Globalisasi dalam aspek komunikasi telah membuat interkonektivitas antar elemen-elemen masyarakat. Tiap individu mampu untuk tergabung dalam sebuah jaringan yang tidak lagi terhalang oleh ruang dan waktu. Setiap ide dan gagasan dapat dirembukkan bersama hingga disebar dan dijadikan sebuah opini bersama dalam sebuah komunitas. Tiap individu juga  mampu memberikan ekspresi terbaiknya dalam hidup lewat medium-medium platform yang makin banyak pada saat ini.

Tetapi dalam perjalanannya, konsep ideal tersebut ternyata sulit untuk dijalankan. Salah satu kesulitan tersebut adalah makin besarnya bentuk keterasingan diri generasi milenial dalam menghadapi interaksi sosial. Individu dalam masyarakat modern mengalami ketakutan akan kesepian. Mereka memiliki hasrat yang kuat untuk diterima orang lain, dan memiliki ketakutan yang dalam akan ditolak. Kegiatan menciptakan kebersamaan dengan orang-orang dilandasi oleh ketakutan diisolasi oleh orang lain bukan untuk menciptakan hubungan yang akrab dan hangat

Kesepian sebagai sebuah ketakutan terbesar generasi milineal pada zaman menjadi pembahasan utama Zygmunt Bauman, seorang sosiolog kritis modern. Zygmunt mencetuskan sebuah gagasan yang Ia beri nama Modernity Sturgle With Ambiguity. Dalam pemikiran tersebut, Zygmunt menyatakan bahwa pada era indivudalistis saat ini, modernisasi telah mengubah secara mendasar konsep interaksi antara manusia.  Kesepian dianggap sebagai sebuah ketakutan dikarenakan generasi mileneal telah gagal untuk menentukan dirinya untuk mampu mengelola lingkungan sosialnya.

Sosiolog Polandia, Zygmunt Bauman (Sumber: http://jdrabinski.com)

Bagi Zygmunt dalam dunia individualistis, individu seharusnya mampu untuk mengelola lingkaran sosialnya dengan bijak dan sebaik-baiknya. Seorang manusia mempunyai hak absolut untuk menentukan dengan siapa dia berteman sesuai dengan kebutuhannya.  Tetapi permasalahan utamanya, individu pada zaman modern hanya berfokus pada kondisi mempertahankan zona nyamannya.

Zygmunt mencontohkan hal tersebut dalam hal yang sangat mudah kita pahami, yaitu dari segi penggunaan media sosial. Media sosial saat ini telah menjadi lahan pertempuran berbagai individu dengan kepentingan yang dibawanya. Tak jarang, berbagai utaran kebencian mengalir dari berbagai sisi untuk mensubjektifkan berbagai pemikiran yang dianggapnya baik.

Pada akhirnya, individu-individu akan menjaga zona nyamannya dengan melindungi lingkungannya tanpa melihat adanya kebenaran diluar sana. Padahal menurut Zygmunt, apa yang dilakukan oleh mereka adalah sebuah pantulan dari cerminan dirinya. Cerminan tersebut tentunya akan terasa egois untuk dipertahankan tanpa melihat adanya nilai-nilai lainnya diluar sana.

Padahal, kesepian dapat kita hindari dengan menentukan diri dalam mengelola komunitas dan jaringan. Dimana secara bijaksana, kita mampu mengorbankan diri kita kepada komunitas dan berhak secara penuh untuk memiliki dan mengelola jaringan yang kita punya.

Dan pada akhirnya kesepian adalah sebuah ketakutan yang utopis apabila generasi milenial mampu membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran terbuka. Seperti contoh, seharusnya individu mampu menggunakan media sosial sebagai alat pemersatu. Media sosial seharusnya mampu menjadi sarana bagi individu untuk mampu bertemu banyar orang agar dapar secara bijaksana berinteraksi dan memperluas wawasan.