Hutomo Mandala Putra alias Tommy, anak kesayangan mendiang Soeharto, barangkali terinspirasi dari kemenangan tak terduga Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat. “Jika Trump saja bisa menang, kenapa saya tidak?” Mungkin begitu pikir pangeran Cendana ini.

Obsesinya menduduki tahta kepresidenan belumlah pudar. Di tahun 2014 ia hendak dicalonkan dalam pemilihan presiden dan diusung olehPartai Golkar, namun sayang tak banyak dukungan ia raih dan kegagalan pun ia dapatkan. Untungnya Tommy tak putus asa, tiga tahun setelahnya ia resmi didukung oleh Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) dan Partai Berkarya untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang.

Bayangkan jika Tommy berhasil menjadi Presiden, setiap orang yang memprotes kebijakannya barangkali akan ia musnahkan. Sama seperti ketika ia ‘pelesir’ di Cipinang atas dakwaan pembunuhan Hakim Agung Kartasasmita lima belas tahun lampau, ia pun membuat 40 orang narapidana dilempar ke penjara lain atas dosanya memprotes keistimewaan yang diterima Tommy.

Dalam liputan khusus yang terbit pada Mei 2002 lampau Majalah Tempo mendeskripsikan bagaimana pemindahan tahanan yang terkesan kasar dan mendadak tersebut berlangsung. Singkat, efisien, dan tanpa ribut-ribut, begitulah deskripsi Tempo atas pemindahan 40 napi pada 5 April 2002 silam. Para napi tersebut disebar di tiga tempat yaitu Pekalongan, Cirebon, dan Ambarawa.

Liong, nama samaran, salah satu napi yang dipindahkan ke Pekalongan bercerita, “Saya dan kawan-kawan masih kaget dan belum tahu kenapa Pak Ngusman (kepala LP Cipinang pada masa itu) memindahkan kami” kisahnya. Tapi Liong tidak sendirian, ada juga Abuh (juga nama samaran), napi lain yang ikut terseret ke luar dari Cipinang dan dipindahkan ke Ambarawa karena memprotes soal Tommy Soeharto. Abuh mengaku kesepian karena tak punya siapa-siapa di penjara barunya tersebut.

Dalam status tahanan saja Tommy dapat dengan enaknya menyingkirkan orang, apalagi jika ia mendapatkan kekuasaan penuh saat menjadi presiden nanti. Dengan uang yang dikeruk dari bisnis makmur semasa ayahnya berkuasa, ia bisa melakukan apa saja. Saat di Cipinang ia menempati sel dengan pendingin ruangan, bebas bertemu siapa saja, dan dengan leluasa mengatur bisnisnya dari tempat pelesirnya, ia pun bisa memilih pengawal yang ia inginkan. Penjahat legendaris Al Capone – jika ia masih hidup – barangkali akan iri mendengar kisah hidup pengeran kita ini.

Dan ternyata semua kemudahan yang ia dapatkan kala itu tidaklah cuma-cuma. Sumber Tempo di penjara memberikan catatan bahwa, untuk merenovasi tempat huniannya, Tommy mengeluarkan ongkos Rp 50 juta. Ia juga memberi ongkos lain berupa pembangunan teras Masjid Baiturrahman, yang ada di dalam LP, sebesar Rp 30 juta. Setelahnya, ia masih menggelontorkan dana sebesar Rp 55 juta untuk membiayai pembangunan ruang besuk baru bagi nara pidana. Ruangan itu besar, seperti yang Tempo gambarkan, luasnya satu setengah kali lapangan voli. Bentuknya mirip hanggar dan di dalamnya terdapat toilet dan musala kecil.

Dan di masa uang menjadi sesembahan seperti sekarang ini, mari kita bayangkan jika pangeran Tommy benar-benar menjabat sebagai Presiden. Tapi tak usah pesimis dulu, saat di dalam bui saja ia bisa menyulap LP Cipinang menjadi hunian nyaman seperti pada iklan real estate di televisi, kenapa kita harus berburuk sangka dengannya? Barangkali memang benar, Tommy Soeharto adalah seorang penyihir ulung, mungkin saja ia dapat berbaik hati hendak mempergunakan tongkat saktinya demi memperbaiki negeri kita sekarang. Simsalabim!