Indonesia dihadapkan pada persimpangan dua jalan. Seumpama berada di roda empat, kita rakyatnya adalah penumpang, sementara presiden dan jajarannya bertindak sebagai supir dan kondektur.

Jalan yang satu menuju suatu kebesaran bernama investasi dan pembangunan. Cerita ini dimulai di KTT APEC dua tahun silam, beberapa bulan setelah Jokowi menyandang jabatan Presiden.

Pergerakkannya pelan namun pasti. Proyek seperti tol laut, MRT di Jakarta, tol-lintas Sumatera dan Jawa, pembangunan pabrik semen dan sebagainya adalah contoh besarnya.

Tadi (31/3), Presiden Jokowi menyambut kedatangan Ketua Parlemen Bahrain. Seucap harapan, semoga pemerintah Bahrain dapat meningkatkan investasinya di negeri ini. Begitu juga dengan kunjungan bersejarah Presiden Prancis Francois Hollande tiga hari lalu dapat menyegarkan industri kreatif dan pariwisata di tanah air.

Meski cukup menyenangkan, ingatlah bahwa kita berada di persimpangan. Jalan kedua itu juga tidak kalah besar tujuannya. Kondisinya sudah cukup usang, mungkin karena sudah terlalu lama. Pertama kali dilewati sebelum kemerdekaan sampai 10 tahun setelahnya. Jalan yang lapuk dan berorok-orok itu bernama persatuan dan kesatuan.

Kita sudah terbiasa melewatinya. Di kiri-kanan berserak cerita-cerita patriotik dan utopis, bagaimana perjuangan itu mampu menyatukan. Misalkan Sumpah Pemuda 1928 yang itu hanyalah cerita dan peristiwa lalu.

Namun kurang pas nikmatnya. Apalagi setelah berpuluh tahun kelahiran manusia milenial, aura nasionalisme itu terasa hambar. Memenuhi tawaran untuk masuk pihak dan aliran ini-itu justru lebih berwibawa. Dan memang berbeda itu indah.

Sekarang, jalan mana yang harus dilewati negara ini?

Jangan mengira bahwa kita masih meraba-raba, tidak tahu seperti apa keadaan jalanan tersebut. Keduanya hanyalah nostalgia sejarah yang bagaimanapun akan selalu muncul dalam benak hati masyarakat.

Melewati jalan pertama, mungkin teringat dengan Orde Baru yang menyiksa. Apapun akan terjegal selama tidak mendukung kepentingan pembangunan. Sejarah mencatat bahwa orde ini dikenal suram karena menjagal kebebasan berpendapat dan berkumpul, aneka sensor pers disana-sini dan pelanggaran HAM berat yang masih membekas.

Kalau memang begini ceritanya, tentu saja tidak banyak yang sepakat. Maka lebih baik memilih jalan kedua, yang mungkin dapat memberikan suasana penuh romantis di negeri ini.

Namun, keadaannya berbeda. Sejarah yang dikenang manis itu tentu akan memberikan trauma dan ketakutan tersendiri. Narasinya lebih banyak merekam jejak patriotik yang berapi-api ketimbang karya yang membanggakan.

Siapa juga yang menjadi lawan? Tidak ada. Yang diharuskan adalah upaya kita untuk meruntuhkan sikap-sikap intoleran, diskriminatif dan kerakusan akut. Untuk apa kita melewati jalan ini kalau saja hasilnya pun tidak sebanding?

Ah, semakin rumit menentukan jalan tersebut. Sudahlah di persimpangan juga merasa pesimis dan khawatir. Bak menelan buah simalakama. Sayangnya, kita pun sudah familiar dengan rasanya: tidak enak!

Inilah pesan kepada Presiden Jokowi, ambil satu jalan. Kita sudah bosan dan muak membanding-bandingkan cerita satu sama lain. Cerita yang lebih lengkap dan panjang berada di tangan Anda yang sungguh masih tersembunyi.

Kita yang pusingnya sama dengan kondisi sepakbola tanah air dulu. Mau profesional dengan menciptakan LPI disebut ilegal. Konflik internal yang selalu menyeret-nyeret penurunan prestasi. Padahal prestasi menurun sudah menjadi tontonan sehari-hari.

Sekarang, sudah beda cerita. Ketum PSSI Edy Rahmayadi sudah leluasa menancap gas. Jalannya adalah jalan persatuan, investor mau tidak mau harus turut. Kompetisi Liga 1 harus berjalan, itulah tujuannya.

Sangking kuatnya, Edy sampai meminta FIFA memberikan lampu hijau soal lima kali pergantian pemain dalam satu pertandingan. Menurut aturan, sebuah tim hanya dapat melakukan tiga kali pergantian, terkecuali untuk laga-laga non resmi.

Kapan lagi kita dapat menggertak lembaga internasional? Mungkin dari sini kita dapat menjadi pelopor untuk diikuti negara lainnya. Melihat digdaya FIFA sudah cukup membuat nyali negara-negara dunia ketiga menciut. Dan pernyataan Edy tadi menjadi suatu pertanda perlawanan serius yang tidak boleh dianggap kalengan.

Eitts! Hati-hati tentunya, di luar itu mulai tercium pengalihan isu. Atau memang isu tersebut dipanaskan pihak yang berseberang. Tapi, kepala kita sebenarnya sudah gundul berkali-kali dengan istilah pengalihan isu.

Daripada bersilat jempol melulu, yang terpenting adalah gas terus. Pak Presiden, proses tidak akan mengkhianati hasil. Sudah takdirnya selalu ada pihak yang tidak puas dengan keputusan. Kan berbeda itu indah.