“Masihkah kau ingat waktu didesa.. bercanda bersama disamping gereja…
Kala itu kita masih remaja… yang polos hatinya bercerita…”

Sama halnya dengan lirik lagu yang dipopulerkan oleh Panbers tersebut, itu juga yang dilakukan oleh pemuda Kabupaten Pegunungan Arfak – Provinsi Papua Barat ini, adalah Bung Yosak Bansa Saroi yang akrab disapa Bung Yosak. Aktifitas bercerita, bercengkerama dan berdiskusi dengan para pemuda daerah maupun para kepala kampung (desa) setempat menjadi kegiatan rutin yang selalu dilakukannya.

Sebagai pemuda daerahnya sekaligus sebagai Bendahara Kampung Leihak – Distrik Hingk, sebuah distrik yang terletak di lembah dan diapit oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi, sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk selalu mengawal kepentingan masyarakat didaerahnya.
Pemuda yang juga aktif dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ini (DPC GMNI) Manokwari ini menceritakan berbagai kendala dan tantangan dalam melakukan pembangunan diwilayah pedesaan dan perkampungan yang cukup terisolir seperti Distrik Hingk, salah satunya adalah mengenai persolan distribusi dana desa yang kini menjadi polemik masyarakat didaerahnya.

Menurut penuturannya “Dana Desa Tahap II tahun 2016 belum dicairkan hingga tahun 2017 untuk 10 Distrik yang mencakup 166 Kampung di Kabupaten Pegunungan Arfak, sementara pembukuan tahun anggaran 2016 sudah selesai dan sudah masuk dalam tahun anggaran baru”. Bung Yosak juga menerangkan bahwa “Tahap I Dana Desa ini sendiri pencairannya sebesar 60 persen dilakukan pada bulan Agustus 2016 yang langsung ditransfer ke rekening masing-masing kampung, sedangkan sampai dengan tahun 2017 sisa 40 persen belum juga dicairkan. Terhadap hal tersebut masyarakat di 10 Distrik yang mencakup 166 Kampung akan meminta penjelasan dari satuan kerja teknis yang mengelola distribusi dana desa tersebut”.

Sebagai bendahara salah satu kampung ia mempertanyakan “pencairan ini terkendala dimana ? dana desa ini disimpan dimana ?”, sebuah pertanyaan yang sama dengan bagian lain dari lirik lagu Panbers diatas “entah dimana kini kau berada… tak tahu dimana rimbanya… kuhanya ingin dapat bertemu… bila bertemu puaslah hatiku”. Ia juga menegaskan “sebelum pemerintah daerah mencairkan dana desa yang terlambat kepada masyarakat, kami meminta agar pemerintah menjelaskan perihal keterlambatan dilakukannya pencairan untuk keseluruhan tahap baik tahap pertama maupun kedua”.

Berdasarkan informasi dari Bung Yosak, sudah ada beberapa kali pertemuan musyawarah yang diadakan oleh 166 perangkat kampung dan mencapai mufakat untuk mengajukan tuntutan mereka ini kepada pemerintah setempat untuk segera merespon demi terwujudnya situasi yang kondusif dan tidak meresahkan masyarakat Kabupaten Pegunungan Arfak yang berpenduduk kurang lebih 31.735 jiwa dengan luasan wilayah 2.774 Km².

“Apabila ada indikasi penyelewengan yang dilakukan oleh perangkat pemerintahan setempat maka masyarakat lewat perangkat terkecil sudah semestinya melakukan upaya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan melalui jalur hukum, dan hal inilah yang kami perangkat dari 166 Kampung di Pegunungan Arfak akan lakukan dalam waktu dekat ini, tegas Bung Yosak.

“Desa harus jadi kekuatan ekonomi… agar warganya tak hijrah kekota…
Sepinya desa adalah modal utama.. untuk bekerja dan mengembangkan diri..”

Lirik yang lugas dan penuh spirit pembangunan yang mengakar dari Iwan Fals berjudul Desa ini senyata-nyata memang benar adanya. Oleh karenanya pemerintah sebagai pelaksana dari pelaksanaan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab itu tidak menyimpang dari aturan-aturan yang sudah ada. Karena sebagaimana bagian lain dari lirik lagu ini yakni “Untuk apa punya pemerintah… kalau hidup terus-terusan susah…”.

Pemuda, karena disebut pemuda sudah pasti ia adalah pendobrak perubahan dan kemajuan.