Setelah menempuh tahun kedua pendidikan pascasarjananya di Princeton University, Richard Feynman pun harus menghadapi ujian secara lisan. Merasa dirinya bukanlah seorang jenius yang tak butuh belajar dalam ujian tersebut, Feynman pun mempersiapkan segalanya dengan sangat serius. Ia memacu mobilnya, kembali mengunjungi Massachuset Institute of Technology (MIT) tempat ia menyandang gelar kesarjanaannya, untuk belajar. Di tempat itulah metode belajar yang kini dikenal dengan nama Teknik Feynman bermula. Tapi sebelumnya, tahukah kalian siapa Richard Feynman?

Richard Feynman adalah seorang Fisikawan asal Amerika. Ia terkenal karena menemukan teori lintasan integral dalam quantum mekanik, juga quantum elektrodinamika. Lewat kontribusi inilah di tahun 1965 ia menerima penghargaan Nobel Prize dalam bidang fisika bersama dengan Julian Seymour Schwinger dan Tomonaga Sin-Itiro.

Seperti yang dilansir dari situs Cal Newport, James Gleik menuliskan bagaimana Feynman memulai teknik belajar yang dianggap paling efektif ini. Feynman membawa sebuah buku catatan yang masih baru dan memberi judul di sampul depannya: NOTEBOOK OF THINGS I DON’T  KNOW ABOUT  atau CATATAN TENTANG HAL-HAL YANG TAK KUMENGERTI.

Ia mencatat, mempertanyakan dan mencari tahu hal-hal yang tak ia mengerti. “Saat itu juga ia mulai menyadari kadar pengetahuannya. Ia bekerja berminggung-minggu membongkar setiap cabang-cabang fisika, mengutak-atik bagian-bagian ini itu dan menaruhnya secara bersamaan, mencari hal-hal paling luar dan tak konsisten. Ia mencoba mencari intisari dari setiap subjek yang ia pelajari,” tulis Gleik. Satu hal yang menjadi inti dari teknik ini adalah: jika kamu ingin memahami sesuatu dengan baik, cobalah menjelaskannya dengan bahasa yang paling sederhana.

Ada empat tahap yang terdapat dalam teknik ini.

Pertama, pilih topik yang ingin kamu pelajari dan mulailah mempelajarinya. Tulislah segala yang kamu ketahui mengenai topik itu dalam sebuah catatan, terus catat segala progres pengetahuan yang kamu dapat di dalam buku tersebut.

Kedua, berpura-puralah bahwa kamu sedang mengajarkan topik itu dalam sebuah kelas. Jelaskan topik tersebut dengan bahasa yang paling sederhana.

Ketiga, ketika kamu mengalami stagnasi, lihat kembali catatan itu. Kamu harus tahu apa-apa yang tidak kamu ketahui tentang topik itu, buat pertanyaan dan carilah jawaban itu hingga kalian bisa menjelaskannya secara keseluruhan.

Keempat, Sederhanakan dan pakailah analogi. Ulangi terus proses tersebut sembari menyederhanakan bahasa yang kalian gunakan serta kaitkan hal-hal itu dengan analogi untuk mempertajam pemahaman.

Pada mulanya, catatan itu adalah halaman kosong belaka. Namun selama ia diisi dengan catatan yang ditulis dengan kehati-hatian maka  pengetahuan pun dapat terukur. Keinginan untuk terus mencatat membuat motivasi belajar kalian kian meninggi pula.

Sejak saat itulah Feynmen menjadi sering mengajarkan segala hal, menjelaskan apa-apa yang ia tahu dengan kata-kata paling sederhana yang ia bisa. Bahkan ia dijuluki the great explainer atas kehebatannya memberikan penjelasan di hadapan orang banyak.

Ketika kalian berhasil menuntaskan buku catatan tersebut, maka kalian telah memiliki buku catatan yang bisa kalian banggakan. Tidak percaya? Markico, mari kita coba!