Kalangan mahasiswa yang menempah dirinya pada kampus-kampus di kota Malang telah memiliki pilihan demi menapaki hidup. Ada yang menyusuri setiap penjuru desa sebagai relawan, ada yang memeras otak dan tenaganya sebagai aktivis atau organisatoris, dan ada juga yang menuangkan pekerjaan paruh waktu ke dalam rutinitas hariannya.

Hal terakhir yang disebutkan tadi ingin diangkat dalam pembahasan ini. Macam-macam yang dilakoni, semisalnya pramusaji di kafe, di butik, di rumah makan, di toko buku, atau dimana-manalah. Ada lagi yang menetaskan ide kreatifnya menjadi sebuah perniagaan, lalu diperolehnya pendapatan.

Saya sendiri mengalami hal serupa dengan mengambil peranan sebagai pengemudi Kuyjek, ojek kampus yang berbasis di Kota Malang. Sederhana saja, melajulah di atas aspal Kota Malang dengan membekalkan diri pada gawai pintar, tentunya selain sepeda motor.

Sederhana, namun tidak berarti segala anggapannya berjalan semudah mengucapkannya. Ada yang mengira jasa antar jemput dan pengiriman barang ini sungguh hanya membuang waktu. Maksudnya, tidak sepadan antara tenaga dan waktu dan besar pendapatan yang masuk kantong. Apalagi saya dan beberapa orang lain yang menempatkan diri kepada profesi ini adalah orang-orang yang tengah menyandang status mahasiswa. Sekalipun paruh waktu, kapasitas sebagai mahasiswa itu harus berbanding lurus dengan keagungan namanya, dalam artian, pundi-pundi kantong mestilah terukur tebal.

Marilah berpikir eklektis, mengambil baiknya dan menjauhkan hal buruk-buruknya. Seorang kakak tingkat yang bercita-cita duduk di bangku kuliah STF Driyarkara menyampaikan dalil filsafatnya, “hidup ini sebenarnya biasa-biasa saja. Yang ada hanyalah penafsiran orang terhadap hidup.”  

Apa semata-mata uang dan pendapatan yang mengindahkan pandangan saya pada hidup? Sebagaimana kita tahu bahwa memang tujuan sebagian besar mahasiswa yang mengambil pekerjaan paruh waktu tadi adalah uang saku untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan kegiatan tambahan lainnya. Namun, saya sendiri menganggap tujuan tersebut bukanlah tujuan dalam maksud yang sebenarnya, yang berarti bukan uanglah tujuan atau keutamaan yang harus dicapai.

Kita dapat belajar dari mahasiswa di Prancis, negara yang berada di Eropa bagian selatan. Selama menempuh bangku perkuliahan, mereka menghabiskan waktu sehari-hari dengan mengambil pekerjaan paruh waktu. Kemandirian tersebut sudah menjadi budaya yang sangat dijunjung tinggi. Dan pekerjaan tersebut bukanlah sesuatu yang menuntut mereka memperoleh banyak pundi-pundi.

Mereka bekerja di berbagai bidang yang hampir sama kita temukan di Indonesia: menjaga kafe, menjadi volunteer pada berbagai kegiatan, dan juga menjadi seorang perawat anak. Maka, tidak mengherankan apabila salah satu di antara kita ingin menempuh pendidikan di sana, pihak universitas akan mengarahkan rekomendasi pekerjaan atau orang tua asuh untuk menjamin kelangsungan hidup mahasiswa di sana.

Pada akhirnya, apa tujuan sebenarnya menjadi seorang rider Kuyjek? Bagi saya, tujuan yang hendak saya capai adalah berproses. Mungkin terdengar absurd, tetapi memang demikian, seseorang tidak akan tahu apa yang terjadi pada hari esok. Carpe diam, raihlah hari ini!

Mahasiswa-mahasiswa di Prancis tidak berpikir lagi pakaian indah mana yang harus dikenakan, sebab mereka telah membiasakan keindahan itu di dalam kesehariannya. Keindahan itu adalah hasrat dalam hari-hari mereka. Oleh karena itu, mereka merasa yakin untuk melakukan sesuatu karena memang pernah didorong oleh kehendak dari diri mereka sendiri. Darah muda, kata Rhoma Irama, yang tidak pernah mau mengalah.

Darisanalah saya memeroleh perasaan luar biasa untuk memahami perbedaan setiap orang lebih dalam. Sebab hal istimewa itu diperoleh dari pertemuan dengan banyak orang-orang yang memakai Kuyjek. Apalagi dalam keadaan darurat dan hujan yang awetnya bukan kepayang belakangan ini. Aduh, judesnya.

Ada yang cueknya setengah mampus, ada yang panik karena terlambat masuk kelas perkuliahan, sampai ada yang harus saya temani berjalan-jalan di kota Batu karena mobil penjemputannya ternyata masih dalam perjalanan dari Pare Kediri.

Waktu sudah tengah malam. Tidak mungkin dalam situasi seperti itu, dia harus menunggu sendiri di sana.  Adalah hal yang konyol jika memang saya lantas memutuskan kembali. Kenapa? Karena dia adalah perempuan. Mungkin Anda mengesankan nada-nadanya merupakan sikap sok jantan atau memang sedang melakukan modus pendekatan. Hmmm……Hmmmmmm….Hmmmmm…!!! Kecoa terbang!

Sudahlah saya kenyang dengan hal-hal yang berbeda itu. Namun, di antara semua yang berbeda itu, selalu ada satu yang tetap membuat tersenyum. Ad Maiorem Dei Gloriam!