Agaknya, pergantian tahun tidak memberi kesempatan bagi masyarakat dunia untuk beristirahat sejenak. Belum mencapai akhir Januari 2017 ini, dunia, terlebih lagi masyarakat Indonesia, sudah ‘disibukkan’ dengan hiruk pikuk di sana-sini, baik yang sama saja dengan tahun lalu, maupun yang baru.

Ada banyak sekali topik-topik perbincangan yang senantiasa menghiasi layar televisi dan gadget kita setiap harinya (saya media cetak sudah tidak terlalu populer lagi, bukan begitu?). Rakyat Aleppo, Suriah masih harus hidup dalam perang yang tidak pernah mereka inginkan. Sebuah film ber-genre musikal-romansa produksi Amerika Serikat berhasil menaklukkan ajang penghargaan Golden Globes 2017. Kemudian, setelah lama dinyatakan hampir mustahil, tiba-tiba ada kemungkinan pesawat MH370 akan kembali dilanjutkan pencariannya. Lalu, pelantikan Donald Trump sebagai orang nomor satu di AS semacam menjadi rambu kuning bagi seluruh dunia di berbagai sektor, terutama ekonomi dan keamanan. Bahkan sebagian rakyat AS sendiri sampai saat ini tidak bisa menerima kenyataan bahwa mantan host acara televisi The Apprentice itu akan resmi menjadi pemimpin mereka esok hari.

Kita beralih ke negeri sendiri. Australia kembali bergesekan dengan kita, meski kali ini permasalahannya tidak segenting yang pernah ada sebelumnya. Kemudian kita dihebohkan dengan harga cabai yang meroket, walau sambal dan makanan pedas berlevel-level masih kita jumpai setiap hari di berbagai tempat. Lalu, sebagian masyarakat Jawa Tengah masih berduel dengan pabrik semen, bahkan sampai menuduh gubernurnya sendiri bermulut besar. Topik Pilkada DKI Jakarta juga masih sangat mendominasi layar kaca setiap hari, meski pelaksanaannya bersamaan dengan pilkada-pilkada lainnya di seluruh penjuru Indonesia di 15 Februari nanti.

Masih berkaitan erat dengan topik Pilkada DKI, Indonesia ‘digelisahkan’ dengan fenomena hoax dan organisasi masyarakat intoleran. Menariknya, ketiga calon kepala daerah DKI mengklaim jadi korban fenomena ini, terutama hoax. Ya, begitulah, saking susahnya bagi masyarakat kita untuk memilah informasi mana yang benar dan yang salah, mana yang layak dan tidak layak dibagi, sampai-sampai kepolisian harus cawe-cawe  dengan membentuk Badan Siber.  Kemudian, makin banyak orang yang tidak nyaman dengan ‘keributan’ Rizieq Shihab dan pasukannya, sehingga kampanye media sosial melawan mereka pun mulai tersebar, bahkan sebagian mulai mengambil jalur hukum untuk membuat mereka berhenti ‘membuat ulah’.

Inilah topik-topik yang akhir-akhir ini akrab di telinga kita, baik melalui pembicaraan santai, pembicaraan di media sosial, maupun berita-berita di media. Banyak dari topik ini yang asyik untuk dibicarakan, tapi banyak yang sejatinya harus membuat kita sadar, bahwa dunia ini makin keras, manusia makin mudah bikin masalah, dan euphoria pergantian tahun nyata-nyata tak lebih dari sekedar perayaan momen. Boleh saja bersenang-senang dengan kembang api, tapi hari tetap berganti dan kita tetap punya tanggung jawab nyata untuk dilakukan. Utamanya, tanggung jawab untuk bertahan hidup dan memberi manfaat bagi sekitar, bukan justru membuat masalah dan merugikan banyak orang.

Boleh saja kita berdiskusi dan adu argumen di media sosial. Boleh saja kita saling share tulisan-tulisan, gambar, atau video yang kita anggap menarik atau penting dengan teman dan kerabat kita. Akan tetapi, media sosial yang telah menjadi dunia tersendiri ini semestinya membantu dan membuat hidup jadi lebih nyaman, bukan sebaliknya, bahkan menjadi sarana kita untuk menyakiti hingga membodohi orang lain dan diri sendiri. Kemudahan akses internet dan memiliki smartphone zaman sekarang ini kita syukuri dan pergunakan dengan sebaik-baiknya, sebisa mungkin untuk membantu pekerjaan, terlebih lagi untuk berbagi hal positif dan hal-hal yang sarat kebahagiaan.

Untuk mengakhiri tulisan acak yang tidak tentu arah ini, saya berharap beberapa ratus kata ini bisa menjadi penyemangat masyarakat Indonesia untuk terus bekerja keras dan tidak manja, serta bisa merangkul perbedaan di dunia yang makin ekspresif ini. Tidak apa-apa harga-harga bahan pokok naik, asal kelebihan rejeki ini dapat digunakan untuk mensubsidi yang saudara kita yang kurang mampu. Kalau pemerintah mulai kesasar dan ngawur, kita punya segala hak untuk mengingatkan, tanpa harus bikin keributan yang tidak perlu. Kemudian, kalau ada manusia lain yang berbeda dengan kita, ya… sudahlah, untuk apa sih capek-capek bahas perbedaan terus, wong terlepas dari semua itu, kita semua sama-sama manusia yang ingin sejahtera dan bahagia ‘kan?

Semoga 2017, dengan segala hiruk pikuknya, banyak kebaikan serta berkah juga mengiringi, dan kita semua diberi kekuatan untuk melewatinya.