Penggunaan popok sekali pakai (pospak) semakin meningkat setiap tahunnya. Beragam keuntungan dan kepraktisan yang ditawarkan membuat para ibu yang memiliki bayi umur di bawah tiga tahun (batita) mulai meninggalkan pemakaian popok kain bahkan sejak 15 tahun terakhir. Kebutuhan pospak menempati rangking atas kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi setiap bulannya. Apalagi dalam setiap harinya setiap batita menggunakan setidaknya 4-8 pospak/hari. Bisa dibayangkan berapa banyak pospak yang digunakan dalam setiap bulannya. Namun sangat disayangkan penggunaan pospak yang terus menerus ini belum disertai dengan kebijaksanaan pengguna setelah memakainya.

Banyak sekali sampah pospak yang seenaknya dibuang ke sungai. Bahkan sebagian besar sampah pospak dalam keadaan kotor (masih terdapat feses) sehingga menimbulkan tingkat pencemaran yang terjadi semakin tinggi. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Brigade Evakuasi Popok (BEP) dari Lembaga Kajian ekologi dan Konservasi lahan Basah (Ecoton) di 9 kota besar di Jawa Timur, diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu menunjukkan beberapa fakta mencengangkan mengenai banyaknya sampah pospak yang telah mencemari kawasan sungai, utamanya Sungai Brantas.

1. 99,6% Sampah Pospak Dibuang di Kawasan Sungai Brantas

Jumlah yang sangat fantastis. Sungai seenaknya dijadikan sebagai tempat pembuangan umum untuk sampah pospak. Tidak hanya pospak untuk bayi namun juga pospak dewasa. Pun banyak ditemukan sampah diapers berupa pembalut wanita serta kondom di aliran sungai Brantas. Miris sekali. Jika kebiasaan membuang sampah pospak di sungai terus dilakukan apa jadinya Sungai Brantas 10 tahun lagi? Bisa penuh sesak oleh sampah pospak dan tentunya menjadi sumber penyakit.

2. Tidak Adanya Upaya Penanganan Sampah Pospak

Faktanya masih banyak pengguna pospak yang tidak mengetahui prosedur penanganan yang benar setelah pemakaian pospak. Alhasil, banyak yang seenaknya membuang ke sungai. Parahnya banyak yang enggan membersihkan terlebih dahulu. Tak jarang banyak dijumpai pospak bekas di sungai ataupun di TPA yang kotor dan sangat berbau sehingga memicu banyak lalat dan juga belatung. Sudah menjadi kewajiban Pemkot atau Pemkab serta Pemprov Jatim untuk lebih mempertegas peraturan  dalam menangani banyaknya masyarakat seenaknya membuang sampah pospak yang telah mencemari sungai. Pun menjadi tanggung jawab untuk mengangkut serta menangani pospak yang ada ke TPA.

3. Merusak Ekosistem Sungai dan Penyebab Berbagai Macam Penyakit

Begitu banyak sampah pospak yang dibuang ke sungai padahal banyak sekali biota yang hidup di sungai. Tidak hanya itu dari sungai Brantas juga digunakan sebagai air baku untuk PDAM di beberapa daerah di Jawa Timur. Sampah pospak ini sangat susah untuk diuraikan. Membutuhkan waktu lebih dari 500 tahun untuk bisa terurai seutuhnya. Ketika dibuang ke sungai membuat gel penyerap yang terkandung di pospak terurai di air kemudian dimakan oleh ikan. Bahayanya gel-gel tersebut menggandung bahan kimia yang berbahaya ketika dimakan. Alhasil ketika ikan tersebut dimakan manusia tentu akan sangat berbahaya. Bisa menimbulkan berbagai macam penyakit mulai dari gangguan pencernaan hingga kanker.

4. Banyak Ikan Jantan Berubah Menjadi Interseksual (Kebancian)

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh BEP sebanyak 30%  ikan jantan di Kalimas, Surabaya telah mengalami perubahan menjadi betina (interseksual). Perubahan ini disebabkan karena hormon ikan jantan yang terganggu akibat makan gel-gel popok yang terurai dari wadahnya.

5. Stigma Timbulnya Penyakit Kulit Akibat Membakar Sampah Pospak

Tidak bisa dipungkiri stigma yang berkembang di masyarakat mengenai dampak membakar pokok adalah alasan terkuat yang membuat banyak orang memilih membuang sampah pospak mereka ke sungai. Tidak ada pilihan lain untuk membuang sampah pospak yang ada. Apalagi lahan TPA yang terbatas. Pun tidak ada lahan untuk bisa melakukan penimbunan secara mandiri.

Miris. Banyak pihak yang harus ikut bergerak agar tidak semakin banyak sampah pospak yang dengan seenaknya dibuang ke sungai. Tentunya agar sungai juga tidak semakin tercemar. Ayo bergerak! Sungai bukan tempat sampah pospak!