Quel Magnifique! Beginilah orang-orang Prancis menunjukkan ketakjuban mereka. Ada pujian di dalamnya. Namun, malam tadi di Paris, kata-kata ini senyap sementara waktu. Pesta batal dilaksanakan.

Mereka tengah bersiap menyambut klub kesayangan mereka pulang dari Spanyol dengan kepala tertunduk. Barcelona mengalahkan telak Les Parisiens 6-1 di Camp Nou.

Meski memenangkan pertandingan pertama 4-0, itu belum menjamin semua. Getar-getir tetap menjangkit, dimulai sejak pluit babak pertama dibunyikan. Kekhawatiran menjadi memuncak sampai ubun-ubun kepala setelah PSG hanya menguasai bola 32 persen paruh waktu. Babak pertama berakhir 2-0.

Tapi, di antara narasi besar tentang strategi dan statistik, mereka harus mamafhumi drama demi drama yang dilakonkan para pemain klub Katalan tersebut. Begitu mudahnya mereka ambruk.

Drama mampu menghasilkan banyak bola mati. Mereka sungguh menginginkan itu terjadi.

Barcelona mempunyai perhitungan matang sebagai alasannya. Serangan penuh yang mereka gencarkan ke dalam pertahanan PSG justru mempunyai konsekuensi besar untuk pertahanan mereka sendiri.

Cavani merupakan mentor serangan balik yang berbahaya. Sementara Barcelona hanya akan menyisakan dua atau beberapa pemain di daerah pertahanannya. Serangan balik itu mesti dipatahkan dengan berbagai cara, yang salah satunya menciptakan pelanggaran. Bukan melanggar Cavani, tapi buatlah PSG melakukan pelanggaran.

Bagaimana mungkin pelanggaran seperti itu dapat terjadi? Saat terjadi serangan balik, kesempatan ini harus dilakukan PSG dengan cepat. Barcelona dapat memprediksinya. Pemain yang berada di depan harus merebut kembali bola tersebut.

Berhasil! Tetapi, yang sering terjadi, pemain itu tidak dapat menguasai bola dengan baik. Formasi serang yang terbentuk juga berantakan. Sangat besar kemungkinan bola akan direbut pemain lawan lagi.

C’est parti! Di sinilah akting pelanggaran itu dijalankan. Lihatlah mereka jatuh seperti kertas yang mendapat tiupan angin. Sedikit sentuhan, mereka merebah di atas tanah seperti petarung Kick Boxing yang menghantam badan mereka.

Pola seperti ini jamak digunakan untuk mematikan langkah salah satu pemain yang sedang merancang serangan balik. Juga Barcelona mempunyai keuntungan karena dua pemainnya Messi dan Neymar mampu mengeksekusi bola mati dengan brilian. Kedua peluang ini dimanfaatkan baik-baik.

Unai Emery, pelatih PSG, menyaksikan tenang teater tersebut. Jikalau saja diizinkan, Emery akan meneguk wine sejak pelanggaran pertama diberikan. Sebabnya tidak sekali atau dua kali, sepanjang pertandingan para pemain Barcelona konsisten membuat alur drama tersebut.

Memang, menggugat keputusan wasit tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada artinya karena semua terlihat sempurna. Aytekin, wasih di lapangan, sampai lunglai memutuskan layak tidaknya pelanggaran diberikan.

Namun, keputusannya benar-benar merugikan PSG. Barcelona mendapat dua gol dari eksekusi bola mati, satu gol dari titik putih penalti. Barcelona menutup drama dengan akhir bahagia untuk mereka. Sementara PSG akan pulang ke Paris sambil juga mengubur dalam-dalam kekalahan memalukan tadi.

Tidak ada yang perlu mereka gugat. Sebab, UEFA bukanlah kumpulan para kritikus sepakbola sebagaimana drama lain dapat membusuk di tangan para kritikus sastra. Dan malam tadi, kita menjadi yakin bahwa sepakbola memang perihal menang-kalah dan siapa yang mampu menciptakan drama terbaik. Kecuali Arsenal yang lebih memilih drama tragedi untuk dirinya sendiri.