Sesaat Rusia mengimbangi Inggris, segerombol penonton mulai was-was. Selangkah lagi orang-orang berparas Siberia itu turun dari pagar pembatas. Teriakan memecah langit. Tak seorang mengerti bahasa mereka tetapi gerak-gerik mereka mengantar pesan yang mengerikan. Orang-orang Inggris siap memasang badan dan setelah itu pertarungan dimulai.

Pertarungan tanpa siapa menang-kalah. Dalam satu hari, mereka mampu menghancurkan badan, ketakutan dan akal sehat mereka. Hancur-hancuran, ditahan, melarikan diri sambil menyicip asamnya percikan darah. Dua suporter Inggris dan Rusia ini berhasil menyuguhkan tontonan banal asyik, memuncak adrenalin yang datang tiba-tiba pada perhelatan Piala Eropa 2016.

Atau barangkali ada asupan tambahan dari kekuatan magis kota Marseille, lokasi bentrokan. Aura dan sejarah para pemberontak negeri hexagonal itu tercatat panjang, bisa diukur dari Revolusi Prancis. Simbol kota pelabuhan yang keras dan kasar boleh jadi menyihir urat-urat orang-orang Rusia. Tetapi, yang sebenarnya adalah selalu ada pemantik sebelum api menyala menyisakan abu. Dan itulah yang masih misteri.

Sementara misteri belum terkuak, maka jadilah cerita-cerita mitos manusia modern. Setinggi apapun akal sehat, setajam apapun nalar-logika, selalu ada upil kecil bernama insting. Memang kecil, tapi ampuh memanaskan ubun-ubun kepala.

Sejalan dengan itu, sikap orang-orang tua, bahkan kita sekalipun dalam keadaan serba sulit, tertekan atau terpojok, dengan satu tarik nafas berkata, “sabar.” Sambil mengingat-ingat Tuhan, pahala atau nasihat-nasihat, pengalaman lalu. Kalau tidak begitu, upil kecil itu yang bakal bertindak dan hasilnya bakal lain cerita.

Ambil contoh yang baru-baru ini terjadi di komplek Senayan. Meski mereka biasa interupsi, jangan mengira itu perkara biasa. Interupsi mempunyai isi yang tidak dapat ditawar-tawar. Saling ngotot, vokal tinggi, basa-basi tanpa muatan, atau memang penting adalah segala macam isinya. Dicela, dibungkam atau dipantangkan, upil kecil dapat bereaksi.

Sayangnya, ah, sayangnya lagi Bapak-Bapak terhormat dan tersayang di gedung sana bentrok. Siapa? Atas praduga tak bersalah, kita sebutkan inisial: DPD. Sebab musabab adalah masa jabatan pimpinan DPD, lima tahun atau dua setengah tahun.

Aduh, mungkin tak ada yang berteriak ‘sabar’? Ada satu dua orang, tiga atau empat, hanya beberapa sementara yang panas lebih enak terdengar. Apa boleh buat, upil kecil telah bertindak. Hantam dulu, urusan damai di belakang pintu.

Memang begitu tabiat anak-anak negeri. Tanpa kelas, tanpa pandang derajat sosial, tanpa alasan, tanpa basa-basi sama saja semua punya upil kecil. Jika tak segera dikeluarkan, sumbatlah pernapasan, sedikit gatal dan berefek penasaran.

Semakin besar dan keras, nikmatnya naik berkali lipat. Adu jotos atau adu gengsi sama nikmat dengan mengeluarkan upil-upil tadi.

Tiga hari lalu, contoh yang sama terjadi antara dua sales gawai dari Tiongkok, Oppo dan Vivo. Padahal, pola kerja mereka sama, salah satunya yakni bergoyang-goyang badan, lutut, kaki diiring-iring disco-elektro di pinggir aspal. Memang asyik apalagi joget belum nikmat tanpa senggolan. Joss. Aduh, upil. Keduanya bentrok.

Apa musabab? Jangan salah sangka atau menghujat, justru kebanyakan kisah adalah tanpa apa-apa malah terjadi apa-apa. Hidung semakin disumbat, geliat upil semakin bergetar.

Kata ‘sabar’ sudah cukup mengakhiri, tetapi kurang lama dilantangkan kuat. Ijo royo-royo tetap melanjutkan senam berirama. Lebih bersemangat. Mirip para hooligan sepakbola,terlalu bugar seperti memancing gaduh. Tapi, syukurlah tak ada perlawanan dari seberang. Ternyata hidung sudah bersih, lega.

Lalu bagaimana upil kecil itu dapat dihilangkan? Ah, ingatlah nasihat-nasihat orang tua tadi, sabar. Iya memang sabar ada batasnya. Dasar upil, ini hanya perumpamaan.