Pasti banyak di antara Anda semua yang sudah menonton PK. Namun saya yakin banyak pula yang masih belum menonton. PK atau Peekay adalah sebuah film asal India yang dirilis tahun 2014 dan disutradarai oleh Rajkumar Hirani, yang juga menulis naskahnya bersama Vidhu Vinod Chopra.

Film ini menceritakan tentang perjalanan seorang alien di bumi yang misi awalnya adalah untuk penelitian. Namun nasibnya berkata lain, alih-alih penelitian, ia malah harus mencari remote control-nya, yang dicuri ketika ia baru saja datang ke bumi. Konon, remote control itu berfungsi untuk mengontak kawannya di planet asal agar ia bisa berkomunikasi dan pulang kembali.

Alien ini memiliki wujud dan bentuk tubuh yang sama seperti manusia di bumi, tapi karena ia baru saja datang ke bumi, ia tak mengerti sama sekali tentang cara manusia di bumi berkomunikasi dan berperilaku. Ia sama sekali tak mengerti bahasa, bahkan tak bisa berbicara. Lama kelamaan, ia berhasil mempelajari banyak hal tentang manusia di bumi, mulai dari tingkah laku, cara berpakaian, cara mendapatkan uang, hingga bahasa dan agama. Ia lalu menggunakan ini semua untuk berupaya menemukan remote control-nya. Ia bertanya kepada orang-orang, namun orang-orang selalu berkata “hanya Tuhan yang bisa menolongmu”.

Akhirnya, PK yang polos seperti bayi karena tak tahu apa-apa saat datang ke bumi ini pun berangkat mencari sosok yang bernama “Tuhan”. Ia mencari Tuhan di kuil tempat peribadatan orang Hindu, tapi tak menemukanNya. Ia mencari di gereja, tapi juga tak menemukanNya. Lalu ia mencari di masjid, masih tak menemukanNya. Ia bertanya dan menceritakan kisahnya kepada orang-orang, sampai membuat selebaran untuk mencari Tuhan yang “hilang” ini, namun sebagian besar malah menertawakannya dan berkata bahwa ia mabuk (PK atau peekay dalam bahasa sehari-hari India berarti ‘mabuk’).

Dalam perjalanannya, PK bertemu seorang tokoh agama yang memiliki banyak pengikut. Ratusan orang selalu datang ke acara keagamaan yang diadakan oleh orang ini. Orang-orang memuja dan mengagung-agungkannya. Namun, PK melihat sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang.

Ia akhirnya mempertanyakan banyak hal, terutama tentang tata cara beragama yang dilakukan manusia. Ia melihat keunikan dari hal-hal yang dilakukan manusia ini ketika beribadah, hingga ia merasa bahwa apa yang dilakukan orang-orang ini, terutama yang berupa wejangan dari tokoh agama, sesungguhnya tak berakibat banyak dalam hidup mereka. Yang mengalami kesulitan tak mendapat solusinya dari ibadahnya dan dari wejangan-wejangan tokoh agama ini. Pada akhirnya, dibantu oleh teman barunya, Jagat Janani, seorang jurnalis televisi, PK justru berhasil mengungkap kepada khayalak bahwa tokoh agama ini hanya ‘menjual’ kata-kata dan seruan-seruan yang diklaimnya berasal dari Tuhan dan langsung disampaikan kepadanya, yang mana ini pun menjadi sumber penghasilan dari tokoh agama tersebut. Selain itu, PK berhasil menyampaikan pesan penting, bahwa banyak uang dan materi yang dikeluarkan oleh seseorang untuk beribadah, sesungguhnya jauh lebih baik apabila digunakan untuk menyelamatkan orang yang sungguh-sungguh membutuhkan, daripada jatuh ke tangan yang salah dan tidak berhak.

Film ini mengagetkan saya, karena saya merasa inilah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia banyak yang mengklaim diri sebagai orang beragama dan ‘membela’ Tuhan, namun apa yang ia lakukan justru tidak mencerminkan bagaimana seorang manusia seharusnya berperilaku. Apa yang mereka lakukan sebagai ‘orang beragama’ tidak memberi kontribusi untuk negeri ataupun dunia yang lebih baik. Mereka malah merasa diri merekalah yang paling benar, hingga tak tanggung-tanggung ikut campur bahkan mencaci orang lain dan apa yang diyakininya, untuk mempertahankan kebenarannya sendiri. Sungguh sayang seribu sayang, karena agama hanya difokuskan pada nilai transendental dan dogmanya saja, ketimbang dijadikan jalan untuk membela nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Tak ayal, ini pun dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memuluskan tujuan pribadi mereka, baik itu tujuan politik, kekuasaan, bahkan materi.

Bagi saya, film ini berhasil menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang telah terkubur dan berangsur-angsur menghilang oleh keegoisan manusia, bahkan yang mengatasnamakan agama untuk membenarkan keegoisan itu. Bagi saya, PK telah mengingatkan, bahwa Tuhan yang sesungguhnya (bukan Tuhan yang ‘diciptakan’ oleh ‘pemuka’ agama) tak akan meminta manusia untuk melulu memuja-mujanya, apalagi melindunginya, karena tak ada gunanya berusaha ‘melindungi’ Dzat yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Namun, lihatlah ke sekitar kita, lalu tolonglah yang perlu ditolong. Perbaikilah yang perlu diperbaiki. Apa yang bisa diberi, berilah kepada yang butuh, karena inilah salah satu cara Tuhan untuk menolong dan merawat setiap yang diciptakanNya, yakni melalui tangan manusia itu sendiri, dengan rasa kepekaan dan kepeduliannya terhadap sesama dan alam semesta.

Film ini sangat cocok ditonton oleh siapapun yang tinggal di negara pluraI, yang dihuni oleh penduduk dengan berbagai agama, suku, ras, dan latar belakang lainnya. Terutama Indonesia saat ini, yang nilai-nilai sejati dari Pancasila ini entah sudah dianggap apa oleh rakyatnya.

Keberagaman adalah suatu anugerah, karena dengan adanya keberagaman, kita mestinya justru dapat belajar banyak tentang kemanusiaan, karena se-berbeda apapun kita dengan manusia lainnya, pada akhirnya kita adalah sama-sama manusia, yang ingin hidup sejahtera dan bahagia, yang perlu ditolong oleh manusia lainnya ketika susah. Jadi, untuk apa capai-capai merusaknya? Maka dari itu, jika kita adalah orang beragama, jadikanlah agama itu pegangan untuk selalu memanusiakan manusia lainnya. PK telah membantu saya untuk mengingatnya kembali dan senantiasa menjadikan ini pegangan dalam hidup.