Refleksi di ujung tahun. Sekiranya, setiap Desember, hal ini lumrah dilakukan. Perusahaan atau lembaga tengah disibukkan dengan laporan akhir tahun. Lalu media massa menurunkan rangkuman peristiwa sepanjang 2016.

Tapi, apalah artinya. Alih-alih ingin refleksi, justru di tengah masyarakat muncul pertanyaan atas tema besarnya, yakni: kebangsaan. Aksi 212, misalnya, telah menggeser ketunggalan identitas Indonesia. Siapa Arab, Cina, peranakan atau pribumi. Naga-naganya, aksi itu agak berlebihan. Muncul balasan, aksi kebhinekaan dua hari setelahnya. Sama saja, tidak ada mempannya. Malahan sudut pandang berubah jauh. Bukan kita, tetapi aku dan kau, kami dan kalian.

Tidak sampai disitu. Setali tiga uang, Desember bertepatan pula dengan Natal, hari raya umat Kristiani. Pertanyaannya semakin tebal, apa gerangan yang akan terjadi? Garis pembatasnya terang, kaum muslim dihimbau untuk tidak mengenakan atribut natal. Dan semakin terang juga pembeda itu: mereka yang pro dan kontra. Dalam perspektif lain, kita memandang mereka sebagai yang radikal dan moderat.

Tapi, apalah artinya. Toh, kejadian memang selalu dipersepsi dengan kecemasan, dianggap membahayakan satu pihak. Masyarakat kita menjadi paranoid. Antara pihak pluraris mencemaskan kehadiran pihak radikal dan fundamentalis. Begitu juga sebaliknya.

Tidak mungkin tidak. Imbasnya ke segala arah. Uang rupiah yang baru dikeluarkan, misalnya. Ada-ada saja memang. Siapa Frans Kaisiepo dan apa perannya? Tidak ada yang salah dengan pertanyaannya. Mencari tahu sosok yang termuat dalam pecahan sepuluh ribu tersebut seharusnya akan membuka cakrawala keindoneisaan kita. Tapi, ketika jawaban tersebut menyeser kepada ideologi, harap berhati-hati. Politik selalu memperdaya keluguan dan ketidaktahuan. Mereka yang ingin tahu, secara tiba-tiba, menjadi paling tahu dan paling benar.

Masyarakat Jawa mempunyai tata tentrem kerta raharja. Masing-masing kita juga ada yang berpegang pada ajaran agama. Sesuatu yang ideal tersebut haruslah dipahami tidak sebagai hal stastis, berhenti pada posisinya. Anggaplah itu sebagai utopia, untuk mencapainya melalui usaha-usaha yang tidak kunjung berhenti.

Soal sentimen ini memang agak lama usianya. Judul besar yang menggulung generasi ke generasi sejak kemerdekaan. Kita diingatkan kembali perihal Piagam Jakarta. Lalu, 44 tahun setelah kemerdekaan,  Umar Kayam, menyebut kecemberuan budaya. Masanya yang penuh dengan penegasan identitas etnis. Masyarakat Jawa tampak menonjol di antara masyarakat etnik lainnya baik vertikal maupun horisontal.

“Di tengah kebanggaan yang berlebih-lebihan terhadap jati-diri budaya masyarakat etnik yang memacetkan dialog antara sistem-nilai masyarakat, generasi muda menghadapinya dengan sikap ganda. Mereka tahu bahwa jati-diri budaya tradisional mereka adalah sesuatu yang canggih, rumit dan mungkin pantas dibanggakan akan tetapi bersama itu mereka menyadari benar bahwa jati-diri tersebut bukanlah jati-diri jamannya.”

Dan lagi, memang kabar baik itu diberikan kepada generasi muda. Eros Djarot, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, generasi muda Umar Kayam telah berubah. Sekarang, kita berbicara kepada generasi milenial, mereka yang setiap hari bersentuhan dengan perangkat pintar. Bagaimanapun, generasi muda ini tahu soal absurditas bangsa kita hari ini. Terlebih informasi yang diterima dari dunia global telah membentuk mereka sebagai pribadi common sense.

Maka, bicaralah dengan optimis, bukan dengan kecemasan yang menghantui generasi muda. Pembebasan hari ini bukanlah pembebasan dari teknologi informasi dan segala perangkatnya. Yang abadi adalah komunikasi, apapun perangkat atau medianya. Kita mesti menghadapinya. Refleksikanlah tahun ini, maka perihal optimisme akan terkecup. Mau tidak mau, tahun depan akan mempunyai kesusahannya sendiri.