Cinta itu buta! Dalam perspektif pengamat, dua orang saling cinta –pasangan romantis– bisa jadi terlihat tidak realistis (Baron & Byrne, 2005), seolah dunia milik berdua. Harapan, mimpi dan angan-angan berdua tentang masa depan, seolah meniadakan kemungkinan akan gagalnya sebuah hubungan. Namun, tidak hanya pada sepasang kekasih dengan notabene cinta yang terbalas, pada seseorang yang tak memiliki pasangan (re: jomblo) pun demikian, cinta bisa-bisa membutakannya.

Bagaimana tidak membutakan, cinta bisa membuat seseorang mengorbankan banyak hal agar cintanya terbalas. Ada pula yang menyakiti diri dengan memendam perasaan cintanya, hanya karena takut ditolak. Kasus lain menceritakan, seseorang yang rela ‘digantung’ statusnya, biasa juga kita kenal dengan sebutan di-PHP-in (Pemberi Harapan Palsu). Cinta bertepuk sebelah tangan/tidak terbalas ini telah menjadi fenomena di masyarakat. Karena memang penelitian secara umum menyebutkan kalau 95% dari pria dan wanita kebanyakan pernah mengalaminya  (Regan, 2009). Para peneliti barat memberi istilah untuk cinta bertepuk sebelah tangan ini dengan Unrequited Love (UL).

Para peneliti mendefinisikan UL sebagai perasaan cinta yang dimiliki seseorang, tidak sama dengan perasaan orang yang dicintainya (Bringle, Winnick, & Rydell, 2013). Walster, Aronson, Abrahams, & Rottman pada tahun 1966 emnemukan sebuah pola yang menyebabkan seseorang mengalami UL, yaitu saat seseorang memberikan sebuah harapan, kemudian di tanggapi lebih oleh pasangannya (Baumeister, Wotman, & Stillwell, 1993). Dari sini muncul perasaan mencintai, namun pasangannya tidak, karena sedari awal memang harapan yang diberikannya bukanlah yang dimaksud dengan cinta.

Dalam artikelnya, Bringle, Winnick, & Rydell (2013), membagi jenis UL (cinta bertepuk sebelah tangan) menjadi lima macam, yaitu:

  1. Crush on Someone Who Is Unavailable. Cinta macam ini tidak berbalas, dikarenakan sosok yang dicintainya memiliki jarak jauh dalam hal daya tarik maupun fisik, dengan orang yang mencintainya. Biasanya ini terdapat pada fans yang mendamba-dambakan idolanya secara berlebihan.
  2. Crush on Someone Nearby Without Initiating a Romantic Relationship. Berbeda kasus dalam jenis ini, si pencinta bisa jadi dekat dengan sosok yang dicintainya, fisik maupun emosional. Akan tetapi, karena beberapa alasan pecinta tidak bisa menyatakannya, atau sudah menyatakan, namun tidak bisa dibalas. Contoh jenis ini adalah sepasang sahabat karib, yang dari kecil bersama. Salah satunya mencintai, namun karena kekhawatiran merusak hubungan persahabatan, akhirnya si pecinta ini memendam rasa cintanya.
  3. Pursuing the Love Object. Ini yang biasa ditemukan, terutama pada remaja pria. UL dalam jenis ini berilaku mengejar-ngejar sosok yang dicintainya. UL jenis ini didasari oleh keinginan si pecinta untuk memiliki orang yang dicintainya. Keinginan ini ditunjukkan lewat usaha untuk mendapatkan cintanya. Jenis ini biasanya tampak di seorang yang mengejar-ngejar sosok idamannya lewat mengajak kencan, lebih sering SMS, menunjukkan perhatian, dan lainnya.
  4. Longing for a Past Lover. Tidak bisa move on? Berarti kamu sedang dilanda UL macam ini. Saat putus, seringkali ada satu pihak yang tidak menyutujui, sehingga masih menyisakan rasa terhadapnya meski sudah tidak memiliki ikatan lagi. Perasaan ini biasanya ditunjukkan lewat ketergantungan terhadap mantan, putusnya hubungan menyisakan kerinduan pada sosok mantan kekasih.Ya, inilah yang biasa para remaja sebut gak bisa move on.
  5. Unequal Love Relationship. Jenis terakhir ini memiliki perbedaan dari jenis-jenis sebelumnya. Perbedaannya terletak di ikatan hubungan. Sepasang kekasih telah membentuk komitmen dalam sebuah hubungan, bisa berbentuk status pacaran atau pernikahan. Akan tetapi, perasaan yang dimiliki keduanya berbeda satu sama lain. Contoh konkritnya bisa dilihat pada pernikahan hasil penjodohan. Si pria sangat mencintai wanita pilihan orang tua, namun wanitanya tidak.

Apapun jenis UL-nya, kamu pastinya pernah merasakan yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Jelas, karena Saat itu terjadi, perasaan/emosi yang muncul cenderung tidak menyenangkan.

Baumeister bersama rekan-rekannya (1993), menemukan gejala paling umum saat seseorang dilanda UL, salah satunya adalah ketergantungan. Selalu terbayang-bayang wajahnya, salah tingkah di hadapannya, atau bahkan merasa rindu, adalah beberapa dampak dari ketergantungan. Implikasi lebih lanjut dari ketergantungan, bisa menganggu pola tidur, nafsu makan, konsentrasi belajar, dan gangguan perilaku lainnya.

Jacinta F. Rini (2002) memiliki istilah lain, yaitu kecanduan cinta. Bahasa candu ini biasanya melekat pada Narkoba, rokok, kopi, atau hal lain berbau nikotin. Rini menjelaskan candu ini pada seseorang yang berada dalam sebuah hubungan, sehingga ini lebih mirip dalam jenis UL kelima, yaitu unequal love relationship. Efek yang ditimbulkan berupa rasa takut, curiga, emosi labil, serta sensitif. Kecanduan cinta ini juga bisa dikaitkan dengan empat jenis UL lainnya, yaitu saat cinta benar-benar tidak terbalas tanpa ada hubungan dan ikatan. Rasa cemas, gelisah, sensitif, takut, stres, atau frustasi hadir karena cinta yang terlanjur candu ini tidak berbalas.

Di tingkat ekstrim, cinta bertepuk sebelah tangan bisa berakibat fatal. Di California misalnya, seorang pengangguran pada tahun 1988 menembak tujuh orang, termasuk wanita yang dicintainya, dengan alasan cintanya ditolak berkali-kali (Meloy, 1989). Di Indonesia sendiri kasus-kasus serupa sering diberitakan media. Desember tahun lalu (2013),di kawasan Jatinegara, Jakarta, seorang pria membunuh mantan pacarnya karena sakit hati cintanya ditolak (www.suaramerdeka.com). Kasus-kasus bunuh diri akibat cinta yang tidak kesampaian juga bertebaran di media internet.

Akibat dari cinta bertepuk sebelah tangan/tidak terbalas, sangat luas. Mulai dari yang ringan sampai yang berat, berdampak pada diri sendiri, maupun orang lain. Bukan berarti pula kita harus menghindarinya, karena sulit untuk mengendalikan cinta. Yang harus dilakukan adalah intropeksi diri, apa kekurangan yang membuatmu tidak bisa diterimanya. Jangan lupa juga untuk memahami dia yang kamu cinta. Nova Jono Arianto, dalam artikel lain di ruangpsikologi.com menuliskan bahwa yang terpenting untuk memiliki sebuah pasangan adalah (1) tunjukkan bahwa anda baik dan selalu ada, (2) percaya diri dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, (3) dan prioritaskan kualitas daripada kuantitas cinta kamu.

Benar kata pepatah lama “semua pasti ada hikmahnya,” termasuk pula cinta bertepuk sebelah tangan ini. Bringle, Winnick, dan Rydell (2013) sendiri menjelaskan, terdapat energi positif di balik dampak negatif yang diterima pencinta, ialah cinta itu sendiri. Baiknya kita ambil pelajaran dari apa yang kita sebut sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Yang terpenting, mengertilah bahwa:

Infantile love follows the principle: “I love because I am loved.” Mature love follows the principle: “I am loved because I love.” Immature love says: “I love you because I need you.” Mature love says: “I need you because I love you”. –Erich Fromm, The Art of Loving

Referensi

Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh Jilid 2. (R. Juwita, & E. Al, Trans.) Jakarta: Erlangga.

Baumeister, R. F., Wotman, S. R., & Stillwell, A. M. (1993). Unrequited Love: On Heartbreak, Anger, Guilt, Scriptlessness, and Humiliation. Journal of Personality and Social Psychology , Vol. 64 No. 3, 377-394.

Bringle, R. G., Winnick, T., & Rydell, R. J. (2013). The Prevalence and Nature of Unrequited Love. SAGE Open , 1-15.

Meloy, J. R. (1989). Unrequited Love and Wih to Kill, Diagnosis and Treatment of Borderline Erotomania. Bulletin of The Menninger Clinic , 478-492.

Regan, P. C. (2009). Love, Unreciprocated. In H. Reis, & S. Sprecher, Encyclopedia of Human Relationships (pp. 1018-1019). Lo Angeles: Sage.

Rini, J. F. (2002, Maret 18). Kecanduan Cinta. Retrieved Januari 13, 2014, from e-psikologi.com: http://www.e-psikologi.com/artikel/individual/kecanduan-cinta