Sosok-sosok molek nan cantik itu memang menawan hati. Mondar-mandir di lorong-lorong gerbong kereta, mereka menjadi penyedap ditengah perjalanan yang menjemukan. Dengan tutur kata yang halus, tawaran untuk membeli camilan di kereta api menjadi tidak terlalu menganggu ketika tidur sedang nyenyak-nyenyaknya, tidak seperti para pedagang asongan. Merekalah para pramugari kereta, salah satu “inovasi” kereta api kekinian.

Kereta api di Indonesia berusaha keras mengejar ketertinggalannya. Setelah berpuluh tahun KAI menjadi operator tunggal tanpa pesaing, kualitas kereta api sungguh menyayat hati. Beberapa tahun lalu, penumpang tidak mampu lagi marah jika kereta datang terlambat. Mereka justru kecewa jika kereta datang tepat waktu. Karena sudah terlanjur mengantisipasi keterlambatan dengan datang ke stasiun melewati jadwal resmi.

Tapi semua berubah sejak Ignasius Jonan menjadi Direktur Utama. Perombakan besar-besaran dilakukan. Salah satu yang paling nyata adalah tentang pengaturan jadwal. Dari yang tadinya terlambat satu dua jam menjadi sangat tepat waktu. Dan itu terasa hingga kini, setelah Jonan beralih mengurus tambang.

Pendingin udara juga menjadi pembeda. Gerbong kereta api dahulu, terutama yang berkelas ekonomi, selalu panas menyengat di siang hari. Jika Anda menempuh perjalanan jauh seperti Jakarta – Surabaya misalnya, bau keringat yang telah kering berjam-jam silam akan melekat di tubuh. Juga aroma gerbong yang merupakan pencampuran dari bau keringat tadi dengan makanan sisa, dan khusus di dekat kamar mandi aromanya akan bercampur air kencing yang telah mengering dari puluhan orang melepaskan hajatnya.

Setelah pembaruan kereta api tak lagi panas, keringat tak mengucur dengan deras. Justru sebaliknya, paara penumpang banyak mempersiapkan selimut sedari berangkat dari rumah. Bagaimana tidak, pendingin ruangan yang dipasang tak lain adalah pendingin yang sama dengan yang dipasang di rumah-rumah.

Setelah kereta menjadi semakin tepat waktu dan nyaman, datanglah mereka para pramugari. Meskipun pelayan di kereta juga juga banyak pria yang lazimnya disebut pramugara, tapi saya tidak tertarik membahas pria. Para pramugari dengan keramahannya itu mampu dengan telak mengalahkan mbok-mbok pedagang asongan yang terlebih dahulu digusur dari lingkungan perkeretaapian, baik di dalam gerbong maupun stasiun.

Penggusuran para pedagang asongan itu sempat berlangsung ricuh di beberapa kota. Banyak dari mereka telah menggantungkan hidupnya selama berpuluh tahun dari orang-orang bepergian dengan kereta api. tapi kritik-kritik itu dengan mudah dikalahkan dengan adegan Jonan yang tidur nyenyak di gerbong kereta waktu itu.

Para pedagangan asongan ini memang mengganggu. Mereka banyak berlalu lalang di gerbong-gerbong dengan tidak teratur. Teriakan-teriakan mereka ketika menawarkan dagangan sering membangunkan penumpang dari tidurnya.

Tapi setidaknya mereka pedagang yang benar-benar berdagang, bukan perusahaan penyedia kereta api yang menyambi berjualan makanan. Harga makanan yang mereka jual benar-benar masuk akal. Seperti segelas kopi yang seharga lima ribu perak.

Setelah kereta api melakukan serangkaian modernisasi, PT Kai tampaknya menyerahkan urusann memamah biak kepada pihak ketiga. Biasanya pihak ketiga itu tergantung pada daerah operasional kereta tersebut berada. Misalkan rangkaian kereta Sancaka untuk rute Yogyakarta – Surabaya yang dioperasikan oleh Daerah Operasional Yogyakarta, maka penyedia makanannya juga pengusaha makanan asal  Yogyakarta.

Proses penentuan itu tentunya melalui proses lelang dan sebagainya. Dimana penyedia makanan yang paling banyak memberikan kontribusi pendapatan bagi KAI akan memenangkan tender. Tapi disitulah masalahnya bagi para penumpang. Harga makanan yang dijual menjadi terlampau mahal. Untuk seporsi nasi goreng telur dan ayam misalnya, harganya bisa mencapai 40 ribu rupiah. Harga yang sesuai dengan standar restoran, dan itu berlaku untuk semua kelas kereta.

Tidak ada opsi lain bagi para penumpang yang kelaparan sepanjang perjalanan selain membeli di restorasi. Para pedagang asongan sudah terlanjur digusur. Membeli di stasiun jelas tidak mungkin karena bisa tertinggal kereta. Bagi beberapa orang, membawa makanan dari rumah menjadi pilihan yang logis.

Memang uraian ini bisa saja diakhiri dengan ungkapan ono rego ono rupo. Mahalnya harga makanan di kereta api saat ini memang berbanding lurus dengan kebersihan makanan yang disajikan. Meskipun dari segi rasa, makanan para pedagang asongan banyak yang lebih enak. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu.

Padahal dengan niatan yang sama untuk menjaga kebersihan dan kualitas perkeretaapian, KAI saat itu memiliki opsi lain. Mengapa tidak berdirikan saja sebuh koperasi pedagang asongan yang nantinya mengelola penjualan makanan di kereta api dengan kualitas yang tentunya diawasi oleh KAI? Dengan demikian bukankah KAI dan para pedagang akan sama-sama untung tanpa ada campur tangan para pengusaha kuliner?

Alasan-alasan inilah yang membuat kecantikan dan kemolekan para pramugari ini menggiring kita menuju nostalgia terhadap mbok-mbok pedagang asongan. Mereka dekil, urakan, berisik, dan seringkali mengganggu. Dan nostalgia itu menambah kegamangan kita saat melihat daftar menu yang menguras dompet. Disitulah, kadang pramugari itu jadi pelampiasan kebencian.