Setelah membunuh lima orang pria, Marlina tak merasa berdosa. Memang untuk apa merasa berdosa? Toh yang ia bunuh bukan sebenar-benarnya manusia, melainkan para binatang—begitu kata Novi, sahabat Marlina.

Beberapa dari Anda mungkin sudah tahu bahwa Marlina yang sedang kita bicarakan adalah tokoh utama dalam sebuah film garapan Mouly Surya, yang telah memenangkan beberapa penghargaan di kancah internasional. Salah satu di antaranya adalah penghargaan sebagai film dengan skenario terbaik dalam festival film di Maroko. “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” memang punya skenario yang tak biasa, tak pasaran lebih tepatnya.

Skenario film Marlina adalah cerita tentang seorang janda yang akan diperkosa tujuh orang bergantian, namun ia melawan dengan membunuh lima orang di antaranya. Konflik terjadi karena masih ada dua orang yang belum terbunuh. Jika melihat ceritanya, skenario film Marlina memang cukup menarik.

Namun, salah satu yang membuat skenario film Marlina memenangi penghargaan tersebut mungkin adalah bahasa Sumba yang digunakannya. Film berbahasa daerah seringkali dianggap lebih “seksi”. Selain itu tentu juga dialog-dialognya yang sarat makna.

Dalam film terdapat perkataan Novi (diperankan Dea Panendra) yang melarang Marlina (diperankan Marsha Timothy) pergi ke kantor polisi karena polisi tak akan dapat menolongnya, justru akan menuduhnya bersalah karena telah melakukan pembunuhan pada lima orang yang akan dan telah memerkosanya. Novi kemudian menyarankan Marlina pergi ke gereja untuk mengakui dosanya karena telah membunuh kelima pria tersebut. Namun Marlina mengatakan bahwa ia tidak merasa berdosa.

Sumber: Cinema Indonesia; Marlina membawa penggalan kepala Markus si pemerkosa

Jawaban Marlina tersebut tentu membuka pemikiran kita tentang dosa yang tidak kita tahu bentuknya, namun sering kita gunakan untuk memvonis suatu tindakan, yang dalam film ini diungkap bagaimana dosa dapat menjadi penilaian yang bias pada tindakan perempuan. Maka dialog pendek antara Marlina dan Novi tersebut juga menjadi gambaran sekilas bagaimana posisi perempuan dalam budaya patriarki.

Selain itu, dialog antara Marlina dengan gadis kecil bernama Topan juga menarik untuk direnungi maknanya. Topan mengatakan bahwa namanya adalah harapan orang tuanya agar kelak ia menjadi perempuan yang kuat seperti laki-laki. Harapan seperti itu sungguh tak berlebihan jika melihat cerita dalam film dan kenyataan yang ada bahwa betapa perempuan masih seringkali dipandang lemah tak berdaya.

Film Marlina memang menjadikan perempuan sebagai pusat daya tarik. Marlina, meski telah begitu gigih melawan ketidakadilan yang menimpa dirinya, ia tetap digambarkan sebagai perempuan dengan air matanya yang banjir saat bersedih. Ini juga merupakan hal terbaik dalam skenario film Marlina karena kesan Marlina sebagai perempuan yang kuat diperlihatkan tanpa menghilangkan sisi feminin yang dimilikinya. Begitu juga dengan tokoh Novi yang digunakan untuk mengeksplor seksualitas dari sudut pandang perempuan.

Dibalik hal-hal yang coba dikemukakan, film Marlina sebenarnya memiliki alur cerita yang sangat sederhana. Setting tempat juga hanya berkisar rumah Marlina, jalanan, padang rumput kering dan truk angkutan, serta kantor polisi dan warung di dekatnya. Melihat film Marlina seperti membaca sebuah cerita pendek yang sarat dengan nilai sastra; alur boleh sederhana, tapi penyajiannya luar biasa. Saat menyaksikan Marlina, kita bisa merasakan bahwa ceritanya mengalir begitu lembut.

Kini “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” telah memasuki hari keenam tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Namun, film ini tak mendapat banyak perhatian dari masyarakat, mengingat jumlah penonton yang hingga saat ini baru mencapai 35 ribu. Dibandingkan “After School Horror 2” yang sama-sama tayang perdana pada 16 November 2017, film Marlina kalah sekitar 20 ribu penonton. Padahal, Marlina turut memberikan warna baru bagi dunia perfilman Indonesia dengan genre yang melawan arus utama.