Bangkitkanlah para sofis dari kuburnya dan biarkanlah mereka menonton Mata Najwa. Maka seketika itu pula mereka akan meminta diantar kembali ke kuburan dan dibiarkan mati dengan ide kunonya tentang kecantikan yang berbanding terbalik dengan kecerdasan.

Di dunia ini terlalu banyak Stereotip yang menyebutkan wanita cantik itu bodoh. Di dunia barat, cewek pirang dianggap lebih mementingkan penampilan disbanding prestasi. Tapi seiring perkembangan zaman, pandangan-pandangan semacam itu tampak hanya mitos belaka. Tapi yang terbukti justru satu, perempuan-perempuan cantik punya daya magisnya untuk membuat para pria terlihat bodoh.

Meja Mata Najwa dan sorot mata Najwa Shihab yang khas itu telah terbukti dapat meluluhlantakkan wibawa para pria.  Lihatlah bagaimana kelunya lidah Ibnu Fuad sang Bupati Bangkalan hingga Farhat Abbas. Atau ledakan-ledakan Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Tapi Najwa Shihab dan mata bulatnya  tidak melulu semenakutkan itu. Episode yang beberapa kali menampilkan Jokowi atau Ahok justru tampak humoris. Kadang ia juga bias mengharukan seperti ketika Tri Risma berkisah tentang PSK.

Acara Mata Najwa memang menjadi talkshow yang sangat digemari. KPI Awards hingga Panasonic Gobel Awards pernah diraihnya. Padahal di Indonesia, bukan hal yang biasa acara talk show bertema politik seperti ini digemari banyak orang. Sesame talk show, tema-tema gossip para artis biasanya lebih digemari.

Keputusan  Najwa Shihab untuk menghentikan tayangannya tentunya mengundang penasaran khalayak luas. Hingga kini, alasan penutupan itu masih simpang siur. Beberapa mengaitkannya dengan dengan konspirasi-konspirasi gelap pasca wawancara terakhir Najwa Shihab dengan Novel Baswedan. Sementara yang lain mengklaim karena Najwa Shihab ingin menjadi duta membaca. Entahlah, karena tampaknya mulut Najwa Shihab tak seterbuka matanya.

Tapi yang jelas, banyak pihak akan merasa sangat kehilangan pertanyaan-pertanyaannya yang menohok itu. Selama ini, Mata Najwa tidak hanya menjadi acara talk show, ia mengejawentahkan hasrat masyarakat untuk menelanjangi pejabat dan politisi di depan umum. Ia manifestasi kebencian public pada kebusukan sekalgus para pencinta transparansi dan aksi-aksi bak pahlawan berkuda putih.

Rasa dahaga publik itu ditangkap benar oleh tim Mata Najwa. Kerasnya Mata Najwa terhadap Fadli Zon dan sayangnya kepada Jokowi dan Ahok misalnya, itu tidak lepas karena memang public bersikap demikian terhadap kedua tokoh itu. Tentunya sikap itu muncul dari perilaku-perilaku kedua tokoh itu.

Sedangkan Mata Najwa menjadi perpanjangan tangan publik. Ia menekan keras siapapun yang tidak disukai publik.  Dari sisi media, ini trik yang sangat jitu untuk menarik hati pemirsa. terlebih pemirsanya adalah orang Indonesia yang memandang kkonflik adalah daya tarik yang terlalu penting.

Karena alasan itulah berhentinya Mata Najwa tidak seharusnya disesali. Justru sebaliknya, ini pantas disyukuri. Sebagai media yang netralitasnya terus dipertanyakan, Mata Najwa tidak baik untuk kesehatan. Dan sebagai program acara yang berperan sangat penting dalam mendukung program-program pemerintah, semoga pak brewok setelah ini punya mainan baru untuk kepentingannya.