Saya tidak mengenal Jakarta secara langsung, pun kota ini tak mengenal saya pula. Saya hanya merasakan Jakarta dari narasi-narasi yang dicipta oleh para penulis, pembuat film, dan pemusik, juga dari berita-berita yang saling berkejaran di berbagai media, lain tidak.

Seno Gumira berkali-kali mengeluhkan bagaimana Jakarta bersama dengan kemacetan dan orang-orang di dalamnya begitu menjengkelkan lewat esai-esai satir yang ia tulis. Namun tokh pada akhirnya ia sadar bahwa ia begitu mencintai Jakarta, beserta kekonyolan dan carut-marut di dalamnya. C’mon Lennon bersorak sorai dengan riangnya ketika memberi dukungan kepada tim sepakbola kandang kesayangan mereka; Persija.

Berdesak-desakkan penonton Jakarta,
memberi dukungan Jakarta,
penuhi stadion ibu kota.
Bersorak; Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.

Begitu penggalan liriknya.

Namun ada suatu tempat di Jakarta yang begitu ikonik dalam benak saya, bukan karena memiliki pengalaman fisik dengan tempat tersebut melainkan karena kondisi absurd yang dialami tokoh-tokoh dalam sebuah cerita fiksi yang berlatar Jakarta tahun 1950an. Cerita ini ditulis dengan sangat lihainya oleh seorang penulis cum sutradara legendaris bernama Misbach Yusa Biran. Tempat itu adalah: Pasar Senen.

Sejak tahun 1930an Pasar Senen tak hanya mewujud sebuah tempat transaksi ekonomi semata, namun juga menjadi tempat bertukar tangkap gagasan bagi para intelektual pra-kemerdekaan. Sebutlah mereka Chairul Saleh, Adam Malik, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang konon, kerap menggelar pertemuan di kawasan ini. Setelah era kemerdekaan, kompleks ini menjadi tempat jujugan favorit bagi para seniman dan yang mengaku seniman Jakarta. Kelompok yang dijuluki Seniman Senen pada waktu itu sebut saja Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh dan H.B Yasin.

Tapi sebenarnya, bagaimana kondisi Jakarta pada era tersebut? Claire Holt dalam buku Art in Indonesia: Continuities and Change mendeskripsikan Jakarta layaknya kota metropolitan pada umumnya, “Sebuah pasar yang besar, sebuah tempat pertukaran sentral dari semua jenis barang, pelayanan, dan ide-ide, dari kacang sampai produk otomotif, dari usaha daur sampah sampai urusan politik tingkat tinggi, dari keahlian merias sampai keahlian kritik seni.

Ibukota adalah pusat ahli pengetahuan nasional, tempat pangkalan industri film yang sedang naik daun, akademi teater modern dan sarang para kritikus seni. Jakarta adalah markas media massa nasional dan segala organisasi dalam setiap bidang. Kota ini memiliki perusahaan paling megah serta perkampungan-perkampungan yang paling kumuh. Penduduknya adalah warga negara yang paling terpelajar dan kaum proletar urban yang dungu.” Kondisi seperti inilah yang dihadirkan dalam sebuah kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen milik Misbach Yusa Biran.

Seniman adalah sosok yang sangat disorot dalam cerita ini, mereka dikisahkan dengan jenaka sekaligus menyedihkan. Dan Pasar Senen adalah kompleks di mana para seniman dan sok seniman ini merayakan kebebasan mereka, saling berkumpul, meratapi nasib, membincangkan kehidupan seniman lain, ditemani beberapa gelas kopi kecil, asap rokok, dan putu dari sebuah warung putu merek “Cirebon”.

Yang paling teringat mungkin adalah kisah sorang tokoh fiktif bernama Indra Dukawan. Di sebuah warung kopi, tiba-tiba ia dengan lantangnya berkata; “Kalau Bung seniman, jangan tinggal di kampung!” kepada seorang yang tak ia kenalnya, yang ia kira adalah seorang seniman karena memakai pakaian lecek ‘khas’ bangsa seniman. Atau tentang mereka yang tak pernah sekalipun menghasilkan karya seni namun menamai diri sebagai seniman, demi menutupi status pengangguran yang mereka emban.

Para seniman di Pasar Senen ini umumnya hidup miskin dan serba tak berkecukupan, sekalinya mereka mendapat honorarium besar, uang itu mereka bagi dengan kawan-kawannya dengan mentraktir kopi, kue putu atawa bir. Namun, potret kemiskinan ini memang berasal dari kehidupan nyata para seniman Senen pada waktu itu.

Kemiskinan para seniman-seniman Pasar Senen ini sangat kontras dengan arus utama seni di Jakarta seperti seniman-seniman kesayangan Soekarno yang hidupnya luar biasa mewah. Dullah misalnya, seorang kurator seni Istana Negara ini memiliki kamar pribadi di dalam Istana Negara. Pameran-pameran seni besar biasa diselenggarakan di galeri permanen di Jakarta, yaitu Balai Budaya, Hotel des Indes dan Gedung Pemuda. Bahkan pada tahun 1957, pameran tunggal Harijadi memakan pengeluaran hampir sebesar Rp 25.000. (Holt, 1967)

Nilai ini sangat berjarak dengan penghasilan penerbitan cerpen yang hanya sebesar Rp 50 dan sajak Rp 25. Sedang biaya hidup sebulan untuk bayar kos dan makan paling tidak sekitar Rp 300. Dengan nilai rupiah pada waktu itu, orang yang mengandalkan hidupnya dari menulis harus membuat paling tidak enam cerpen dalam satu bulan, itu pun kalau semua bisa dimuat.

Namun, dalam cerita fiksi tersebut, meski sadar akan kemelaratannya, para seniman ini masih saja keras kepala dan tak mau bekerja dengan orang lain karena tak ingin menghamba pada mereka.

Sejak akhir tahun 1960an tempat nongkrong kesayangan seniman ini berpindah ke kompleks Taman Ismail Marzuki di Cikini. Kini Pasar Senen tak seberjaya dahulu. Kejayaannya telah berakhir, tapi untungnya Pak Misbach telah mendokumentasikan keajaiban itu dalam Keajaiban di Pasar Senen.