Kerumunan orang memenuhi jalan besar di Washington 21 Januari 2016. Mantel tebal menahan angin dingin kota, lautan topi kucing merah muda, mereka terus bergerak dengan mengangkat tinggi-tinggi pamflet, poster. Wanita-wanita itu dari segala ragam profesi memiliki satu hari berkumpul bersama dengan harapan yang sama, harapan yang hampir mati. Selebritas Madonna juga berada di tengah mereka dengan tuntutan yang sangat serius kepada presiden baru mereka, Donald Trump.

Unjuk rasa tersebut adalah Women’s March. Mereka menyasarkan kemarahan kepada sang presiden yang baru sehari memegang jabatan terhormat itu.

“Presiden Trump bukan Amerika, kabinetnya bukan Amerika. Kita adalah Amerika dan kita akan menegaskan hal itu. Kita berunjuk rasa demi keluarga dan masa depan. Unjuk rasa ini untuk menunjukkan tanggungjawab kita kepada pada negara,” kata artis America Ferrera yang hadir dalam unjuk rasa, dilansir dari voaindonesia.com (21/1).

Keresahan wanita-wanita  ini umpama puncak dari segala persoalan. Demonstran bisa dibilang antusias, terhitung dari jumlah mereka yang mencapai setengah juta manusia. Itu adalah angka untuk menyebut perempuan, belum termasuk beberapa pria yang juga turut di dalam unjuk rasa. Mereka dengan perasaannya dilanda sebuah kekhawatiran. Maka, mereka mengira perlu untuk menyuarakan dan menyerukan suara orang-orang tertindas kepada Trump, masalah mengenai persamaan rasial dan gender, perawatan kesehatan yang murah dan hak aborsi.

Beberapa wanita tidak akan melupakan Trump sebagai predator. Krista Suh dan Jayna Zweiman pembuat topi kucing merah muda mengingat sesumbar Trump yang menyesakkan dada. “Cengkeram vaginanya,” kata Trump dalam rekaman audio pada 2005 yang tersebar luas. “Mencipatakan lautan topi merah muda yang akan menjadi pernyataan visual kolektif yang kuat,” ujar Zweiman.

Donald Trump dilemahkan perlahan-lahan. Maskulinitas Trump menjadi sorotan, bahkan bila ditafsirkan berbuah menjadi olok-olokkan. BBC menunjukkannya lewat visualisasi gambar dalam laman beritanya (21/9), Galeri Foto: Bedanya Pelantikan Trump 2017 dengan Obama 2009. Hampir tidak ada yang istimewa dalam gambar-gambar tersebut, kecuali pada jumlah peserta yang menghadiri pelantikan Trump di Gedung Putih. Selebihnya, Anda dapat memberikan tafsiran dan tanggapan sendiri.

Melania Trumps mendampingi Donald Trumps saat pelantikkan Presiden AS ke 45 (sumber gambar: bbc.com)
Melania Trumps mendampingi Donald Trumps saat pelantikkan Presiden AS ke 45 (sumber gambar: bbc.com)

Apa yang mau dibandingkan? Meski tidak ada penjelasan, kehadiran Michelle Obama dan Melania Trump merupakan pertimbangan lain. Bandingkanlah di antara sikap dan wajah kedua wanita tersebut. Yang dimaksud, bagaimana seorang lelaki memperlakukan wanitanya. Melania tidak tersenyum lebar saat Trump mengambil sumpahnya, hal yang berbeda dengan Michelle Obama pada 2009 silam.

Perempuan yang tersenyum, citra bagi seorang perempuan, sebagai seorang ibu negara. Apa arti senyuman tersebut tanpa makna atau barangkali Melanie sebenarnya bahagia? Melihat aksi Women’s March, mereka yang mencibir Donald Trump, mereka yang nampak histeria dengannya, dapat menjelaskannya: Melania tidak sedang bahagia seperti senyumannya.

Perempuan adalah lautan, kata Buya Hamka, bila kita tidak kuat merenangi, kita akan ditelannya. Representasi tersebut dinadakan dengan sama oleh Tuchman bahwa representasi citra perempuan mencerminkan sikap laki-laki dan merupakan misrepresentasi perempuan sejati. Perempuan tertindas.

Maka Women’s March adalah unjuk rasa kaum feminim melawan hegemoni, kekuasaan seorang lelaki yang kali ini disimbolkan oleh Donald Trump. Seksisme datang lagi, perempuan-perempuan ini disejajarkan dengan kejahatan lainnya. Mereka sama sundalnya seperti imigran gelap yang harus dikendalikan.

Melania menyembunyikan dirinya, meskipun ia tersenyum, dalam hatinya mungkin dia tidak seperti senyum manisnya. Ia dikendalikan. Alasan ini menjadi cerminan terhadap Donald Trump, penjelasan konkret terhadap kepribadian presiden AS ini. Sejatinya Melania memilih untuk tetap tenang, diam dalam waktu yang banyak.

Lalu apa mungkin Melania sama khawatirnya, sebagai seorang perempuan, yang menginginkan persamaan gender dan ras seperti yang diminta demonstran Women’s March? Mungkin saja demikian. Mungkin juga ia telah menempuh satu jalan yang sama dengan sang presiden. Namun, apapun yang terjadi Trump telah dan memang harus mengendalikannya, sebagai seorang ibu negara atau ibu atas anak-anaknya.