Bagaimana sesungguhnya perkembangan hubungan manusia dan alam, serta kedudukan alam bagi manusia serta sebaliknya? Persoalan tersebut layak diperbincangkan seiring dengan kegiatan manusia yang mentrasformasi alam besar-besaran. Banyak persoalan alam diabaikan, seolah alam menjadi hal diluar kehidupan manusia. Persoalan ini dalam pandangan Karl Marx, khususnya hubungan ekologis dengan manusia memiliki tempat istimewa dalam pemikirannya. Karl Marx seolah menegaskan bahwa hubungan manusia dan lingkungan adalah pondasi dari kehidupan manusia.

Belajar dari Pengalaman Karl Marx

Pada musim gugur tahun 1841, Marx tampak menyerah dalam karir akademiknya dan memilih jalur jurnalistik sebagai salah satu redaksi koran di Rhineland, Jerman yakni Rheinische Zeitung. Ketika menjabat sebagai redaktur, ia menulis sebuah alah satu artikel yang berjudul “Perdebatan Hukum atas Pencurian Kayu” yang membawa dia menyoroti peristiwa yang membumi dalam kehidupannya, selepas perdebatannya terhadap filsafat Hegel. Dalam artikel tersebut, dia memperjuangkan kepentingan petani kecil untuk hidup. Ketertarikan Marx dalam menganalisis peritiwa tersebut merupakan cikal bakal dirinya mengamati perkembangan dunia ekonomi-politik.

Singkat cerita, dalam artikel tersebut mengulas tentang penghapusan hak-hak petani kecil akibat pertumbuhan industri dan sistem kepemilikan yang sebelumnya berhubungan dengan apa yang disebut “tanah bersama”. Pembelaan Marx, diawali oleh sebuah kronologi yang mengharukan, dimana petani kecil yang mencari kayu mati untuk kayu bakar di sekitar hutan milik tuan tanah, diusir dan diberi sanksi tegas karena si tuan tanah menolak hak petani tersebut. Alhasil, kasus tersebut sampai di Diet Rhenish (Majelis Provinsi Rhineland) yang kemudian menghasilkan regulasi dengan menempatkan petani kecil yang mengambil kayu setara dengan penebang kayu, meskipun makna tindakannya sangat berbeda.

Marx mengamati bahwa dengan cara itu, pemilik hutan/tuan tanah berusaha mengubah menjadi “nilai” (sumber kekayaan pribadi), atas apa yang sebelumnya tidak bernilai di mata pasar seperti kayu mati dan hasil hutan. Dengan berdalih untuk melindungi hutan yang difasilitasi oleh negara (konservasionistik), mereka secara tidak langsung mereduksi pengurusan hutan ke pengurusan nilai dengan dengan menggunakan hasil alam yang dimiliki secara pribadi. Bagi Marx, negara yang justru mendukung regulasi irasional seperti ini, mengubah warga biasa yang menjalankan hak ulayat menjadi kriminal (musuh hutan). Akhirnya hubungan antara petani kecil dengan alam terhapuskan.

Parahnya, petani kecil tidak terakomodasi dengan regulasi negara, semua hukum rasional dan hak-hak adat telah gagal mengungkap alasan-alasan penggusuran yang tidak terhindarkan ini demi kepentingan pemilik hutan selaku tuan tanah. Dari sebuah peristiwa ini, timbul semangat Marx untuk menolak atas pengaplingan atas bagian dari bumi untuk kepemilikan privat. Semangat Marx dapat dilihat melalui analisis ekonomi politik yang mendalam seperti dalam Das Kapital, bahwa dalam proses ekonomi ada kepentingan di dalamnya yang cenderung ke arah kaum borjuis, termasuk pemisahan manusia terhadap alam.

Konsep Keterasingan Manusia dan Alam

Dalam menjabarkan konsep keterasingan manusia dan alam, dapat ditelaah dalam karyanya yang berjudul Economic and Philosophical Manuscript of 1884, khususnya tentang konsep keterasingan kerja (alienasi kerja). Konsep tersebut menjabarkan terasingnya pekerja dari, (1) obyek pekerjaannya; (2) proses kerja; (3) keadaannya sebagai manusia; (4) dari sesama manusia, pengasingan sosial. Empat unsur konsep tentang alienasi kerja tersebut tidak dipisahkan dari keterasingan manusia dari alam.

Mengutip apa yang disampaikan Marx tentang pentingnya alam dalam universalitas manusia, keseluruhan alam merupakan badan inorganik manusia, yakni sebagai alat langsung bagi kehidupan dan sebagai materi, obyek, serta alat aktivitasnya. Meskipun alam ditempatkan sebagai badan anorganik atau tidak tergabung dalam tubuh manusia, tapi manusia hidup dari alam, dan alam secara tidak langsung adalah bagian dari tubuhnya. Oleh sebab itu, manusia harus mempertahankan dialog dengan alam jika ingin bertahan karena kebutuhan kita sebagai manusia tidak terlepas dari alam itu sendiri dan kita secara tidak sadar bagian dari alam.

Dalam konsep ini, Marx tampak sekali menggunjing tentang komunisme primitif, karena manusia membangun hubungan kesejarahannya dengan alam, dimediasi oleh aktivitas produksi untuk kehidupan manusia, seperti halnya aktivitas memburu dan bercocok tanam dengan asas kolektif. Alam dengan begitu bermakna praktis bagi manusia dan manusia mereproduksi keseluruhan alam. Namun, disini Marx menegaskan bahwa alam direproduksi tidak sebatas pengertian ekonomi sempit, melainkan memproduksi sesuai dengan hukum-hukum keindahan.

Pada perkembangannya, hubungan manusia dan alam ditransformasikan melalui apa yang disebut Adam Smith dengan ‘akumulasi primitf’ dengan pengaplingan tanah yang dimiliki secara bersama, seperti munculnya perkebunan besar sehingga menyingkirkan petani kecil. Memasuki era kapitalisme, dorongan ekonomi-politik kaum borjuis atau kapitalis dibawah hukum supply and demand semakin mengasingkan manusia dari alam, manusia dipisahkan dari aktivitas kerjanya dengan alam dan peran aktifnya untuk mentransformasi alam. Manusia yang dipisahkan dengan alam menjadi awal mula dari mobilisasi petani kedalam pelukan era industri yang semakin mencekik mereka (proletarisasi)

Dominasi tuan tanah atas alam sendiri, dijabarkan oleh Marx sebagai perkembangan dialektis dari konsepsi keterasingan yang ia pikirkan. Pertama, dominasi atas alam oleh mereka yang memonopoli tanah sehingga menguasai kekuasaan mendasar alam. Kedua, dominasi bumi dan benda mati yang merepresentasikan kekuatan tuan tanah dan kapitalis. Oleh sebab itu, dikuasainya alam oleh segelintir manusia atau pemilik modal menjadi akar dari keterasingan manusia seperti petani kecil dan juga masyarakat adat yang sangat bergantung pada alam.

Melekatnya alam dalam cengkeraman kekuasaan pemilik tanah, dengan demikian alam telah menjadi bagian dari tuhun anorganik pemilik modal yang digunakannya untuk mendominasi petani. Akibatnya, alam dipahami sebagai benda mati yang dapat mendominasi manusia (dehumanisasi), seperti halnya uang dan bahkan alam sama halnya dengan manusia yang dapat diperjualbelikan menjadi komoditas yang menguntungkan tuan tanah.