Pada saat itu Presiden Sukarno membutuhkan orang yang “Gila” untuk memimpin Kota Jakarta. Sontak Yohanes Leimena yang menjabat sebagai Menko kabinet Dwikora I lansung menyebut nama seorang Ali Sadikin sebagai sosok yang tepat, selain memiliki latar belakang tentara, Ali pun dinilai memiliki pemikiran yang “Gila”. Dalam hal ini merupakan sosok yang sangat tepat untuk memimpin Jakarta dengan pemikiran-pemikiranya. Sosok yang tegas, keras, lugas dan tidak pernah takut dengan siapapun kecuali dengan Tuhan dan rakyat yang akan dipimpinya. Bang Ali adalah sapaan akrab Ali Sadikin, yang selalu di elu-elukan warga Jakarta, karena dekatnya beliau dengan masyarakat sampai-sampai masyarakat sudah jarang atau bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan “Bapak”.

Ketika Bang Ali memimpin Jakarta, ia memiliki rencana induk pembangunan dari tahun 1965-1985. Bang Ali mencanangkan 60% lahan terbuka hijau di Jakarta, dahulu daerah Kebayoran Baru dan Menteng hanya diperuntukan sebagai kawasan perumahan. Melihat kondisi dua daerah tersebut saat ini yang begitu banyak gedung-gedung perkantoran, tentu saja ini telah melukai hati Bang Ali yang sudah menginginkan daerah ini sebagai perumahan.

Dahulu  Kawasan Setiabudi, Kuningan dan kemang diperuntukan sebagai tempat industri susu, orang Betawi setiap sore mengayuh sepedanya dan mengirimkan puluhan botol susu kepada pelangganya yang tinggal dikawasan Menteng, Kebon Sirih, dan Cikini, sedangkan orang Betawai yang memiliki modal memelihara puluhan sapi untuk menghasilkan susu tersebut. Apabila dilihat di era saat ini, tidak akan ditemukan satu ekor sapi perah di kawasan tersebut.

Kawasan Kapuk Muara dan Pantai Indah Kapuk yang dahulunya sebagai daerah resapan air, sekarang sudah diubah menjadi hutan beton perumahan-perumahan elit. Oleh karena itulah banjir di Jakarta seakan sudah menjadi hal yang biasa. Memang sejak zaman kerajaan Tarumanegara yang tertulis dalam prasasti Tugu, Jakarta pernah mengalami banjir pada saat itu raja Purnawarman pernah menggali Sungai di daerah Bekasi dan Tangerang untuk menanggulangi banjir tersebut.

Lihat skarang warga Jakarta seakan-akan terbiasa dan menjadikan banjir ini sebagai fenomena yang biasa terjadi. Tidak mau di relokasi ke tempat yang lebih layak dan bebas banjir, pola pikir memahami banjir dari pemerintah dan warga patut dipertanyakan. Bang Ali ketika dimasanya memimpin Jakarta telah melakukan penertiban penduduk dikawasan Kamal Muara dan berhasil merelokasi hampir 3000 rumah warga, tanpa adanya kekerasan dan pelanggaran HAM. Ini murni kecerdasan Bang Ali dalam mendekati dan mengambi hati masyarakat. Pemimpin yang tegas, galak, dan lugas terbukti tahu kapan dan siapa yang ia hadapi pada saat itu.

Tulisan ini hanya kerinduan kepada sosok Bang Ali, tidak ada maksud membandingkan dengan pemimpin yang saat ini menjabat. Buah hasil kerinduan yang akhirnya saya menulis sebuah tulisan singkat ini, jadi jangan di salah artikan. Sekali lagi, ini bukan pembanding antara Bang Ali dan Pak Ahok. Murni kerinduan terhadap sosok Bang Ali serorang Purna Tentara Angakatan Laut yang sangat mengerti mau nya Bung Karno untuk Jakarta pada saat itu.