ArtJog Festival yang mengaitkan Mojok dengan kepentingan salah satu Bank. Kontroversi-kontroversi ini telah tersebar di dunia maya, juga bantahan-bantahan dari redaksi Mojok.

Agus Mulyadi pernah berujar bahwa Mojok.co adalah fana, tapi Mojok itu abadi. Pernyataan itu sedikit ada benarnya jika melihat rekam jejak Mojok sepanjang usianya yang singkat itu. Ia ada, tenar, lalu menghilangkan diri dalam ketenarannya. Dan jika suatu saat sejarah era digital mencatat media alternatif sebagai pertemuan antara kebebasan berpendapat dan kemajuan teknologi, dapat dipastikan Mojok ada di sana sebagai golongan yang mendeskripsikan kata alternatif di era digital.