Di zaman digital ini di mana internet, aplikasi gratis, dan social media (socmed) merajai dunia, cara hidup kita sekarang telah ter-digitalisasi dalam segala aspek, bahkan aspek yang satu ini: pernikahan.

Pernikahan adalah salah satu dari momen terpenting dalam hidup manusia, bahkan banyak orang mengklaim bahwa itu adalah yang terpenting seumur hidup, karena dalam pernikahan kita telah dengan siap lahir batin menetapkan bahwa kita akan hidup bersama seseorang ini selamanya, setia sampai mati, dalam sehat dan sakit, dalam susah dan senang. Sakralnya pernikahan juga sangat lekat dengan ‘lepas’nya tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, karena sekarang anaknya telah  memiliki keluarganya sendiri, sepenuhnya bertanggungjawab sendiri atas pilihan-pilihan hidupnya, dan membangun kehidupannya sendiri. Sampai-sampai dalam urusan administrasipun, pernikahan juga mampu mengubah kolom-kolom tertentu di KTP dan KK. Karena itulah, pernikahan adalah momen yang membahagiakan dan mengharukan dalam hidup manusia, sehingga patut untuk dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Selama hidup kita juga mengenal pernikahan-pernikahan tertentu yang begitu spesial di mata publik, misalnya pernikahan aktor dan aktris papan atas dan. pernikahan pangeran Inggris. Di Indonesia sendiri ada pernikahan putri keraton Yogyakarta, atau pernikahan putra-putri presiden, misalnya.

Jika pernikahan-pernikahan yang saya contohkan di atas menimbulkan perbincangan di masyarakat, tentu ini merupakan hal yang wajar, karena ini momen yang pasti akan mengundang perhatian, mengingat pengaruh dan popularitas mereka yang nationwide atau bahkan worldwide. Perhelatan pernikahan mereka pasti akan diliput oleh hampir semua media. Namun karena sekarang era socmed, siapapun bisa mempublikasikan foto-foto dan video dokumentasi pernikahan mereka di socmed. Satu kali tekan, seluruh dunia bisa melihatnya.

Karena itulah, wajar apabila kita sekarang sering menemukan foto-foto pernikahan orang yang tidak kita kenal di timeline atau fitur explore kita di Instagram. Kita juga tak jarang menemukan orang-orang yang mempublikasikan photo story (rangkaian foto-foto yang biasanya berjumlah lebih dari tiga foto, dengan penjelasan atau caption yang menceritakan rangkaian jalannya sebuah event atau peristiwa, secara berurutan) pernikahan mereka, sehingga teman-teman atau pengikutnya, bahkan siapapun di dunia ini bisa menyaksikan dan mengomentari jalannya acara pernikahan itu.

Fenomena ini baru-baru ini terjadi di Indonesia. Seorang wanita muda asal Jakarta yang memiliki username Instagram @rachelvennya baru-baru ini menikah dan sekarang sedang menjalani honeymoon. Wanita yang akrab disapa Rachel ini sudah sejak lama menjadi sangat terkenal di Instagram (saat ini ia memiliki satu juta pengikut) hingga bisa dikategorikan sebagai selebriti Instagram atau selebgram. Ia mempublikasikan rangkaian foto-foto dan video pernikahannya, mulai dari foto-foto prewedding, acara-acara pra-resepsi seperti akad nikah hingga acara resepsinya yang begitu mewah dan bertemakan putri dan pangeran negeri dongeng itu. Ia pun juga mengunggah foto dirinya memakai gaun pernikahannya yang dirancang khusus oleh perancang busana profesional untuk dipakai di saat resepsi. Raisa dan band Soulvibe pun diundang untuk menyanyi di acara resepsinya. Ia juga membuat tagar tersendiri, #nikorachelwedding, untuk acara pernikahannya.

Resepsi pernikahan Rachel dan suaminya, Niko. courtesy: instagram.com/rachelvennya

Selain Rachel, belum lama ini, kira-kira awal bulan Maret 2017, seorang wanita asal Yogyakarta yang memiliki username Instagram @selmadena juga sempat menghebohkan netizen karena kisah perjalanan menuju pernikahannya yang kontroversial. Ia menikah dengan putra salah satu tokoh penting di Indonesia, Amien Rais, yakni Baihaqy Rais. Kontroversinya terletak pada latar belakang alasannya setuju menikahi Baihaqy, karena ketika ajakan menikah tersebut diutarakan, wanita dengan sapaan akrab Selma ini notabene masih memiliki kekasih, yang sedang menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian Republik Indonesia.

Pernikahan Selmadena dan Baihaqy Rais courtesy: instagram.com/selmadena

Dari pos-pos Instagramnya, diketahui bahwa alasan Selma memilih menikahi Baihaqy dan meninggalkan kekasih yang sudah menjalin hubungan dengannya selama satu tahun itu adalah karena Baihaqy lebih menawarkan ‘kepastian’, walau entah apa yang dimaksudkannya dengan ‘kepastian’ itu. Ditambah lagi Selma dan mantan kekasihnya waktu itu menjalani hubungan jarak jauh. Fenomena ini lantas membelah netizen menjadi dua kubu, yang satu mendukung pilihan Selma dan yang satunya lagi mengkritik pilihan Selma, karena banyaknya faktor-faktor yang agaknya menunjukkan dengan ‘jelas’ apa yang menjadi alasan Selma memilih Baihaqy ketimbang Senna Indiarto, mantan kekasihnya yang sedang berjuang mempersiapkan karier dan masa depan itu. Salah satunya adalah mengingat siapa ayah dari Baihaqy, sehingga jelas bagaimana publik akan menilai Baihaqy dari segi status sosialnya.

Pernikahan Selmadena dan Baihaqy Rais (2)
courtesy: instagram.com/selmadena

Seperti Rachel, Selma juga membuat photo story dari rangkaian acara pernikahannya. Ia juga membuat tagar tersendiri dari pernikahannya, #SelmaHaqyJourney. Ia juga mengunggah foto-foto yang menunjukkan keindahan gaunnya, dekorasi gedung, serta detail riasan yang menghiasi wajahnya.  Follower Selma memang tak sebanyak Rachel, namun popularitasnya pernikahannya menurut saya mampu menyandingi pernikahan Rachel, karena keunikan kisah dan status dari si mempelai pria. Ia mendapat likes dan komentar-komentar yang cukup banyak.

Tentu saja, karena telah menjadi trending topic selama beberapa waktu, pernikahan ini telah membuat anak-anak muda Indonesia, terutama gadis-gadis belia, menelan ludah. Tak sedikit terlihat di kolom komentar foto-foto itu yang me-mention teman-temannya dan kekasihnya, mengatakan bahwa mereka juga ingin pernikahan seperti itu. Media mainstream juga tak ketinggalan membuat tulisan-tulisan tentang pernikahan selebgram ini. Tak jarang ‘media-media’ ini membuat klaim-klaim subjektif yang dapat mempengaruhi kondisi psikis pembaca seperti “pernikahan selebgram ini bikin baper” dan sebagainya.

Walau sebelum pernikahan Rachel dan Selma sudah banyak foto-foto pernikahan public figure yang diunggah di Instagram, dengan ditambahnya fenomena ini, dan dengan trend menggunggah photo story secara konstan, teratur, tinggi intensitas dan dilengkapi tagar di setiap fotonya, kita tak perlu terkejut apabila fenomena ini akan terus berlanjut ke depannya. Apalagi unggahan-unggahan macam ini sangat mengundang perhatian gadis-gadis muda yang merupakan sasaran empuk pasar apapun, terutama yang sudah kebelet dilamar, sebar undangan, dan fitting gaun pengantin. Ditambah lagi saat ini ‘menikah di usia muda’ dan ‘segeralah menikah daripada pacaran’ sedang banyak dikampanyekan.

Lantas, apakah pernikahan mereka merupakan pernikahan yang ideal? Jika ideal, ideal menurut siapa? Ideal menurut para wanita muda yang sejak kecil dikonstruksi untuk mengidolakan gadis-gadis dalam dongeng yang memakai gaun-gaun indah ketika menikah dengan pangeran yang memenangkan hatinya, ideal menurut followers, atau ideal menurut norma yang bisa diterima masyarakat secara umum? Apakah sekarang, pernikahan yang baik adalah yang baik di mata followers dan subscribers? Lalu jika demikian, ke mana nilai-nilai kesakralan pernikahan yang saya contohkan di atas?

Di sini saya rasa kita perlu mengenal tanggung jawab dalam dunia digital. Kita tak akan pernah tahu, dampak apa saja yang akan timbul dari apapun yang kita unggah ke media sosial, entah itu baik atau buruk. Apalagi jika feed kita secara konstan diperhatikan oleh banyak orang. Sebab, walau Kemkominfo dan KPI terus gencar memblokir dan menyensor sana-sini, internet telah menjadi gaya hidup dan jangkauannya tetap tidak terbatas. Apalagi media sosial, yang hampir semua orang dapat menggunakan dan mengaksesnya, terutama anak-anak muda yang sedang berusaha menemukan identitas dan ‘membuktikan diri’ mereka dalam pergaulan sosial dan masyarakat.

Kita tidak akan tahu hal-hal apa lagi yang akan muncul di socmed kita minggu depan, besok, bahkan 10 menit lagi, dan reaksi serta dampak apa yang timbul dari unggahan-unggahan itu. Karena itu, sebagai netizen yang dewasa kita wajib mampu untuk mengukur dan bersedia bertanggung jawab dalam penggunaan socmed kita, serta tidak baper atas semua yang terjadi di socmed, baik dalam posisi sebagai pengunggah maupun pengomentar yang menanggapi.

Soal pernikahan, sah-sah saja mengunggah dokumentasinya ke socmed, karena foto-foto dan video-video itu sepenuhnya hak kita, apalagi jika tujuannya untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Akun kita pun seluruhnya adalah milik dan menjadi tanggung jawab kita. Namun, harus diketahui, pernikahan itu sejatinya urusan keluarga, dan urusan keluarga adalah urusan pribadi. Tidak baik bukan, jika orang lain tahu terlalu banyak tentang urusan pribadi kita? Saya yakin, para public figure pun semestinya tak akan merasa nyaman jika demikian.

Jadi, jangan terlalu baper juga dengan apapun yang ada di socmed. Sebuah kutipan dari novel Haruki Murakami yang berjudul 1Q84 saya nilai cukup sesuai dengan fenomena ini: “Ingat, segala sesuatu berbeda dari penampilannya”. Dengan kata lain, jangan percaya dengan apapun yang kita lihat, terutama jika itu baru pertama kali.

Satu hal lagi, ladies, bermimpi itu baik, berangan-angan dan punya standar tertentu juga tidak buruk. Tapi, jangan mengejar sesuatu hanya karena itu tampak baik di mata orang lain, karena hidup ini kita yang menjalaninya, bukan mereka. Maka, jangan mau jadi korban hutang wedding organizer dan desainer wedding gown! Karena mereka itu pebisnis, dan sampai kapanpun pebisnis cuma punya satu tujuan: dapat keuntungan sebanyak-banyaknya!