Jadi memang benar kata orang-orang televisi, tahun ini suhu politik diprediksi panas tinggi. Di atas kertas koran prediksinya juga sama. Pastinya kita mengira yang dimaksud mereka adalah Pilkada DKI 2017. Eh, rasa-rasanya tensi orang-orang sudah meninggi sejak tahun lalu.

Kalau begini, prediksi pengamat dan ahli politik kurang jitu. Pilkada sudah terbiasa dengan senggol-senggol, serempet sana sini. Justru di sini letak sensasinya. Ramai-ramai datang mendengar pidato kampanye, benar-benar mirip suporter sepakbola. Ada dangdutannya, apalagi tim suksesnya adalah artis ibukota yang centereng di instagram.

Walaupun sebenarnya kita masuk ke bilik suara sendiri-sendiri, jujur ada rasa hati yang gundah gulana. Pilkada itu hakikinya bukan sewaktu pemungutan suara. Bukan, Anda salah besar. Jangan  terlalu primitif dan sempit deh mengartikan yang hakiki. Soal angka menang-kalah, kita memang jauh dan meleset dari harapan. Tapi, waktu kampanye kita semua menampakkan solidaritas dalam mendukung.

Itu juga karena didorong oleh zaman yang majunya kencang banget. Harus cerdas dan tahu mengolah informasi. Berita yang wajib dibaca harus menawarkan tantangan yang membuat ketagihan. Banyak-banyak mantengin kaca gawai. Kalau isinya kurang jos, langsung ke bawah baca komentar orang-orang. Kalau kurang ngeh sama komentarnya, lihat pelan-pelan, itu robot atau akun orang beneran.

Kita dari dulu disindir orangnya kurang membaca, hobi bermain-main melulu, dan apalah-apalah katanya. Tidak usah risau yang kebangetan dengan berita hoax, lagipula ceritanya asyik diikuti. Nanti juga ada berita klarifikasi, tergantung isinya sih. Media sekarang malas-malasan, banyak berita yang isinya hanya klarifikasi benar atau palsu.

Kurang kreatif dan kurang kerjaan memang. Ya baiklah, kita membacanya biar orang-orang sebelah berhenti nuduh yang bukan-bukan.

tapi jujur, sebenarnya jantung degap-degup melihat wartawan yang sampai mandi keringat kejar narasumber. Jadi ingat waktu bangku sekolah dulu waktu guru habis retorika. Bingung itu pasti. Ada yang bertanya? Tidak.

Alasannya karena kelas perlu situasi yang kondusif. Belum-belum kalau gurunya garang kayak Soeharto. Kita bertanya, malah ditanya balik, “kenapa tanya begitu, ha?’ Yang juga pasti adalah menjaga martabat diri di antara kembang mawar yang mewangi. Akhirnya, ya bingung. Mau tanya kiri-kanan, tapi siapa yang paham?

Makanya ada iri hati, wartawan bertanya ke orang-orang penting di negeri ini. Tapi beritanya sering kurang mantap dicerna. Sangat standar, main aman melulu. Para pembaca butuh bahasa yang merakyat, ah abang wartawan.

Balik ke topik awal. Jadi kita tidak usah terlalu khawatir dengan prediksi pengamat. Idola kalah adalah hal biasa, sakit hati ya juga sudah biasa. Kalau mau mengikuti kata hati, ya sudah manut kata hati.

Kata pengamat panas, biarlah itu katanya. Paslon nomor satu berkata ‘kami pasti menang’, biarlah itu menjadi katanya. Paslon nomor dua juga berkata ‘yang sana sudah takut kalah,’ biarlah juga itu menjadi katanya. Karena kita mempunyai kata-kata kita sendiri.