Sebuah perjalanan panjang telah dilewati para pendekar-pendekar silat dari betawi, hingga sampai pada saat sekarang warisan mereka masih ada. Iya masih ada, akan tetapi tidak di lestarikan. Hanya segelintir pemuda Betawi yang masih ingin menjaga dan mewarisinya. Padahal silat adalah sebuah hal keharusan yang harus dimiliki tiap-tiap pemuda Betawi, Silat Betawi salah satu identitas yang selalu melekat. Selain itu silat Betawi merupakan salah satu alat pada masa kolonial untuk melawan penjajah. Sudah banyak sejarah mencatat aksi-aksi heroik yang dilakukan pribumi Jakarta untuk melawan penjajah pada saat itu.

Dahulu pada masa penjajahan Jepang, mereka sering sekali mencari Heiho untuk menjadi tentara agar dapat membantu melawan musuh-musuh Jepang. Ada seorang jago betawi yang tersohor, yang menarik perhatian dari kaisar Jepang pada saat itu yang akan dijadikan Heiho, alhasil kaisar meminta untuk mencoba “elmu” dari si Pribumi ini. Pada babak pertama beliau di “adu” oleh karateka hebat dari Jepang, dengan mudahnya beliau mengalahkanya. Tak berhenti disitu,  pertandingan kedua pun disiapkan kali ini seorang pria berbadan besar dengan lemak tubuh yang menggantung pada setiap kulit menjadi lawan berikutnya, ia dia adalah pegulat yang biasa disebut “sumo”, tidak perlu waktu lama untuk si jago silat Betawi ini mengalahkanya, cukup dengan tiga gerakan “sumo” terjatuh dan menyerah. Kira-kira siapakah si jago silat Betawi ini?

Jika anak muda atau ibu-ibu sering berbelanja ke pusat grosir Tanah Abang, pastinya tidak sulit mengetahui siapa dia. Di Tanah Abang ada jalan bernama Jl.Sabeni, dialah si jago silat yang mengalahkan para jago dari Jepang. Bukan hanya Sabeni, ada lagi Mad Djaelani yang tinggal tidak jauh dari makam atau pusat buku di Kwitang. Dia adalah Jago silat Mustika Kwitang yang di tahan dan dihukum penjara seumur hidup oleh Belanda karena membunuh seorang yang di duga menjadi mata-mata dari pihak kolonial. Seorang cucu dari Mad Djaelani bernama H.Zakaria, pernah di undang Bung Karno untuk tampil menunjukan kemampuanya. Yang lebih spesial bung Karno sengaja memanggil H.Zakaria untuk menunjukan kemampuanya di depan Prof. Nakagama(Jepang) dan Donn F.Dragen(USA) mereka adalag mahaguru daripada bela diri Karate.

Prof.Nagakama dan Donn F.Dragen dibuat heran kebingungan serta kagum dengan gerakan silat yang di mainkan H.Zakaria. Ketika hendak pulang meniggalkan Istana Presiden Prof.Nakagama berbisik kepada Bung Karno “mainan kalian lebih baik, kenapa anak mudanya harus belajar karate? Main kan saja itu”. Dengan gayanya yang parlente sontak bung karno hanya tersenyum kegirangan karena untuk kesekian kalinya orang Indonesia diakui kehebatanya. Hal ini dilakukan Bung Karno untuk menunjukan kekuatan bangsanya, agar semua tahu dalam bidang apapun Indonesia memiliki kekutan dan kehebatan yang tak kalah dengan negara lain.

Melihat untaian cerita di atas adanya kita sebagai kaum muda Betawi harusnya merasa bangga dan melestarikan budaya moyang kita. Bukan malah bangga dengan budaya orang lain. Jika keadaan seperti ini terus, di masa mendatang tidak ada lagi anak cucu dari Betawi yang kenal Silat Sabeni, Mustika Kwitang, Golok Sliwa, Cingkrik, Beksi, Jalan Enam. Sudah saatnya sebagai generasi penerus, peduli terhadap warisan nenek moyang. Agar tetap lestari dan tetap ada ditengah-tengah kemajuan zaman yang begitu cepat.

“Ke pasar minggu beli sawi

Pulangnye mampir beli pepaya

Eh nyok pemuda Betawi

Saat nye warisiin Budaya !”

-Pantun Bocah-

Sumber Foto : Istimewa