Masyarakat internasional baru-baru ini dikejutkan oleh kemenangan kaum sayap kanan pada pemilihan umum di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Partai Demokrat yang berhaluan liberal harus menyadari bahwa partainya telah dipecundangi oleh seorang preman pebisnis yang mampu beretorika tanpa filter. Donald Trump adalah sebuah realita terburuk dibalik kuatnya kekuatan populis yang telah dibangun oleh Partai Liberal hampir 8 tahun terakhir ini.

Di Inggris, Partai Konservatif berhasil membuat organisasi regional macam Uni Eropa tidak lagi menarik. Keluarnya Inggris dari organisasi regional eropa tersebut adalah sebuah kerugian masal bagi anggota negara eropa. Selama ini dianggap menguntungkan, Rakyat Inggris akhirnya menganggap bahwa Uni Eropa tidak ada lebihnya dibanging organisasi yang menampung para “negara kesakitan” yang berharap ditolong oleh negara-negara maju Eropa.

Bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Di Indonesia, sebuah perubahan yang tidak mendapatkan untung dan mengancam eksitensi mayoritas adalah salah satu tandanya. Biasanya mereka bersifat reaksioner dan tidak menghendaki adanya sebuah perubahan. Saya tidak perlu berbicara lebih jauh mengenai kasus konkretnya, tapi yang kita bisa pahami. Perkembangan konservatisme di Indonesia akan lebih mengarah kepada kuatnya nilai fasisme dan sifat-sifat “kaum sumbu pendek” yang reaksioner.

Di belahan bumi sana, konservatifme dikenal dengan ketidak inginan untuk menampung imigran, keengganan untuk berbuat lebih jauh di dalam organisasi regional, privatisasi negara hingga sentimen ras yang kuat. Di Indonesia sebenarnya tidak berbeda jauh berbeda. Perbedaan tersebut hanya terbentuk dikarenakan perbedaan komposisi suku ras agama yang berbanding terbalik antara Indonesia dan negara-negara di Eropa maupun Amerika.

Menelisik Akar Konservatisme di Indonesia

Konservatifme di Indonesia lahir bukan tanpa sebab. Akar konservatifme lahir dikarenakan adanya sebuah resistensi beberapa golongan atas tradisi yang baik maupun buruk. Resistensi tersebut terbentuk dikarenakan adanya sikap untuk mensubjektifkan nilai sebuah kebenaran yang ada dalam lingkungan bermasyarakat.

Menurut Reza A Watimena, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München melihat setidaknya ada enam akar utama perkembangan konservatisme di Indonesia. Pertama adalah bangkitnya kekuatan kelas ekonomi menengah, kedua adalah gerak sejarah manusia yang sirkular, ketiga ada kecanggungan manusia di hadapan pluralitas dunia, keempat adalah pardoks yang mengglobal, kelima adalah impotensi dunia akademik, dan yang terakhir lubernya ekpresi keagamaan di Indonesia.

Di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana reformasi telah membuka penjara bagi mereka para fanatik yang selama ini selalu berbenturan dengan aturan negara. Konservatisme dapat dilihat dari berbagai macam aspek. Aspek tersebut bisa dilalui melalui agama, sikap fasisme bernegara hingga tindakan-tindakan kontra globalisasi.

Para komprador dan elit politik dikenal rajin untuk merawat kaum konservatif. Karena apabila ditilik secara kepentingan elektoral, kaum konservatif mempunyai basis massa yang besar dan bermukim langsung di sektor akar rumput, sektor dimana nilai-nilai tradisional tetap terjaga. Nah, aktor konservatif di Indonesia bahkan mampu membangun nilai bersama yang nyatanya bisa menggerakan golongan akar rumput untuk bersama melawan setiap adanya gerakan perubahan.

Seperti contoh : Apakah kalian pernah melihat salah satu elit politik dari pidatonya?
Suatu saat dia mengatakan bahwa Indonesia harus menjaga kebhinekaan. Tapi disisi lain ia berusaha “memelihara” golongan konservatif untuk tetap tumbuh subur. Hal tersebut adalah fenomena konkret yang menjelaskan bahwa elit-elit politik di Indonesia cenderung bersikap moderat dengan perbedaan, tetapi mempunyai gerakan akar rumput/konstituen yang amat konservatif.

Biasanya, kaum konservatif akan bertarung habis-habisan melawan kaum liberal. Tujuannya sama, yaitu mampu menjadi pakem dari nilai populisme, hingga akhirnya menjadikannya sebagai sistem sebuah negara. Di Indonesia, kita dapat melihat bahwa konservatisme agama adalah kondisi yang sangat mencolok. Penguatan tradisi keagamaan yang kaku makin terlihat seiring dengan kondisi yang terjadi saat ini di Indonesia, terutama terkait tantangan toleransi dan sikap saling menghormati dalam perbedaan. Banyaknya sikap-sikap individu yang melanggar kaidah agama mayoritas akan menjadi bahan bakar kaum konservatif agama untuk menunjukkan tajinya.

Menggunakan tradisinya sendiri, kaum tersebut mencoba menggaungkan nilai kebenaran yang subjektif, yang bahkan nilai tersebut mampu melampaui kekuatan negara. Tidak dapat dipungkiri, pada akhirnya aliran-aliran keagamaan yang berbeda pandangan dengannya akan menjadikannya sebagai “labeh hitam”. Dengan dalih-dalih “kafir”, “Tak ada ruang bagi penista agama”, hingga proyek khilafah untuk Indonesia.

Oleh karena itu wajar apabila logika kesejahteraan, pembangunan, perdamaian hingga kepemimpinan akan dihempaskan oleh pemahaman agama yang bersifat konservatif. Ini nyatanya benar-benar terjadi di negara kita.

Paradoks Logika Konservatif di Indonesia

R.J White, seorang pemikir konservatif pernah mengemukakan sebuah pandangan, “Menempatkan konservatisme di dalam botol dengan sebuah label adalah seperti berusaha mengubah atmosfer menjadi cair … Kesulitannya muncul dari sifat konservatisme sendiri. Karena konservatisme lebih merupakan suatu kebiasaan pikiran, cara merasa, cara hidup, daripada sebuah doktrin politik

Tetapi pada nyatanya, di Indonesia konservatisme dapat dimaknai sebagai sebuah pemikiran yang mampu memuaskan jalan dari oligarki dan nilai religiusitas. Dari pada membangun sebuah tatanan sosial yang lebih baik, kaum konservatif lebih tertarik untuk mengamankan nilai-nilainya yang didukung oleh proses kapitalisasi pasar yang sesuai. Tujuannya jelas, yaitu mampu merebut kembali politik populisme Indonesia yang selama ini dipegang oleh kemampuan elit untuk merepresentasikan kepentingan “wong cilik”.

Pemikir konservatif lainnya, Edmund Burke juga menekankan bahwa kekuatan Konservatif terletak pada niatannya untuk mempertahankan nilai-nilai moral, norma dan otoritas. Lalu wajar saja apabila konservatifme di Indonesia berakhir dengan bentuk-bentuk nyata seperti persekusi, kemudahan dalam “menjudge”, hingga objektivitas kebenaran yang makin niscaya.

Pada akhirnya, kita menyadari bahwa apabila kita mengamini konservatif, maka secara nyata kita akan melanggengkan kekuasaan oligarki yang membuat kita semakin ditindas oleh sistem kapital yang makin membuta. Paradoks globalisasi nyatanya tidak berpengaruh terhadap nilai-nilai resistensi kaum konservatif. Baginya, nilai-nilai resistensi tidak akan berdampak apa-apa selama logika pasar terus berjalan. Sebuah perselingkuhan yang sangat indah.