Saat itu, kemerdekaan Indonesia masih dalam hitungan hari. Di sebuah perjalanan kereta api, kondektur menagih tiket ke seorang penumpang. Dengan polosnya si penumpang menjawab, “loh kok masih bayar, kan kita sudah merdeka?”

Kisah itu dituliskan Cindy Adams dalam buku fenomenalnya, Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Begitulah kemerdekaan Bangsa Indonesia dimulai. Teks proklamasi dibacakan di hadapan lebih dari 90% rakyat yang buta huruf. Perjuangan dilakukan diantara rakyat yang tidak tahu makna bangsa yang merdeka.

Lalu kini, setelah segala perjalanan bangsa yang penuh suka duka dan kadang disertai sedu sedan yang menye-menye, kita akan merayakan 72 tahun kemerdekaan. Tanpa disadari, usia kemerdekaan kita telah melebihi lamanya Cersei menguasai Seven Kingdoms. Dalam waktu yang itu, apakah kita sebagai Rakyat Indonesia telah lebih memahami makna kemerdekaan dibanding generasi awal rakyat?

Konon katanya, aneka lomba yang diselenggarakan dalam memperinganti kemerdekaan merupakan upaya untuk mengeenang jasa para pahlawan. Tapi mana mungkin luka tembak para pejuang disandingkan dengan lidah tergigit karena makan kerupuk. Dan mana bisa nyungsep di kubangan penuh lumpur di kala gerilya dibandingkan dengan tersandung paving saat lomba balaap karung.

Begitulah kemerdekaan dirayakan. Seiring zaman, ada pula satu dua perubahan. Dahulu kala, para sesepuh gemar menggelar yang disebut malam tirakatan untuk berdoa bersama hingga pagi di malam menjelang 17 Agustus. Tapi ditangan para pemuda, acara adiluhung itu telah berubah menjadi dangdutan sambul mabuk-mabukan.

Jangankan kemerdekkaan yang mensyaraktan persatuan segenap umat manusia di seluruh penjuru tanah air, sejarah bangsa kita saja telah diamputasi sana-sini. Ia teramputasi menjadi sekedar dongeng yang tak ubahnya cerita sinetron. Si baik akan dipuja setinggi langit dan cenderung di-tuhan-kan. Bagi yang dianggap buruk, tamat sudah riwayatnya. Ia akan terkatung-katung di comberan penuh belatung. Mengendap beriringkan caci-maki.

Di segala situasi yang tampak semakin mendesak bagi kehidupan bagsa, kita sering berserah diri pada Pancasila. Seolah dengan burung itu, selesai sudah semua perkara. Tapi sesungguhnya, garuda hanyalah burung dan pancasila cuma rangkaian kata. Ia perlu ruang untuk hidup dan terus menghidupi diantara relung-relung hati.

Tapi apa daya. Di suatu diskusi warung kopi di Surabaya yang acaranya disiarkan di stasiun televisi nasional, pembahasan tentang pancasila kembali ke level definisi. Kembali membahas tentang apa itu Pancasila beserta latar belakangnya yang semestinya telah tuntas di tingkat sekolah dasar.

Begitulah kita, Bangsa Indonesia yang telah hidup 72 tahun ini. Di usia yang setua ini kita masih meraba apa itu Pancasila. Seiring pula muncul golongan-golongan anti Pancasila dan yang merasa lebih Pancasila-is. Lengkap sudah penderitaan para pahlawan.

Kita tengah berada pada kemunduran peradaban yang memaksa kita mencari kembali arti Pancasila, boro-boro mengamalkannya. Ini memang kisah pahit. Tapi rupanya bangsa kita suka  yang pahit-pahit. Seperti halnya Majapahit menjadi nama salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.

Kecewa adalah hal yang biasa dalam hubungan antara rakyat dan negaranya. Selalu ada rakyat kecewa di setiap negara. Tapi sebagai Rakyat Indonesia, Putera/I Ibu PErtiwi, kita tak boleh berputus asa. Selama ada sumur di ladang, boleh kita menungpang mandi. Selama ada kendala menghadang, bisa kita diskusi lagi.

Setelah 72 tahun merdeka, kita tetaplah bangsa yang paling gemar tertawa di seluruh dunia. Juga orang-orang yang menjadi pelopor mengetik ‘wkwkwkwk’ di setiap chatting. Sementara diaspora terjadi di Yunani pasca kebangkrutan, kita tetap tertawa di tengah kekacauan.