“Nikah itu kayak berkesenian,” kata Culapo yang sedang ngobrol dengan Jansen. Sambil mengunyah kacang dan ditemani berkaleng-kaleng soda, ia melanjutkan, “jadi kalau seniman bikin manifesto, orang nikah juga perlu manifesto; deklarasi prinsip lo tentang pernikahan.” Jansen bengong saja saat mendengar Culapo berkata demikian. “Jadi gini isi manifesto pernikahan gue, kalau gue nikah lagi ya; Satu, perkawinan kami tidak mencontoh perkawinan pasangan lain. Dua, definisi kebahagiaan kami unik, tidak menjiplak definisi kebahagiaan pasangan lain. Tiga, perkawinan kami mencintai perasaan atas cinta kami berdua. Empat, kebahagiaan kami akan memantul pada keseharian kami. Lima, perkawinan itu kekompakan dan tidak cuek. Enam, perkawinan kita penting dan bermanfaat.”

“Apa?” teriak Jansen terkejut.

“Penjelasan menyusul!” sahut Culapo sambil mengunyah kacangnya.

***

Sudah pernah nonton Rocket Rain? Kalau sudah pasti familiar dengan percakapan itu. Sebuah ide paling ajaib tentang pernikahan yang ada pada film eksperimental yang ajaib pula dari seorang Anggun Priambodo. Bukan film baru, namun cukup memberikan kesan terutama tentang ide-ide pernikahan.

Anggun Priambodo memang ajaib, seniman serba bisa yang tidak hanya berpartisipasi pada ranah visual tapi juga ikut mencebur dalam kancah musik independen. Grup musik miliknya, Bandempo, pun tak kalah bikin geleng-geleng kepala dengan lirik absurd nan menggelitik. Namun mereka hanya bertahan singkat dan sudah lama bubar.

Dalam wawancara bersama Deathrockstar, Anggun pun mendaku bahwa film ini memang seperti kisah nyata tentang hubungan pernikahannya yang berakhir dengan perceraian. Dan setelah bercerai, barangkali manifesto itulah inti pelajaran yang ia dapatkan. Manifesto ini unik. Selain Culapo, yang diperankan Anggun sendiri, memangnya siapa yang bisa memikirkan hal seperti ini?

Alih-alih mengikuti konsep pernikahan milik kebanyakan orang dalam berkeluarga,  Culapo justru membikin konsep baru bagi dirinya dan pasangannya kelak. Poin pertama dan kedua dalam manifesto tersebut nyaris mirip, tentang bagaimana menjalani pernikahan tanpa harus menjiplak gaya berpasangan orang lain. Ini penting karena karena setiap orang memiliki karakter khusus yang tidak bisa diseragamkan, yah memang klise tapi memang  harus demikian.

Poin kedua dan ketiga pun demikian, ada sedikit kesamaan. Dan yang paling penting dan utama barangkali adalah poin kelima dan keenam. “Perkawinan itu kekompakan dan tidak cuek,” sepakat! Serta “perkawinan kita penting dan bermanfaat.” Apakah orang-orang yang hendak menikah pernah memikirkan hal tersebut? Apakah pernikahan tersebut benar-benar penting untuk dijalani dan bermanfaat? Ataukah pernikahan itu adalah tuntutan keluarga dan masyarakat di sekitarnya?

Dalam realitas sungguhan, barangkali akan susah membayangkan seseorang melakukan hal seperti itu. Tapi ternyata, jauh sebelum Culapo mendeklarasikan bakal manifesto pernikahannya di hadapan Jansen, seorang filsuf Perancis bermata juling pernah melakukannya. Namun ini bukanlah manifesto pernikahan melainkan kesepakatan hidup bersama tanpa menikah. Barangkali ia telah terlebih dulu memikirkan apa yang ada pada poin terakhir manifesto Culapo. Dialah Sartre. Baginya, menikah bukanlah hal yang penting, ia justru menawarkan sebuah “pakta percintaan” kepada Simone de Beavoir untuk hidup bersama secara bebas dan transparan. Keduanya akan hidup berpasangan, tanpa menikah, tanpa anak, dan keduanya bebas melakukan hubungan asmara dengan siapapun asal saling memberitahukan secara transparan. Kira-kira begitulah isi pakta tersebut.

Duo Sartre – Simone ini tak kalah bikin geleng-geleng kepala juga ya. Cinta memang absurd, biar dikata klise tapi tetap saja susah dipahami.