“Masyarakat Indonesia menjunjung tinggi budaya ketimuran.”

“Indonesia adalah negara beragama, berdasarkan sila pertama Pancasila.”

Nampaknya kedua ungkapan ini telah menyebabkan tabunya banyak hal di Indonesia, terutama seksualitas. Di Indonesia, jarang sekali ditemui pembicaraan yang terbuka oleh masyarakat umum tentang hal-hal berbau seks, apalagi adanya obrolan santai tentang aktivitas seksual bersama teman atau orang-orang terdekat.

Hal ini disebabkan tabunya persoalan seksualitas di Indonesia. Diberlakukannya Undang-undang Pornografi, pemblokiran situs-situs pornografi oleh Kemkominfo, penggrebekan hotel dan indekos, hingga stigma yang sangat negatif terhadap pembagian kondom, merupakan beberapa wujud konkret dari persoalan ini.

Di Indonesia, terdapat dua norma yang memiliki andil dalam membuat tabunya diskusi soal seks. Norma agama, yang cenderung membatasi seks hanya sebagai aktivitas yang dapat dilakukan sepasang wanita dan pria yang menikah dan sebagai ‘aktivitas mandat’ melanjutkan keturunan, menganggap seks bebas, konsumsi minuman beralkohol, dan pesta-pesta di mana laki-laki dan perempuan dapat bebas bertemu, berkomunikasi, dan melakukan kontak fisik, sebagai hal-hal berbau maksiat. Kemudian norma kesopanan (yang kini pun telah banyak dipengaruhi norma agama) di mana masyarakat pun menentang segala hal-hal ‘kotor’ dan ‘tidak pantas’, termasuk segala persoalan terkait seks. Inilah kemudian yang membuat pembicaraan dan diskusi tentang seks menjadi topik yang tabu dan ‘tak pantas’ untuk sebebas-bebasnya dibahas. Apalagi jika sudah menyangkut seksualitas ‘tidak begitu familiar’ di Indonesia seperti LGBT dan aktivitas-aktivitas seks yang ekstrem.

Namun apakah hal ini lantas membuat Indonesia menjadi negara yang dapat diunggulkan moralnya? Apakah lantas, setiap orang di Indonesia bisa pergi ke manapun dengan rasa aman tanpa rasa terancam akan pelecehan dan kekerasan seksual? Apakah tidak ada wanita yang hamil di luar nikah di Indonesia? Apakah tidak ada orang yang menderita penyakit menular seksual (PMS)?

Agak sulit untuk membicarakan moral, karena harus terlebih dahulu menggali dalam-dalam isi hati nurani setiap masyarakat Indonesia dan menyesuaikannya dengan fakta yang ada. Setiap orang di Indonesia pun juga belum tentu sama-sama konservatifnya, sama-sama tertutupnya atau sama-sama terbukanya mengenai seksualitas.

Karena itu, kita mulai dengan fakta saja terlebih dahulu. Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2017 mengenai kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP). Kasus KTP  ini dibagi berdasarkan ranah terjadinya, yakni menjadi kekerasan dalam ranah personal (adanya hubungan darah, kekerabatan, perkawinan, dan pacaran), komunitas (tidak ada hubungan darah, kekerabatan, dan perkawinan), dan negara (pelaku kekerasan adalah aparatur negara dalam kapasitas tugas). Di ranah personal, KTP yang berupa kekerasan seksual mencapai 3.495 kasus dan di ranah komunitas, kekerasan seksual mencapai 2.290 kasus. Perlu diketahui, angka-angka ini hanya mencakup kasus-kasus dengan yang dilaporkan dan ditangani dengan perempuan sebagai korban, belum mencakup kasus yang tidak dilaporkan dan kasus yang dialami oleh laki-laki.

Angka kehamilan di luar nikah pun mencapai angka yang cukup tinggi dan banyak sekali di antaranya yang merupakan perempuan usia remaja. Menurut informasi dari BKKBN tahun 2014, Data Sensus Nasional pun menunjukkan 48-51 persen perempuan hamil adalah remaja. Di tahun 2015 pun dilaporkan, berdasarkan informasi yang diungkap oleh BKKBN bahwa angka kehamilan di kalangan remaja Indonesia cukup tinggi, yakni 48 dari 1000 remaja, di mana yang tertinggi adalah di Kalimantan Barat, yakni 108 dari 1000 remaja. Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar dan tempat di mana banyak muda-mudi berkumpul dan berinteraksi, pun tak luput akan hal ini. Menurut catatan Dinas Kesehatan DIY, 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta yang melakukan persalinan dan 976 di antaranya hamil di luar pernikahan.

Salah satu Penyakit Menular Seksual (PMS) yang paling berbahaya adalah HIV/AIDS. Di Indonesia, kasus HIV/AIDS mencapai angka yang juga tidak bisa dibilang rendah. Sebagaimana laporan dalam data Kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015,terdapat kasus HIV sebanyak 184.929. Di bulan Juli-September 2015, terdapat sejumlah 6.779 kasus HIV. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah pada hubungan seks tidak aman heteroseksual (46,2 persen) dan lelaki sama lelaki (24,4 persen). Kemudian untuk kasus AIDS, terdapat sejumlah 68.917 kasus sampai September 2015. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun(32 persen).

Dengan data-data tersebut, sulit untuk mengasosiasikan ‘keluhuran moral’ yang selama ini digadang-gadangkan di Indonesia dengan cara mati-matian menutupi soal seksualitas seperti yang selama ini dilakukan. Dari data-data tersebut pun banyak di antaranya yang merupakan gunung es: yang diketahui dan dilaporkan jauh lebih sedikit daripada yang tidak diketahui. Jika dibandingkan dengan negara lain yang tidak menganggap seksualitas sebagai hal tabu, terdapat kontradiksi yang cukup fantastis. Sebagai contoh, di Swiss, di mana tingkat kepuasan seks cukup tinggi, situs pornografi dibiarkan bebas diakses dan ada program pendidikan seks sejak taman kanak-kanak, tingkat kehamilan remajanya paling rendah di dunia.

Nampaknya, upaya menggrebek hotel-hotel melati dan indekos, melarang penjualan kondom saat hari Valentine, dan memblokir situs pornografi  belum bisa membendung tingginya angka-angka ini. Bahkan menurut pengamat strategi Shafiq Pontoh, sebagaimana dilansir sidomi.com, pemblokiran situs pornografi dipandang kurang efektif, sebab makin dilarang sesuatu, justru kian dicari.

Terbukti, bahwa hanya dengan adanya pendidikan agama yang selalu diunggulkan untuk menekan nafsu dengan ketakutan akan dosa, kasus-kasus seperti di atas belum dapat dicegah. Nyatanya, masyarakat Indonesia tetaplah manusia sebagaimana manusia lainnya, yakni sebagai makhluk seksual yang butuh untuk dipenuhi hasratnya. Bedanya dengan manusia negara lain, pengetahuan dan diskusi soal seksualitas, yang meliputi kesehatan reproduksi dan etika dalam berhubungan seksual sangat minim didapatkan, sehingga kasus-kasus seperti di ataslah yang terjadi.

Ada baiknya perspektif mengenai seksualitas di Indonesia harus mulai diubah, terutama oleh orang tua dan sekolah, karena perilaku anak di luar rumah sangat bergantung pada bagaimana cara ia dibesarkan dan dididik. Rendahnya inisiatif orang tua untuk memberi pendidikan seks dan terbatasnya pendidikan reproduksi di sekolah juga andil dalam fenomena-fenomena di atas. Ketidaktahuan anak soal seks dan soal tubuhnya sendiri dapat menyebabkannya terjebak dalam berbagai pertanyaan yang harus ia cari sendiri jawabannya dengan berbekal pengetahuan dasar yang minim. Akankah masa depan anak bangsa  terus menerus ditukar dengan perasaan risih, kotor, dan tabu?

Ternyata, seks tidak setabu yang dikira. Hanya sedikit fenomena yang tampak di permukaan dari keseluruhannya. Nyatanya, ketika pemerintah dan para pasukan pembela moral kian gencar beraksi untuk menutup, melarang, dan menangkap di sana-sini, manusia tetaplah manusia, yang nalurinya akan terus menuntutnya untuk mencari.