Seorang teman sering mengeluhkan orang-orang disekitarnya yang dinilai egois kepada saya. Selalu ia katakan “kenapa begitu sih?” “kenapa begini?” “kenapa gak gini aja?” “kalau gini gini gini, nanti kan gini gini gini!”. Ringan saja, keluhannya selalu saya jawab dengan pertanyaan “udah diomongin belum ke orangnya?”.

Banyak orang yang seringkali memendam perasaan terhadap orang lain, namun tidak ingin diungkapkannya di depan orang tersebut. Berbagai alasan digunakan untuk menjadi penguat ia tidak melakukannya. Namun, di belakang orang itu, dia keluhkan semuanya kepada orang-orang yang dipercayanya. Dalam beberapa kasus, ada yang tidak membicarakannya kepada siapapun. Bagaimana mau membuat perubahan jika semua hanya dipendam sendirian?

Soekarno selalu menggetarkan hati masyarakat Indonesia karena pidatonya. Bung Tomo pun demikian, semangatnya yang berkobar, disertai pula dengan kalimat-kalimat penyemangat para pejuang saat itu, membuatnya mampu untuk mengajak mayarakat untuk melawan. Obama bisa menjadi presiden Amerika, karena komunikasinya yang baik dengan masyarakat dan dunia Internasional. Mereka semua menggunakan komunikasi untuk membangun perubahan.

Tidak perlu jauh-jauh kembali ke masa lalu, liat saja kini, dokter tidak mungkin tahu dengan akurat apa yang dikeluhkan pasiennya jika pasien tidak  mengatakannya. Bagaimana seorang psikolog bisa mencari solusi jika kliennya tidak mau menceritakan masalahnya? Para tukang bangunan, bagaimana mungkin mengerti apa yang harus dilakukan tanpa ada intruksi dari mandor? Lagi-lagi, semua bermuara di ‘komunikasi’.

Sudah jelas dan mengakar dalam ingatan, kalimat yang menyatakan ‘manusia tidaklah sempurna’. Artinya, manusia tidak mungkin bisa tahu segalanya. Dibutuhkan komunikasi untuk menyampaikan segala sesuatu. Oleh karena itu, jika ada yang dikeluhkan, dikomunikasikan dulu ke yang bersangkutan. Jangan sekali-kali membicarakannya di belakang, berbahaya dan akan menyebabkan fitnah.

Belajar untuk berani menyatakan pendapat membutuhkan proses yang panjang. Tidak semerta-merta dalam jangka waktu yang singkat seseorang langsung mampu untuk menyatakan pendapat di depan publik. Berani adalah kuncinya, sabar dan konsisten adalah syaratnya.

‘Berani’ ini yang biasanya menjadi beban bagi orang-orang tertentu. Karena, justru banyak orang yang sebaliknya, takut. Takut adalah perasaan yang sering kita temui jika ingin melakukan sesuatu yang baru. Takut ini, timbul dari sebuah ketidakpastian. “kalau saya seprti ini, takutnya nanti dia seprti itu”, “kalau aku seperti itu, takutnya nanti dia seperti ini”, mungkin itu yang selalu dipikirkan oleh orang-orang ketika ingin melangkahkan kaki menuju sesuatu yang baru.

Di salah satu acara televisinya, Mario Teguh pernah berkata, “Tuhan itu selalu memberikan jalan, manusia saja yang terlalu takut untuk melangkahkan kakinya ke jalan yang disediakannya”. Memang, yang membuat manusia diam dan tidak mengalami perubahan dalam hidupnya adalah ketakutan. Perasaan ini akan selalu timbul pada manusia, akan tetapi tinggal bagaimana melawan ketakutannya tersebut.

Kita semua tahu dan yakin, masa depan itu adalah misteri. Masa depan adalah ketidakpastian. Seorang teman pernah berkata kepada saya “ketidakpastian itu adalah ancaman”. Makanya wajar ketika Sigmund Freud berkata bahwa manusia adalah organisme yang selalu merasakan cemas (re: takut). Manusia dan masa depan itu tidak dapat dipisahkan, artinya, manusia dan ketidakpastian adalah sebuah kesatuan. Manusia selalu terancam oleh ketidakpastian masa depan, makanya dia selalu merasa takut.

Tapi, apakah kita bisa menerima begitu saja pandangan tersebut? Tidak dan jangan! Karena itu adalah pandangan para pesimis. Ketidakpastian bukanlah sebuah ancaman, karena ketidakpastian itu merupakan rangkaian pertanyaan yang mesti manusia jawab. Satu-persatu manusia jawab pertanyaan dari masa depan, satu persatu manusia menjawab pertanyaan masa depan.

Lakukan perubahan di dalam diri terlebih dahulu, beranilah berkomunikasi dengan orang lain, demi menciptakan sebuah perubahan. Perubahan yang besar itu, dimulai dari perubahan yang kecil.