Sebenarnya, saya bukan seseorang yang suka melakukan pengkajian ulang atas film yang telah saya nonton. Tetapi beberapa pengecualian saya berikan kepada film-film yang memukau raga dan jiwa. Tapi kali ini, film yang saya akan bahas adalah film pertama yang saya tonton dengan semua keraguan yang ada, yaitu La La Land

Dulu seiring dengan pertumbuhan film Bollywood yang telah merasuk jiwa jiwa Ibu-Ibu Nasida Ria Fans Club dan Drama Musikal “Glee” merasuk jiwa jiwa ababil yang dinamis. Jujur disana saya sudah membangun rasa apatis yang berlebihan dalam perkembangan genre film drama musikal. Terakhir kali saya menonton film bergenre tersebut adalah film Sound of Music, film lama yang menceritakan kehangatan sebuah keluarga dalam balutan nyanyian-nyanyian,saya kira cuman ini film drama musikal yang keren.

Akhirnya dengan beberapa alasan yang harus dikuatkan , saya harus menghabiskan beberapa peny untuk menonton film besutan Damien Cazzelle ini. Nama sutradara yang sebutkan sebelumnya inilah yang menjadi satu-satunya dasar kuat mengimbangi hati agar ikhlas menonton film ini. Film besutannya, Whiplash telah berhasil membuat saya kagum.

Lagu-lagu yang berisi lirik kebahagiaan, tari-tarian yang mencairkan suasana hingga joke-joke khas yang renyah, menjadikan film ini pantas untuk mendapatkan banyak penghargaan. Ryan Gosling dan Emma Stone berhasil membawa saya untuk menggeser sedikit pandangan terhadap stereotype pemaknaan film drama musikal yang hanya sekedar konflik-konflik renyah. Lebih dari mereka, La La Land lebih mampu membawa nilai-nilai yang mampu membangun paradoks, yaitu antara sebuah impian dan realita.

La La Land menawarkan sebuah konsep penayangan yang sangat unik. Karakteristik budaya masal khas 60-70an Amerika Serikat menjadi simbol utama yang melekat dalam film ini. Saya menjadi teringat pada gagasan perlawanan Andy Warhol atas gaya gaya penyajian masal tersebut. Seperti karakteristik penyajian jazz murni kejayaan New Orleans, penyajian-penyajian budaya pop dalam bentuk latar belakang tarian, latar kota cerah dan hangat. Semua itu menemukan garis lurus yang sejajar, bahwa pertahanan budaya menjadi sorotan utama dalam film ini.

Simpelnya mereka hanya ingin mengejar impian yang tidak tergabung dalam nilai-nilai budaya masal pada saat ini. Seperti contoh, jazz tidaklah laku apabil di gado oleh genre lainnya. Maupun penampilan teater monolog yang tidak mampu menghisap banyak penggemar. Semua permasalahan tersebut dibawa Cazzelle menjadi konten utama yang lagi-lagi dihantam dengan permasalahan utama, yaitu Uang.

Tetapi percintaan dari Sebastian (Ryan Gosling) dan Mia (Emma Stone) mampu mengimbangi permasalahan yang mereka hadapi dengan pemahaman akan diri dan pasangannya. Reaksi penghargaan tersebut membuat kisah percintaannya sangatlah natural dan sederhana.

Kita dan semua apa yang terjadi telah saling belajar bersama. Impian yang diraih bersama tentulah akan menjadi sempurna. Tapi siapa yang tahu, bahwa kalian semua tidak boleh rakus. Film La La Land ini memberikan dua opsi bagi kalian sang “Mountclimber”. Pertama singkirkan semua perasaan kalian terhadap seseorang yang kalian cintai lalu sama-sama capai mimpi. Kedua adalah siap kan diri kalian untuk bertarung untuk merebut impian meski semuanya akan membuat efek samping kekecewaan.

Saya berterima kasih kepada Ryan Gosling dam Emma Stone yang sudah memperlihatkan ke amatirannya dalam bernyanyi dan berdansa. Saya kira apa yang mereka tayangkan secara langsung membuktikan, kalian tidak harus menjadi seorang profesional untuk mengungkapkan ekspresi diri. Mereka hanyalah sepasang tokoh sentral yang berusaha memberikan gambaran menuju impian dengan bumbu kebahagiaan yang tersisa dalam setiap kompleksitas hidupnya. Ditambah lagi sikap natural dalam bumbu percintannya seakan-akan mampu diserap dalam kehidupan para penontonnya, kehidupan tanpa dinamika yang bisa juga dikatakan hidup biasa-biasa saja.

Dari film ini saya belajar satu hal, kesempurnaan hanya bisa didapatkan pada “alternate ending scene”. Dan yang paling penting, saya tidak setuju apabila netizen menganggap bahwa La La Land tidak sekeras Whiplash. Bagi saya La La Land adalah sebuah realita yang sangat pedih, dan tidak disarankan untuk masuk kedalam skenario hidup kita semua.

Saya yakin La La Land akan hidup sebagai sejarah. Apabila ada yang berani untuk membuat film seperti ini untuk beberapa tahun kedepan, maka hanya kegagalan yang akan mereka dapatkan.