Kabar duka kembali menghampiri Indonesia. Hujan deras yang terjadi belakangan ini di wilayah Jawa Barat menuai petaka. Selasa malam (20/9), banjir bandang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Garut. Banjir tersebut diakibatkan tingginya intensitas hujan sehingga air sungai Cimanuk dan Cikamuri meluap dan masuk ke permukiman warga.

Penanganan oleh rumah sakit setempat terhadap korban banjir pun telah dilakukan. Hingga Rabu (21/9) lalu, tercatat sebanyak 20 orang meninggal, 14 orang hanyut dan dinyatakan hilang dalam banjir bandang tersebut.

Pada hari yang sama, tanah longsor terjadi di Desa Cimareme, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Sebanyak dua orang ditemukan tewas dan diduga 2 orang masih tertimbun material longsor.

Menyikapi hal tersebut, Presiden Joko Widodo menyampaikan rasa duka cita yang mendalam bagi korban bencana sekaligus mengutus tiga menteri, yakni Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, Menteri Kesehatan Nila Moeloek dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuldjono untuk meninjau lokasi bencana banjir bandang dan longsor di Garut dan Sumedang.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Jawa Barat, Dadan Ramdan, menilai bencana yang terjadi diakibatkan adanya alih fungsi lahan di kawasan tersebut. Garut misalnya, ia mengatakan, sejak 2000 lalu, kondisi lahan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk sudah sangat kritis karena alih fungsi lahan.

Hal tersebut diperparah karena minimnya perhatian dari pemerintah setempat. Belum lagi, tidak adanya pengawasan dan intervensi terhadap pemilik lahan-Perhutani-di kawasan tersebut yang membuat alih fungsi lahan semakin menjadi-jadi.

Padahal, seperti yang dilansir tribunnews.com, 80 persen dari wilayah tersebut memiliki fungsi konservasi yang telah diatur dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Pemda Garut. Walhasil, sejumlah orang meninggal dan sekitar seribu bangunan porak-poranda akibat banjir.

Sama halnya dengan Garut, longsor yang menimpa sejumlah titik wilayah bencana di Sumedang pun diduga karena alih fungsi lahan. Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah meninjau lokasi tersebut sesaat setelah bencana terjadi.

Indonesia memang merupakan salah satu bangsa yang mempunyai tingkat kesolidaritasan yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya bantuan dari berbagai pihak setelah bencana yang menimpa Garut dan Sumedang. Sayangnya, pengelolaan bantuan tersebut belum teratur dengan baik. Masih ada korban bencana yang kebingungan karena bahan makanan yang diberikan tidak siap makan.

Misalnya saja, Ela Indarsah, dalam tulisan yang dimuat kompas.com Jumat (23/9) lalu, menurutnya, bantuan yang langsung diserahkan di lokasi bencana akan mudah diambil sekumpulan warga lainnya. Bahkan, menurut dia, warga yang bukan korban banjir pun bisa mudah mendapatkannya. Lebih lanjut, ia juga mengeluh kesulitan untuk mengolah bahan makanan.

“Ada mi instan tapi bingung masaknya harus bagaimana. Kompor tidak ada, air susah, dan pakai penanak nasi listrik tak bisa juga, karena harus di mana tempatnya,” ungkap Ela.

Kendati demikian, rasanya solidaritas saja belum cukup menyadarkan kaum-kaum pemilik modal dan “pemburu keuntungan” terhadap dampak lingkungan. Pada tahun 2012-2013 saja misalnya, bencana di Indonesia didominasi oleh banjir dan tanah longsor yang diakibatkan alih fungsi lahan. Rupanya, sejumlah bencana beberapa tahun silam masih belum bisa membuat ‘mereka’ tidak gegabah untuk meraup keuntungan belaka.

Hemat saya, perlu adanya kontrol yang lebih ketat lagi untuk pemberian izin alih fungsi lahan. Pemerintah setempat jangan hanya diam melihat kerusakan lingkungan yang terjadi dan lempar batu sembunyi tangan seraya berdalih kawasan tersebut milik si ‘anu’.

Tentu saja, bencana di Garut dan Sumedang ini kembali menjadi cambuk bagi kita semua. Perhatian penuh untuk kedua daerah itu layak kita semua berikan. Bantuan sekecil apapun tentu akan sangat membantu mereka, para korban bencana.

Dan sekali lagi seperi yang sudah saya uraikan sebelumnya, pemerintah pun perlu memberikan perhatian dan kajian erus mengenai penyebab bencana ini. Ini memang bencana alam, tapi alam tentu akan bersahat dengan manusia jika manusia pun mau bersahat dengan alam.

Semoga bencana yang menimpa Garut dan Sumedang dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Alam tidak akan murka jika tidak ada sebabnya. Melalui tulisan ini, penulis menghaturkan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya bagi korban yang terdampak.