Akhir-akhir ini sering terdengar komentar atau terdapat tulisan-tulisan yang menyalahkan kecintaan anak muda terhadap teknologi atas degradasi dalam moral, kemandirian, dan interaksi antar manusia. Sering komentar maupun tulisan-tulisan itu membandingkan situasi saat ini dengan zaman dahulu, atau sekedar 20 tahun ke belakang, mengenang bagaimana pola interaksi manusia dulu jauh lebih baik daripada sekarang, bagaimana anak-anak dulu yang tidak dimanjakan teknologi, bermain dan berinteraksi dengan kawan-kawannya di dekat sekolah dan anak-anak tetangganya. Bagaimana dulu tetangga begitu dekat dan saling membantu. Bagaimana generasi yang lebih tua lebih tahu sopan santun, lebih menghargai waktu, ataupun romantisme nostalgia ‘anak-anak ’90-an’ yang kadang agak berlebihan.

Tulisan-tulisan ataupun komentar seperti ini pun banyak sekali menyalahkan generasi muda. Mereka berkomentar bahwa anak muda zaman sekarang kurang sopan, manja, dan hanya peduli pada gadget. Seolah-olah generasi mudalah yang bertanggung jawab atas menurunnya semangat juang mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Generasi mudalah cikal bakal dari degradasi moral dan dilupakannya budaya gotong royong serta budaya ketimuran.

Hal ini tidak sepenuhnya salah. Pada kenyataannya, akan banyak ditemui saat ini anak-anak muda yang malas, manja, dan kurang memahami etika dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar mereka. Memang benar, bahwa sekarang kita akan lebih sedikit melihat anak-anak yang bermain kelereng, berkejar-kejaran, dan bersepeda di kompleks-kompleks pemukiman. Memang benar, bahwa di kafe-kafe bahkan warung-warung, kita mungkin akan lebih banyak melihat sekelompok orang yang menunduk dan memainkan gadget daripada berbincang-bincang dengan orang-orang yang satu meja dengannya. Bahkan, kita juga akan banyak melihat anak-anak yang menampilkan foto-foto dengan penampilan yang tidak sesuai usianya, mengucapkan, dan memberi komentar-komentar dengan kata-kata kasar di media sosial.

Akan tetapi, akankah ini sepenuhnya salah mereka? Apakah generasi muda yang sepenuhnya bertanggung jawab atas fenomena yang sangat disayangkan ini?

Kita harus ingat, bahwa pada era di mana teknologi komunikasi mulai menjadi kekuatan dunia, kebanyakan anak-anak muda yang sering disebut generasi Y, generasi Z, maupun generasi alpha ini masih di usia anak-anak dan remaja. Komoditas-komoditas dalam bidang teknologi komunikasi atau gadgets ini pada awalnya tidak dipasarkan bagi anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh dan berkembang, tapi kepada orang-orang yang sudah dewasa dan berpenghasilan, yang membutuhkan teknologi ini untuk mempermudah kerja mereka.

Ternyata, para orang tua dari generasi Y dan generasi Z menyadari betapa nyamannya teknologi ini bagi mereka, dan akan lebih baik lagi apabila kenyamanan ini juga mereka berikan kepada anak-anak mereka. Awalnya, teknologi ini diharapkan oleh para orang tua untuk lebih mudah mengawasi anak-anak mereka, misalnya dengan memberikan ponsel kepada anak, orang tua jadi lebih mudah mengawasi dan menghubungi anaknya di sekolah. Kemudian, komputer dan internet juga memberikan lebih banyak kemudahan bagi anak untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

Namun lama kelamaan, kenyamanan yang diberikan teknologi terhadap para orang tua ini pun berkembang. Tidak hanya memberikan mempermudah komunikasi dan belajar, orang tua sepertinya juga butuh gadgets untuk menyederhanakan tugas mereka sebagai orang tua. Maka dari itu, akan kita lihat bahwa anak-anak sekarang bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain games atau menonton youtube dan orang tua membiarkan saja. Beberapa alasan yang mungkin akan diberikan adalah ‘daripada anak saya main di luar’ atau ‘daripada anak saya merengek-rengek terus’.

Kebutuhan terhadap teknologi kemudian juga merambah kepada kebutuhan dalam rangka menutupi gengsi. Anak-anak yang tidak dibelikan ponsel akan ngambek karena teman-teman mereka di sekolah membawa ponsel. Apalagi anak-anak dari keluarga kelas menengah ke atas, ‘kompetisi’ di antara mereka akan cukup ketat. Anak yang memiliki iPhone 5S, bisa saja merengek kepada orang tua agar dibelikan iPhone 6S, karena hampir semua temannya sudah memakainya.

Demikian, harus dipahami bahwa anak-anak muda ini awalnya juga mengenal teknologi karena andil dari orang tuanya. Ini bukan sepenuhnya hal buruk, sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya tentang manfaat yang diberikan. Namun sayangnya, banyak orang tua yang tak memikirkan jangka panjang dari keberadaan gadgets ini di tangan anak-anak mereka. Akhirnya, mereka pun tak mempersiapkan anak-anak mereka dengan baik. Anak-anak diberi gadget, lalu mereka berhenti protes dan merengek, padahal tidak sesederhana itu.

Anak-anak belum diberikan pemahaman bahwa teknologi itu semestinya hanya sekedar memudahkan hidup kita, bukan menjadi pusat kehidupan kita. Bahwa, gadget yang kita miliki ataupun media sosial tidak mendefinisikan siapa diri kita sesungguhnya. Bahwa, etika, sopan santun, dan kasih sayang tidak boleh berkurang dengan adanya kemajuan teknologi.

sumber: huffingtonpost.com

Bahkan sekarang dapat dikatakan bahwa sebenarnya bukan anak-anak yang membutuhkan gadget, tapi orang tua-lah yang membutuhkannya. Orang tua butuh gadget untuk mengawasi anak. Orang tua butuh gadget untuk menghentikan anak yang merengek dan minta perhatian. Orang tua butuh gadget untuk membuat anak diam sementara mereka beristirahat atau melakukan hal lain, dan lain sebagainya. Padahal, apa yang dibutuhkan anak sejak dulu pada dasarnya tidak pernah berubah, yakni kasih sayang, perhatian, dan didikan yang baik dari orang tua.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa generasi Y, Z, dan alpha tidak sepenuhnya bisa disalahkan atas hal-hal yang telah kita sayangkan selama beberapa tahun terakhir ini, karena kebanyakan dari mereka pada awalnya hanya menerima tanpa persiapan. Di usia yang masih dini, mereka tentu tidak memahami apa konsekuensi dari keberadaan teknologi dan semua produknya itu. Namun, orang tuanyalah yang semestinya memahami.

Sebagai tambahan, tidak perlu juga menghabiskan banyak waktu untuk mengeluhkan fenomena ‘anak muda zaman sekarang’. Sebab, kita juga bisa melihat sendiri, banyak orang-orang yang tertolong karena adanya inovasi-inovasi teknologi yang digagas oleh generasi muda. Banyak lapangan pekerjaan dihasilkan karena teknologi. Banyak orang-orang kurang beruntung yang berkat teknologi  dan jari-jari lincah anak muda yang memanfaatkannya, kisahnya terdengar dan ia pun tertolong. Selain itu, tidak semua anak muda kerjaannya cuma mengikuti kehidupan selebriti dan pamer kehidupannya di media sosial. Banyak dari mereka yang justru menyuarakan pendapat dan berbagi gagasan-gagasan luar biasa atas berbagai permasalahan di negeri ini.

Bagi sesama kawan-kawan muda yang juga begitu gemar bernostalgia dan nyinyir terhadap kawan muda lainnya atas fenomena ini, ingatlah pula bahwa kawan-kawan sedikit banyak membutuhkan teknologi untuk menyelesaikan kuliah dan mendapat pekerjaan. Kawan-kawan juga mendapat banyak ruang untuk menyuarakan opini dan propaganda, serta memperkuat eksistensi. Sesungguhnya, kita tumbuh di era yang sama, dan dibesarkan dengan cara yang mungkin tak jauh berbeda, sehingga tak ada guna mendiskreditkan satu sama lain.

Karena itu, bukan masalah siapa yang salah, atau siapa yang lebih tidak becus. Hanya saja, kita semua, baik yang tua maupun muda, perlu sama-sama lebih dewasa dalam menyikapinya. Sebab setiap bentuk perubahan perlu disikapi dengan kedewasaan.