Bagai memancing di air keruh, telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya bahwa elit Myanmar dan penebar sentimen agama di Indonesia berupaya memanfaatkan konflik Rohingya. Namun, masih terdapat beberapa pihak yang bisa jadi turut melakukannya. Atau barangkali berpotensi besar ikut mengambil keuntungan. Siapa saja mereka? Apa yang bisa mereka dapat?

Erdogan dan Kepemimpinan Dunia Islam

Tak sedikit dari publik di Indonesia yang menyanjung sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam merespon konflik Rohingya. Beberapa bahkan membandingkannya dengan Presiden Jokowi yang dinilai kurang lantang. Dibanding Jokowi, Erdogan memang lebih lantang mengecam tragedi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, yang ia sebut sebagai genosida terhadap komunitas muslim di wilayah tersebut. Tanpa mengingkari perlunya aksi solidaritas yang diserukan Erdogan, kelantangannya bisa jadi bersifat sangat politis.

Di forum partai pendukungnya di Istanbul, yang diliput banyak media, Erdogan berjanji membawa isu Rohingya ke pertemuan negara-negara anggota PBB pada 12 September mendatang. Begitu juga pada saat menghadiri upacara pemakaman tentara Turki, Erdogan mengatakan, “kemanusiaan tetap diam terhadap pembantaian di Myanmar.” Ia juga mengaku telah mendesak para pemimpin dunia, meski menurutnya “tidak semua orang memiliki kepekaan yang sama.” Erdogan pun mengatakan, “Turki tak akan meninggalkan muslim Rohingya sendirian.” Sekilas, pernyataan-pernyataan Erdogan menunjukkan empati kemanusiaan dan solidaritasnya kepada sesama muslim.

Namun, sikapnya merespon konflik Rohingya cukup kontras bila dibanding dengan sikapnya pada konflik Yaman. Sebagaimana dilansir Kompas, dalam konflik Rohingya Erdogan merasa bahwa sebagai negara muslim, Turki ikut bertanggung jawab secara moral. Namun sebaliknya, seperti dilansir Reuters, dalam konflik Yaman yang jelas-jelas mengorbankan orang-orang muslim, Erdogan justru mendukung operasi militer Arab Saudi dalam rangka mengembalikan kekuasaan Presiden Abed Rabbo yang direbut kaum Syiah Houthi. Di saat yang sama Unicef melaporkan terdapat 115 anak-anak Yaman yang tewas.

Di masa pemerintahan Erdogan, politik luar negeri Turki memang dikenal lebih condong ke Timur. Ia juga disebut-sebut ingin mengembalikan kejayaan Ottoman, menjadikan Turki pemimpin dunia Islam. Sayangnya, di Timur Tengah ia masih kesulitan menanamkan pengaruhnya, sehingga harus menjalin hubungan, dulu dengan Saudi, kini dengan Qatar dan Iran. Maka sikapnya merespon konflik Rohingya barangkali memang tak semata-mata karena empati kemanusiaannya atau hanya aksi solidaritas sesama muslim. Kelantangannya mengecam konflik Rohingya tentu bermanfaat untuk menarik simpati komunitas muslim dunia sebagai salah satu langkah untuk menjadikan Turki pemimpin dunia Islam.

Kelompok Ekstremis dan Perolehan Massa

Dalam sebuah konflik yang melibatkan muslim, sangat mungkin kelompok-kelompok ekstremis menjadikannya sebagai medan jihad. Tak terkecuali konflik Rohingya. Januari lalu, otoritas Malaysia telah memperingatkan Myanmar akan ancaman kelompok terorisme ISIS dari jaringannya di Asia tenggara. Seperti dilansir Strait Times, Divisi Kontra-Terorisme Kepolisian Malaysia, Ayob Khan Mydin Pitchay, mengaku telah menangkap seorang pria asal Indonesia yang ternyata pengikut ISIS yang diduga akan berangkat ke Myanmar. Konflik Rohingya memang mengalami eskalasi pada 2012, dan masih berlangsung hingga peringatan Malaysia tersebut disampaikan.

Maha Hosain Azis, seorang profesor dan konsultan politik, mengatakan bahwa potensi ISIS memang besar untuk terlibat dalam konflik Rohingya. Dalam tulisannya yang dimuat Huffington Post, laporan terbaru menunjukkan bahwa saat ini ISIS mungkin sedang berusaha merekrut para korban konflik Rohingya yang telah berhasil melarikan diri dan mengungsi di negara-negara tetangga Myanmar. Rekrutmen tersebut akan menarik bagi para pengungsi Rohingya yang ingin membalas perilaku tidak adil otoritas Myanmar. Selain itu, ISIS yang menawarkan gaji tinggi akan menggoda para pengungsi Rohingya yang hidup miskin dan kelaparan.

Bagi kelompok ekstremis seperti ISIS sendiri, konflik Rohingya dapat dimanfaatkan untuk memperoleh lebih banyak massa dan memperluas jaringan. Memang belum dapat dipastikan ada tidaknya kelompok ekstremis yang memancing di keruhnya konflik Rohingya, tapi tentu mereka memiliki potensi besar untuk melakukannya. Seperti pada konflik Marawi di Filipina yang membuat khawatir Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.