Impian selalu berisi kebahagian. Karenannya kesedihan dianggap tragedi. Dan hidup adalah semata pemenuhan mimpi-mimpi itu. Ada yang bermimpi kaya-raya karenanya merintis usaha sana-sini. Ada yang bermimpi untuk berkuasa karenanya ia berkerumun dalam massa. Ada yang ingin tenar dan sana-sini ikut audisi.

Kita tak pernah tahu apa impian Fidelis Arie, si pria penanam ganja. Kita hanya tahu  perjuangannya. Siang itu, ruang sidang penuh sendu sedan. Pembacaan pledoi telah mengharukan pengunjung sidang. Tapi air mata itu tak sebanding dengan dunia yang seolah hancur di benak Fidelis. Dipenjara, ditinggal mati istri tercinta, meninggalkan anak-anak tanpa orang tua, dan terancam kehilangan pekerjaan.

Apa yang dialami Fildelis sungguh tidak pernah ada bahkan dalam impian terliar setiap orang. Dan apapun tindakan Fidelis dalam meraih mimpinya, bisa dipastikan itu akan hancur seketika hakim membacakan putusannya.

Hidup memang penuh paradoks. Dan terkadang sistem peradilan tidak cukup mampu menangkap paradoks itu. Karena nyatanya dunia ini tidak seperti di layar TV. Ada situasi-situasi dimana benar dan salah beririsan satu sama lain.

Kita mengingat tahun 399 SM sebagai saat ketika Socrates membacakan pembelaannya di pengadilan. Di Atena, kotanya dewa-dewi itu, sejarah mencatat bagaimana pemikir filsafat angkatan awal ini dihukum meminum racun. Padahal kita juga tahu jika seribu tahun kemudian kemudian, sedikit-banyak pemikiran Socrates telah melahirkan peristiwa-peritiwa besar.

Hingga tulisan ini diketik, To Kill a Mockingbird masih menjadi salah satu buku terbaik sepanjang masa. Isinya jelas-jelas menyinggung sistem peradilan di Amerika pada jamannya. Hingga muncul si Atticus, pengecara cetar membahana yang membela orang kulit hitam. Dia dipergunjingkan, dipersekusi, bahkan di keluarganya sendiri. pada jamannya ia musuh bersama. Tapi kini di jaman kesetaraan, ia adalah pahlawan.

Menurut orang Jawa, ada tiga macam kebenaran yang jika diterjemahkan kurang lebih : kebenaran menurut diri sendiri, kebenaran milik banyak orang, dan kebenaran yang sejati. Segala bentuk undang-undang dan sistem peradilan adalah melingkupi yang disebut kebenaran milik orang banyak. Karena itu dijamin dalam pembentukan perundakan melalui dewan dan sistem tata negara yang lain.

Beda halnya dengan tulisan ini yang hanya berisi kebenaran menurut diri sendiri karena bagaimanapun ini subjektif diri saya sebagai penulis. Dengan begitu, derajat kebenaran keputusan pengadilan lebih tinggi dibanding kebenaran tulisan ini.

Namiun beda halnya dengan kebenaran yang sejati. Ia datang dari Sang Pemilik Bumi dan Langi, ia yang Maha Benar. Dan kita tidak pernah tahu apa yang Ia anggap benar kecuali lewat tafsir-tafsir para pemuka agama.

Terlepas dari bagaimana undang-undang mengatur tentang ganja, tanaman ini telah dipersekusi sedemikian rupa. Dimusnahkan habis kredibiltasnya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Seolah itu tanaman penuh dosa dan diturunkan dari neraka.

Jika hasil penelitian-penelitian yang disebutkan Fidelis dalam pledoinya itu benar, maka kita telah berdosa besar. Kita menutup mata pada  kenyataan bahwa segala sesuatu memiliki manfaat dalam batas-batas tertentu. Dan Sang Pemilik Kebenaran Sejati tentau tidak akan senang dengan hal ini. Dia mengkaruniakan tanaman yang kemudian kita perlakukan semena-mena. Lalu, kita jadi bertindak salah tidak hanya terhadap Fidelis tapi juga tanaman ganja.

Lalu sampailah kita pada situasi yang memaksa untuk mengucap Jancuk. Beruntunglah mereka yang sempat menangis di ruang sidang itu. Karena setidaknya mereka menjadi saksi atas kisah kasih anak manusia. Sedangkan dari sini, bahkan tayangannya di youtube saja tidak ada.

Dan apalah artinya mimpi jika tidak dilengkapi rasa cinta. Dan Fidelis telah membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari rasa cintanya terhadap istri dan keluarganya. Dan kita telah merenggut semua darinya.