Hari Raya Nyepi telah berlalu, aktifitas lanjut berjalan. Sebelumnya, penulis mengucapkan selamat kepada umat Hindu yang merayakannya.

Hari yang juga dirayakan meriah oleh seluruh rakyat Indonesia. Terang saja, hari merah. Satu hari yang sangat dinanti-nantikan untuk pergi berlibur.

Seperti biasa, lokasi wisata mendadak kebanjiran kunjungan. Sumpek! Itu baru satu hal. Tidak sedikit pula yang harus merelakan waktunya habis menatap aspal.

Kita dapat melihat mundur dua tahun lalu ketika pemudik terjebak kemacetan di pintu keluar Tol Brebes Timur atau biasa disingkat ‘Brexit’. Puluhan kilometer mengular, perjalanan yang benar-benar menguras tenaga.

Maka, tidak mengherankan jika liburan selalu berwajah dua: akan berakhir bahagia atau malah sebaliknya. Apalagi ketika baru menyadari ternyata isi dalam kantong semakin kempis menipis.

Liburan atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai holiday, sejatinya adalah hari membahagiakan, membebaskan, atau yang bermakna positif lainnya. Itu mengapa kita menyebutnya dengan perai atau pre di Sumatera, yang mungkin merujuk kepada kata free dalam bahasa Inggris.

Demikian dengan holiday yang berarti hari suci (holy-day) sebab dahulu digunakan untuk menyebut hari suci (holy) keagamaan, seperti Paskah dan Natal. Sekarang perayaan agama tersebut tetap ada bersama dengan hari raya agama lainnya dan dirayakan menghormati para pemeluk agama.

Namun, mengapa liburan lantas menjadi momok? Menjawab ini, pertama-tama kita harus mengetahui bahwa Revolusi Industri yang terjadi di Inggris membawa perubahan besar dan radikal pada kehidupan masyarakat.

Waktu dalam sehari-hari, kurang lebih 8-12 jam, dikuras untuk mengerjakan sektor industri. Tidak banyak waktu luang untuk sekadar berkumpul dengan keluarga atau katakanlah sekarang ini menonton televisi. Hingga sekarang, gaya hidup seperti itu tetap dipertahankan.

Maka, sangat manusiawi ketika semua tanggal merah mempunyai makna yang sama, yakni free (bebas). Apakah hari raya tersebut merupakan perayaan agama, nasional, peringatan sejarah dan sebagainya, tidak akan terpikirkan sama sekali.

Persoalannya, ketika berhadapan dengan kata free (bebas), akan selalu mengarah pada bebas dari (freedom from) atau bebas untuk (freedom for). Kecenderungannya selama ini memang kita lebih banyak memaknakan liburan sebagai hari sebagai freedom from, semisalnya bebas dari rasa lelah, stres, capek, lusuh, atau apapun itu.

Tidak mengherankan pelampiasannya adalah lokasi-lokasi wisata. Yang lebih mulia lagi ketika orang-orang justru memilih rumah ibadah. Yang jelasnya, dari semua tempat, kita sendiri akhirnya harus menentukan pilihan.

Tulisan ini tidak mengarahkan atau menganjurkan tempat atau lokasi yang instagramable. Ini hanyalah gundah gulana hati seorang warga yang sebenarnya tidak sedang berlibur, tetapi merasakan dampak liburan tersebut dari orang-orang.

So, mengapa tidak merubah agenda liburan menjadi sesuatu yang freedom for? Seperti, misalnya tidur setengah hari, bangun kemudian minum kopi sampai besok mulai kembali bekerja. Satu hari berada di rumah, berkumpul dengan teman, keluarga atau menghabiskan sendiri dengan bermain gim.

Cemilan dapat diganti dengan gorengan atau makanan ringan lainnya yang banyak dibeli di warung atau di pinggiran jalan. Tidak perlu ada kekhawatiran, perekonomian tetap berjalan normal. Hemat.

Terserah mau berlaku atau mengerjakan apapun. Bebaskan dirimu wahai saudara. Tapi tetaplah berpegang untuk wajib mengenal batasannya. Bebas yang sejati wajib mengenal batasannya, tidak sesumbar atau berlebihan menebar pesona. Silakan refleksikan sendiri contohnya.

Hidup untuk berlibur!