Baru-baru ini Tirto.id merilis laporan khusus perihal tragedi Mei 98 yang sering luput dari pengetahuan orang banyak. Tak tanggung-tanggung, ada 10 laporan khusus mengulas kejadian kelam ini, salah satunya tentang simpang siur kebenaran adanya perkosaan masal terhadap perempuan etnis Cina. Namun, yang harus digarisbawahi untuk saat ini adalah; perkosaan masal itu benar-benar nyata!

“Perkosaan massal itu terjadi,” ujar Ita Fatia Nadia, mantan direktur Kalyanamitra, organisasi nonpemerintah yang aktif mengkampanyekan kerja-kerja dan kesetaraan perempuan. “Korban pertama adalah perempuan Cina. Dalam tradisi Tionghoa, kalau kamu sudah diperkosa secara seksual, itu adalah aib yang besar untuk keluarga dan komunitas. Oleh sebab itu, dua korban perkosaan di Jembatan Tiga dan Jembatan Dua diberi pisau oleh keluarganya agar bunuh diri, karena aib. Aib keluarga, aib komunitas” jelasnya dalam wawancara yang dilakukan bersama jurnalis Tirto, Mawa Kresna.

“Puncak perkosaan itu kapan?” tanya Mawa Kresna.

“Tanggal 12, 13, 14, 15 Mei itu puncaknya. Itu kami semua kebingungan. SOP-nya kalau ada korban perkosaan, kami akan tanya, “Kamu mau di bawa ke mana?” Karena nomor satu bukan didampingi secara medis, korban harus merasa aman dulu.

Kelompok Budhis itu punya safe house. Saya buka sekarang: safe house mereka ada di sebuah apartemen mewah di Taman Anggrek, ada 1 unit. Satu lagi di Puncak. Terus ada juga dokter yang membantu kami, namanya Lie Dharmawan, dulu kerjanya di rumah sakit Pluit. Itu dokter yang paling banyak terima korban perkosaan. Dokter Boenjamin, Direktur Kalbe Farma,” kisa Ita.

Ita menceritakan salah satu korban yang ia kenal. Adalah Ita Martadinata Haryono, korban perkosaan yang hendak bersaksi di hadapan PBB namun dibunuh satu minggu menjelang keberangkatannya ke Amerika. Saat Ita Martadinata pulang, ia langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ternyata di kamar itu sudah menunggu seorang laki-laki yang kemudian menyerangnya dengan benda tajam. Ita Martadinata tewas seketika. Tubuhnya ditemukan tertelungkup.

“Jam 3 dibunuh, jam 5 saya sudah di sana. Darah itu masih hangat,” kenang Ita F. Nadia.

Wawancara panjang itu masih berlanjut. Ita menyatakan bahwa ada banyak saksi dari pihak keluarga namun mereka enggan karena dihantui rasa takut. Dokter Lie pun mencoba menjadi saksi karena ia menerima banyak korban, tapi ia dan keluarganya justru diteror.

“Ini pelajaran berharga buat kita: Tidak bisa lagi percaya sama militer.”

Menurut Ita, tidak mungkin perkosaan tersebut dilakukan dalam waktu 3 menit, 5 menit. Modusnya, tutur Ita; datang, ada yang menjarah, setelah menjarah datang lagi, memperkosa. Mereka merusak, menjarah, memperkosa. Memperkosa dilakukan pada bagian terakhir. Dan antara orang yang merusak, menjarah dan memperkosa itu berbeda. Polanya bahwa pemerkosa itu berbeda dengan perusak yang jumlahnya lebih banyak.

“Saya mau katakan: perkosaan ini menjadi modus untuk meneror masyarakat di dalam perubahan politik dengan menggunakan tubuh perempuan. Dan itu terjadi di Rwanda, Bosnia, Jerman, Jepang, juga Timor Leste.” tukasnya.