“Saya kenal baik dengan Ucok dari Homicide, dia adalah penulis yang rajin,” cerita Taufiq Rahman pemilik label dan penerbit Elevation, saat diwawancarai oleh Whiteboard Journal. Pada wawancara itu pula ia menceritakan mengenai debut kumpulan tulisan Herry Sutresna atawa sering dipanggil Ucok. Buku itu berjudul Setelah Boombox Usai Menyalak.

Taufiq mendedahkan, hanya butuh waktu satu bulan hingga naskah kumpulan tulisan musik paling ramai dibicarakan itu (setidaknya bagi saya), siap dicetak. Itu karena Ucok memiliki banyak arsip tulisan sehingga Taufiq hanya perlu melakukan kurasi dan penyuntingan aksara. Taufiq pun masih melanjutkan cerita, “Dan, layaknya apapun yang dirilis Ucok, excitement-nya selalu tinggi. Kalau Anda mengalami bagaimana orang mengantisipasi rilisan Ucok, itu sering tidak masuk akal.”

Memang tidak masuk akal! Bahkan ketika Ucok merilis album Discography Homicide melalui label miliknya, Grimloc Records, beberapa waktu lalu, album tersebut langsung habis pada hari perilisan! Untuk yang tidak tahu siapa itu Ucok, semoga kelak kalian mengetahuinya.

Jadi, siapa itu Ucok? Barangkali Taufiq benar, Ucok adalah fanboy hip hop nomor wahid di Indonesia. Bersama Homicide, unit hip-hop paling galak di ranah bawah tanah, ia menyalak, mengkritik apa saja dengan tensi tinggi. Awalnya saya kira buku ini akan menjadi buku kritik musik paling pedas yang akan saya baca, mengingat lirik-lirik bikinan Ucok ketika di Homicide selalu tajam; sekaligus karena keterlibatan dirinya pada Partai Rakyat Demokratik meskipun hanya sebentar. Namun ternyata tidak juga.

Mengamini pendapat Hilmi pada artikelnya, sejujurnya tidak ada hal luar biasa pada tulisan Ucok. Setelah Boombox tak ubahnya fanzine musik yang tentu saja dibikin oleh penggemar musik. Tak banyak kritik politis yang ia lontarkan, meski tak berarti tidak ada sama sekali. Kebanyakan adalah cerita tentang kecintaannya pada musik. Tapi satu hal yang membuat saya suka Ucok, meski saya tidak bisa mencerna hip-hop dengan baik, dia menggemari musik secara luas. Artinya, tidak hanya hip-hop saja yang ia bahas dalam buku ini tapi juga musik-musik lain. Misalnya pengalaman mengharukannya saat menonton Godspeed You! Black Emperor di Malaysia, setengah mati ia nekat mendatangi venue konser karena penyakit asma-nya kambuh dan inhaler-nya sudah tidak berfungsi; atau curhat mengenai Guns n Roses yang merupakan soundtrack kisah cinta dirinya dengan istrinya: atau cerita mengenai sang Ayah yang menggilai Black Sabbath; dan juga tentang menjadi Punk!

Menjadi Punk, yang agak-agak ngiri dan anarki itu? Di zaman sekarang ketika kapitalisme menjadi semacam agama baru, memangnya bisa?

Taufiq Rahman pernah menulis bahwa Punk sudah mati sejak Billie Joel dkk mengenakan pakaian dari butik termahal di Amerika dan bermandikan uang dari label raksasa yang menaungi Green Day.

Tapi, barangkali kita perlu membaca tulisan berjudul Making Punk A Threat Again yang ada dalam buku ini. Ada satu paragraf kesukaan saya yang berjejal dan berdesak pada baris-baris kata dalam buku Ucok tersebut:

“Buatlah band, buat gigs, rilis rekaman kalian, buatlah zine dan media kalian sendiri, berjejaringlah, jaga teman kiri-kanan dan keluarga kalian, bangun kemandirian komunal, organisir komunitas kalian, bergabunglah dengan mereka yang tidak beruntung di hidup ini dan mereka yang berjuang, lawan otoritas yang menindas tanpa pandang bulu dan bersenang-senanglah dengan passion kalian, meski di luar sana kenyataan tak sesederhana itu at least those are things that make you punk! Berhentilah mengemis pada legalitas dan penerimaan.” – Making Punk A Threat Again.

Dan setidaknya, attitude itu masih ada, atau jika tidak, setidaknya kita bisa membayangkan attitude punk masihlah ada.