Jelang hari kemerdekaan, Banda The Dark Forgotten Trail adalah film paling pas untuk ditonton. Sebagai salah satu dari sedikit film dokumenter yang berhasil menembus bioskop komersial, film Banda menguak fakta-fakta sejarah yang dapat membangun rasa nasionalisme ke-Indonesia-an lebih kuat lagi. Selain itu, narasi yang dibacakan dengan sangat apik oleh Reza Rahadian membuat muatan sejarah tidak terasa berat, namun terasa seperti cerita tragis yang sedang dikisahkan. Ringan, namun mengerikan.

Kesan mengerikan memang cocok untuk mengisahkan sejarah Pulau Banda. Banda dulunya adalah primadona karena buah pala yang dianggap lebih berharga dari emas. Sejak abad ke-14, pedagang dari Cina, Arab, dan India sudah meramaikan Banda. Portugis, Inggris, dan Belanda bahkan berperang habis-habisan untuk merebut Banda karena pala. Hingga akhirnya di masa kolonial di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, genosida pertama di nusantara terjadi, yang kemudian hanya menyisakan sedikit penduduk asli Pulau Banda.

Orang-orang dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan pun didatangkan untuk menjadi budak perkebunan. Dari situlah penduduk asli yang tinggal sedikit melakukan perkawinan campuran dengan pendatang. Akhirnya Banda menjadi begitu plural dan multikultural. Beberapa tokoh nasional, seperti Hatta dan Sjahrir, bahkan terinspirasi saat mereka diasingkan ke Banda. Inspirasi membangun Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa, seperti Banda.

Kedua hal itu lah yang membakar semangat sang sutradara Jay Subyakto menggarap film Banda dengan serius. Ia ingin menyuarakan pentingnya kesatuan bangsa Indonesia. Apalagi akhir-akhir ini banyak isu-isu SARA yang mengancam keutuhan bangsa. Ditayangkan di bulan Agustus ini, pesan-pesan dalam film Banda memperoleh momentum yang sempurna.

Diproduksi oleh LifeLike Pictures, film Banda tak hanya unggul dalam konten sejarahnya, namun juga visualisasinya yang memanjakan mata. Keindahan laut Banda, juga alam yang masih perawan dapat membangkitkan imajinasi liar. Pun benteng-benteng sisa peninggalan kolonial yang masih berdiri tegak di banyak tempat di Banda yang merayu penonton mengunjunginya. Karena semua itu, film Banda The Dark Forgotten Trail menjadi media jelajah sejarah yang begitu menyenangkan dan jauh dari kesan membosankan.