Lagi-lagi, lini masa media sosial membuat bola-bola panas yang tidak asyik untuk dibahas lebih mendalam. Kali ini, lini masa diramaikan oleh beberapa konten mengenai kritikan atas update status twitter yang dimiliki oleh salah satu organisasi kumpulan BEM yang mengaku representasi mahasiswa Indonesia, yaitu BEM Seluruh Indonesia (SI). Kalau ditanya apa sih sebenarnya permasalahan utama negara kita saat ini, saya yakin BEM SI ahli dalam menjawab hal tersebut. Inilah isu yang saat ini viral di media sosial. Gerakan kepung istana yang dilakukan oleh BEM SI pada akhir bulan Mei ini mendapatkan banyak tanggapan pro-kontra. Inilah salah satu tanggapan kontra yang berhasil penulis dokumentasikan dari Platform Line dan Twitter

 

Status Line Alfahmi
Status Twitter BEM SI

Update status yang dilakukan oleh user Line bernama Alfahmi tersebut mampu meraih simpati netizen dengan total like sebanyak lebih dari 900 dan jumlah komentar hampir mencapai 500 pendapat. Pro-kontra pun mengalir deras. Penggunaan kata kesejahteraan rakyat yang dilontarkan oleh BEM SI saya kira tak lebih jauh dari bagaimana seorang politis beretorika dalam mengambil simpati rakyatnya. Entah bagaimana kalian mengartikan kesejahteraan rakyat, mahasiswa kekinian adalah mahasiswa yang lebih apatis dari sekedar korban doktrinasi organ mahasiswa yang mencoba menjajakan surga kepada para pengikutnya.

Lalu apakah yang ada dipikiran mahasiswa kekinian saat melihat respon pihak pro yang menuduh bahwa mahasiswa kekinian hanya sibuk duduk diruang kuliah ber-AC dengan mendamaikan diri dengan tuntutan kuliah yang semakin berat? Saya kira tidak. Karena sebenarnya, pihak kontra bukan mempermasalahkan adanya gerakan massa, sebagai mahasiswa yang mempunyai tangung jawab pengontrol dan agen sosial, hal tersebut sah-sah saja, tetapi hal utama yang membuat kenapa BEM SI pantas untuk di bully yaitu adalah urgensi isu yang mereka naikkan dalam setiap demonstrasinya.

Untuk menggali sebuah aksi massa, BEM SI memulai ini dengan propaganda yang bersifat murahan. Maksud saya, sebagai orang awam, saya mengira bahwa isu yang dibawa adalah isu yang sama saja dan tidak mempunyai dasar empiris maupun aksiologis yang jelas. Misal seperti beberapa waktu yang lalu, BEM SI menyerang pemerintah dengan isu kenaikan harga cabe, kini BEM SI menyerang pemerintah dengan permasalahan subsidi listrik 900 volt.

Apakah ini sebuah urgensi? kalau melihat dari intensitas pemberitaan media massa, saya kira tidak

Tetapi apakah BEM SI melakukan konsolidasi isu kepada semua mahasiwa yang ada di Indonesia? Apakah BEM SI mampu untuk merangkul golongan lain untuk mengusahakan isu tersebut dinaikan menjadi isu bersama mahasiswa? Saya kira tidak. Karena saya berpikir bahwa BEM SI adalah sebuah organisasi yang lahir dari pemenang pemilihan mahasiswa yang berasal dari satu organisasi yang sama. Saya tidak akan memberi tahu organisasi apa itu, tapi teman-teman bisa melihat dari siapakah anggota dari BEM SI dan siapakah BEM Universitas yang bukan merupakan anggota dari BEM SI. jadi wajar saja, isu-isu dinaikkan tentu tertebak sebagai isu-isu yang ditunggangi oleh berbagai macam kepentingan sponsor-sponsor mereka.

Diakhir tulisan saya ini, saya berharap kepada BEM SI agar kembali mawas diri dalam melihat kondisi mahasiswa yang telah apatis dalam melihat gerakannya. Apa yang sebenarnya salah dari gerakan kalian hingga kalian menyadari bahwa kebodohan utama sebuah gerakan adalah sebuah pernyataan oposisi saat dukungan dan fondasi gerakan belum terbentuk secara penuh. Saat kalian melihat isu yang kalian naikkan belum menjadi viral, tidak ada salahnya menetapkan diri sebagai penyeimbang dalam progres jalannya pemerintahan. Sebuah gerakan yang tetap memacu kepekaan mahasiswa sekaligus tidak meninggalkan esensi utama seorang mahasiswa, yaitu itu belajar, lulus dan mengabdi ke masyarakat.