Ombak masih berdebur deras dari relung-relung karang laut selatan. Pasir-pasir masih terhampar luas sepanjang pantai selatan. Hanya kini, ribuan jejak langkah tersebar disana-sini.

Pantai Klayar adalah satu dari ratusan pantai selatan di pesisir selatan pulau Jawa. Terletak di Kabupaten Pacitan, masyarakatnya memiliki mitologi yang sama tentang Kanjeng Ratu Kidul. Ini adalah salah satu cabang dari kerajaan Ratu Selatan yang manis. Mitos yang suka atau tidak, telah mewarnai kuat Budaya Jawa pasca Mataram Islam.

Dalam lima tahun terakhir Pantai Klayar berubah. Jalan-jalannya yang awalnya sempit terjal menembus hutan-hutan musim tropis dan batuan kapur itu telah digarap oleh ledakan-ledakan dinamit. Sekarang jalannya luas,tak kalah dengan yang di kota-kota.

Pasca Idul Fitri lalu, Klayar berhasil menunjukkan jika orang-orang jakarta memang dikutuk untuk hidup dalam kemacetan. Jalan menucu klayar macet parah. Diantara tanjakan dan tikungan yang telah diperlebar itu, jajaran mobil-mobil yang kebanyakan berplat Jakarta padat merayap menuju antrian gerbang pantai.

Kemacetan sepanjang sekitar tiga kilometer ini luput dari pemberitaan media manapun (kecuali Indoneside) karena peristiwanya terjadi di antara gunung dan lembah, bukan jajaran perkantoran dan pertokoan. Ini menunjukkan bahwa mau dibangun seperti apapun, Desa Klayar tetaplah wilayah udik yang tak masuk klasifikasi layak diinformasikan (sekali lagi, kecuali di Indoneside).

Dan memang untuk itulah Klayar dibangun. Memenuhi hasrat orang-orang kota untuk kabur dari perkotaan yang kian tak manunusiawi dan rawan penindasan itu. Bagi masyarakat, itu juga hal yang mengunntukngkan karena memperoleh potensi pendapatan baru melalui berdagang. Tidak melulu menjadi nelayan apalagi setelah kisah cantrang kian mendayu-dayu.

Mereka menjajakan makanan dan oleh-oleh. Juga menyewakan ojek motor roda empat bagi orang-orang kota yang tak biasa berjalan menyusuri pantai. Karena panjang pantai Klayar sekitar 1 km. Sedangkan spot selfie terbaik adalah di ujung timur pantai dimada ada karang besar yang terus-menerus ditampar ombak dan sebuah bukit kapur ber-gazebo yang juga enak dipakai mesum melihat pemandangan.

Ditengah pembangunan dan peralihan mata pencaharian itu, memang Karjeng Ratu Selatan tidak serta merta dilupakan. Tradisi wayangan dan sejenisnya masih sering dilakukan di malam-malam tertentu saat matahari tidak tampak dan langit berwarna gelap. Tapi itu pun yang mengadakan bukan lagi orang asli situ, melainkan seorang dalang dari pusatnya bumi Mataram, Surakarta Hadiningrat.

Namun bagaimanapun, ikatan masyarakat setempat dengan laut sudah tak sekuat dulu. Mereka tidak lagi melaut untuk menebar jala, tapi menggelar lapak di pesisir pantai. Ada rasa yang berbeda ketika mereka mengarungi lautan ditengah gelombang dan menjajakan barang ditengah kerumunan wisatawan. Rasa syukur mereka tak lagi ke laut, ombak, dan angin yang dimitoskan sebagai anugerah Kanjeng Ratu. Tapi lebih kepada dompet-dompet pendatang yang kedangannya dipengaruhi kuat oleh situasi perekonomian nasional.

Jadi begitulah kisah sekali lagi runtuhnya cabang kerajaan Ratu Laut Selatan yang digantikan oleh cabang kapitalisme. Dan jejak-jejak kaki wisatawan diatas hamparan pasir tadi akan hilang keesokan harinya. Entah oleh angin laut atau gelombang pasang. Seperti halnya kanjeng ratu yang selalu punya cara menunjukkan kebaikannya. Kalau terdesak dia selalu bisa minta pertolongan saudaranya di Gunung Merapi.