INDONESIDE – Menteri luar negeri Bangladesh A.H. Mahmood Ali angkat bicara mengenai krisis yang menimpa warga Rohingya. Di hadapan para diplomat negara Barat dan Arab, ia mengatakan bahwa Myanmar tengah menggencarkan propaganda jahat dengan menyebut Rohingya sebagai migran ilegal dari Bangladesh dan militan mereka sebagai teroris Bengali.

“Masyarakat internasional mengatakan ini genosida, kami pun sepakat bahwa ini adalah genosida,” katanya seperti dilansir dari afp.com (10/9). Ali mengemukakan kepada para diplomat bahwa 3000 orang terbunuh dalam kekerasan yang dilakukan militer Myanmar terahir ini.

Baca juga : Memancing di Keruhnya Konflik Rohingya (I)

Genosida tersebut memicu sekitar 300.000 orang Rohingya untuk melarikan diri ke Bangladesh dalam dua minggu terakhir. Pergerekan tersebut telah menambah jumlah pengungsi di Bangladesh menjadi lebih dari 700.000 orang.

Ali merasa geram. Sekarang masalah ini sudah menjadi masalah nasional di Bangladesh sendiri. Keadaan semakin runyam tatkala masyarakat Myanmar justru menganggap warga Rohingya sebagai imigran illegal dari Bangladesh atau warga Bengali. Mereka tidak mengakui keberadaan komunitas Rohingya Muslim.

Padahal Rohingya, paparnya, mempunyai sejarah panjang selama 1500 tahun dan telah membaur dengan komunitas lain. Nenek moyang mereka termasuk orang-orang Arab dan India. Menurut Ali, krisis ini tidak lebih dari sebuah aksi balas dendam pasukan Myanmar.

“Haruskah semua orang dibunuh? Haruskah semua desa dibakar? Saya tidak terima” ungkapnya.

Ia menambahkan, pemerintah Bangladesh berkomitmen untuk mencari solusi damai untuk menghentikan kekerasan yang menimpa warga Rohingya. Langkah diplomatis diambil sebab negaranya tidak mengusulkan perang melawan Myanmar.

“Kami tidak menciptakan masalah, karena masalah dimulai di Myanmar,” terangnya. “Mereka harus menyelesaikannya dan kami akan membantu mereka.”

Sebuah komisi yang dipimpin oleh mantan kepala PBB Kofi Annan bulan lalu meminta Myanmar untuk membatalkan pembatasan pergerakan dan kewarganegaraan untuk minoritas Rohingya. Langkah ini ditempuh untuk menghindari pergerakan kaum ekstremisme, selain juga untuk membawa perdamaian ke negara bagian Rakhine.

Baca juga : Memancing di Keruhnya Konflik Rohingya (II)

Ali meminta masyarakat internasional untuk mendesak Myanmar melaksanakan rekomendasi ini. Myanmar harus memenuhinya secara keseluruhan.

Ali bertemu dengan para diplomat Negara Barat dan Arab dan kepala badan-badan PBB yang berbasis di Bangladesh untuk mencari dukungan dan solusi politik dan sebagai aksi untuk menggalang bantuan kemanusiaan bagi Rohingya.

PBB menyebut sekitar 294.000 pengungsi Rohingya kni berada dalam kondisi kelelahan setibanya di Bangladesh sejak 25 Agustus lalu. Perkiraan lain ada sekitar puluhan ribu orang berusaha untuk mengungsi keluar dari Rakhine.(efrem)