Alkisah di suatu masa di negeri ini hidup seekor kodok yang sangat menginginkan menjadi manusia, menjadi makhluk yang dimuliakan Tuhan. Kodok ini melihat manusia dapat mengeluarkan suara-suara yang bermacam-macam sedangkan binatang sepertinya maupun binatang lainnya hanya bisa mengeluarkan suara-suara yang sangat terbatas.

Kodok tersebut juga sangat iri dan membenci manusia, karena sering dituduh sebagai binatang berisik yang sering mengganggu dengan suara “teko teko teko…krok krok” yang bersahut-sahutan antar sesama kodok.

Setiap hari, setiap saat, kodok tersebut semakin menginginkan menjadi manusia. Kodok ini berdoa kepada agar diberikan kesempatan menjadi manusia dan memiliki kemampuan seperti manusia pada umumnya. Kodok tersebut akhirnya berubah menjadi manusia berkat peri-peri yang diutus oleh Tuhan.
Kodok tersebut begitu senang dan gembira, ia tidak lagi hanya bisa ngorek-ngorek dg bunyi-bunyian “teko teko teko…rok krok” sepanjang waktu, kini ia bisa berucap dan mengeluarkan suara yang lebih banyak macam lagi.

Karena begitu menyukai dan asik dalam pergaulannya sebagai manusia, kodok tersebut akhirnya sangat dikenal oleh banyak manusia sebagai manusia yang paling banyak bicara dan bersuara.
Lambat laun kodok berwujud manusia yang karena semakin terkenal ini akhirnya mendapatkan para pengikut yang asli manusia sejak lahirnya. Para pengikutnya semakin asik, cinta dan larut dalam suara-suara yang diserukan kodok berwujud manusia ini.

Memang dikarenakan pada dasarnya kodok berwujud manusia ini tidak memiliki akal dan hati nurani seperti manusia. Dalam doanya pada Tuhan ia hanya meminta diberikan wujud dan kemampuan untuk bersuara yang macam-macam. Kodok tersebut tidak mengetahui bahwa karunia terbesar manusia sebagai makhluk yang mulia bukanlah dapat mengeluarkan berbagai ragam macam suara dan bahasa, tetapi memiliki akal pikir dan hati nurani didalam keberagaman lainnya, tidak hanya suara dan bahasa. Manusia itu ternyata hidup berkelompok-kelompok, bersuku-suku, bersuku-suku bangsa, dan berbangsa-bangsa yang memiliki kekayaan kebudayaan yang amat beragam dan kaya.

Kodok berwujud manusia yang gemar bersuara sesuka hatinya ini walau dalam penggunaan bahasa manusia dapat bersuara yang bermacam-macam, ternyata warna suaranya, isi dari suaranya adalah satu, penuh dengan iri hati dan kebencian terhadap manusia. Kodok tersebut yang memang semasa berwujud kodok hidup didalam suatu wilayah yang teramat sempit sehingga cara-cara memaknai hidup ketika berwujud manusianya juga ikut-ikutan sempit. Pembawaannya sebagai kodok tidak hilang begitu saja, walau dapat mengeluarkan berbagai macam suara, sesungguhnya ia hanyalah mengorek dengan pola “teko teko teko… krok krok” . Pembawaannya sebagai binatang yang iri dan benci kepada manusia tetap mempengaruhi setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya. Segala ilmu dan pengetahuan tentang riwayat-riwayat manusia yang baru diketahui dan dikenalnya digunakan sebagai dalil-dalil pembenar pesan-pesan kebencian yang diusungnya.

Suara-suara dari kodok berwujud manusia dan para pengikutnya ini makin hari – makin menjadi, semakin mempengaruhi banyak manusia lainnya, yang akhirnya berbuah petaka. Kehidupan harmonis manusia menjadi terganggu, penuh ancaman dan teror, iri hati dan kebencian. Ada manusia yang ikut meneriakkan suara-suara kebencian dimana-mana karena mengikuti dan termakan suara kodok berwujud manusia ini, ada juga yang meneriakkan “kodok berisik ini harus diusir, dan pengikutnya yang tidak mau bertaubat juga harus diusir dari negeri ini”, bagi sebagian kalangan manusia lainnya mengatakan “kodok tetaplah kodok harus diperlakukan sebagaimana ia adalah binatang, maka tidak perlu diacuhkan dan dipersamakan antara suara kodok dengan suara manusia, tugas manusia adalah manusiakan manusia, bukan memanusiakan binatang.

Keberadaan kodok berwujud manusia dan para pengikutnya itu dipercayai sampai sekarang masih ada dan masih mengancam keharmonisan dengan menyebar fitnah yang menimbulkan keresahan kehidupan manusia.

Oleh karena manusia memiliki akal pikir yang sehat dan hati nurani yang terang selalu percaya bahwa Tuhan Seru Sekalian Alam senantiasa memberkati Alam Jagat Raya yang tersusun begitu berwarna-warni nan indah-indah ini, maka menjadi tanggung jawab manusia sebagai suatu kepemimpinan yang memelihara karunia Tuhan itu sebagai perwujudan syukur kepada-Nya.